Wier Pibimitu 2100

Wier Pibimitu 2100
Ch. 7 - Kegilaan Dimulai


__ADS_3

Salah seorang Prajurit Berzirah Krim langsung bergerak ke depan Larius. Ayunan pentungan dari Pria Berzirah Besi dapat ditahan dengan perisai yang dimunculkan dari tangan kiri Prajurit Berzirah Krim yang berada di depan Larius. Prajurit tersebut terhempas, terbang melewati atas kepala Larius dan prajurit-prajurit lainnya. Para prajurit lainnya melihat Prajurit yang Terhempas dengan sedikit melongo dan tatapan tidak percaya.


Ketika perhatian dari para prajurit sedang terlaihkan dengan Prajurit yang Terhempas, tiba-tiba sebuah shockwave muncul dan membuat para prajurit sedikit terdorong ke belakang. Shockwave tersebut cukup kuat hingga mampu membuat mobil-mobil yang sedang parkir sedikit bergoyang.


"Ka-Kapten Larius!" teriak para prajurit melihat Larius yang beradu senjata sarung tangan besi miliknya melawan pentungan milik Pria Berzirah Besi. "Ahahaha! Apa hanya segini kemampuanmu, Orvard?!" teriak Larius yang menambahkan kekuatan pukulannya dan menghempaskan Pria Berzirah Besi. Pria Berzirah Besi menahan hempasan dengan menekankan pentungannya ke tanah sampai membuat garis.


"Wahahaha! Larius ... senjata dikasih sama atasan jangan banyak gaya!" ejek Orvard dengan melebarkan kedua tangannya dan membuat shockwave yang membuat mobil-mobil yang terparkir membunyikan alarmnya. "Cih, setidaknya aku bukan seorang pengkhianat!" teriak Larius yang kemudian berjalan, berlari, lalu lompat ke arah Osvard dengan tangan kanan yang siap memukul.


Pertarungan keduanya sedang bertarung hingga membuat jalanan kota macet dan membuat para prajurit bawahan Larius menjadi sibuk. Bukan untuk mengurusi yang terluka atau membantu serta mengevakuasi para penduduk sekitar, tapi menahan orang-orang yang sangat antusias melihat pertarungan Larius dan Osvard. Di dunia penuh kegilaan, pertarungan yang hebat menjadi tontonan yang tidak boleh dilewatkan, walau nyawa menjadi taruhannya.


"Arvus, ayo!" Zarvi langsung berlari. Arvus mengikuti Zarvi dari belakang dan keduanya langsung menaiki mobil milik Zarvi. "Sial!" ucap kesal Zarvi yang kemudian memukul mobilnya. Tekikik ... brem ... mobil Zarvi kembali menyala. Zarvi langsung menancap gas dan membanting setir untuk melarikan diri.


***


Singkat cerita, keduanya telah sampai di depan rumah. Zarvi menghela dan menghembuskan nafas. Arvus yang kebingungan mengapa mereka harus melarikan diri seperti buronan, bertanya kepada Zarvi. "Mengapa kau buru-buru sekali?" Dan dijawab oleh Zarvi, "Kalau tidak buru-buru ...,"--tatapan Arvus semakin serius--"mobilku akan rusak."


Heh ...? batin Arvus dengan tatapan kosong. "Ayo turun, kita cek levelmu statusmu di dalam." Ajak Zarvi yang sudah menapakkan kakinya di luar.


"Kami pulang," ucap Zarvi dengan membuka pintu. "Oh, selamat datang!" Bebarengan dengan ucapan sambutan Chipper, bunyi keras pisau yang diayunkan ke talenan terdengar. Suara keras tersebut membuat Arvus yang masih berada di luar terkejut. Ia yang penasaran langsung berlari ke dalam dan betapa terkejutnya ia melihat kondisi ruangan yang tadinya sangat bersih, hanya dalam beberapa saat sudah berubah menjadi tempat tumpukan mayat lagi.


"Arvus! Apa kau mau mencoba ini?" tawar Chipper dengan pisau daging yang ditunjukkan dengan penuh darah. Belum terbiasa dengan senyuman dan suasana tersebut, Arvus merinding bahkan merasa mual. "Oi, Chipper, senyumanmu itu terlalu menakutkan. Apa kau tak ingat pernah membuat lawan pingsan hanya dengan senyuman?" Zarvi menyela dan melempar baju yang dilepasnya ke tiang baju.


"Bisakah kau menepi, Arvus?" Suara cukup serak dengan udara dingin yang tiba-tiba muncul membuat Arvus tambah merinding. Arvus secara terbatah-batah melihat ke belakang. Sosok dengan mata berwarna merah menyala membawa mayat dengan cara seperti menggendong tas tenteng di pundak.


"Rodri ...," ucap Zarvi yang berdiri di depan pintu menuju ruang tempat Arvus bertemu pertama kali dengannya. "Ahahahaha! Maaf-maaf ..., tapi aku beneran ini. Bisakah kau menepi? Benda ini berat sekali soalnya." Arvus langsung menepi dan Rodri berjalan melewati Arvus. Mata yang sudah bak ikan mati menatap langsung Arvus yang gemetaran bersandar pada kusen pintu.


"Arvus, kemarilah." Suara Zarvi terdengar dari dalam ruangan melalui pintu yang dibiarkan terbuka. Arvus masuk ke dalam ruangan dan duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Zarvi. Zarvi menyodorkan salah satu gelas air berwarna agak hitam yang ada di tangannya kepada Arvus.


"Buka Veradamu," ucap Zarvi dengan meneguk minuman. Arvus membuka Verada miliknya. "Sekarang, periksa di bagian sub-menu status." Zarvi ikut mengeluarkan Verada miliknya. Arvus mengeklik status miliknya dan tiba-tiba, di bagian kolom 'exp' yang masih kosong bertambah dengan cepat dan langsung sepenuhnya terisi bahkan hampir mengisi kolom yang baru.

__ADS_1


"Level 2? Secepat ini?!" ucap Arvus dengan sedikit terkejut. "Ya, tentu saja. Untuk seorang pemula ini wajar. Namun, jangan kaupikir bahwa ke depannya akan semudah ini." Zarvi memperingatkan Arvus. "Coba geser ke salindia berikutnya. Di situ kamu bebas meningkatkan status sesuai keinginanmu." Arvus menaati petunjuk dari Zarvi dan menemukan ada enam pilihan serta diagram berbentuk hexagon.


Salindia pertama:


[Name: Arvus]


[Race: Human]


[Level: 2]


[Exp: 100/300]


Salindia kedua:


[Diagram berbentuk hexagon]


[Luck: 1]


[Speed: 3]


[Agility: 3]


[Strength: 1]


[Endurance: 2]


Poin: 5


Hm ... aku punya 5 poin ... kalau salah, sepertinya tak bisa diulang. Setelah berpikir selama beberapa saat, Arvus terlihat menggerakkan jarinya dan mengetuk layar Veradanya. "Baiklah, sementara begini dulu saja!"

__ADS_1


"Apa kau sudah memperbarui statusmu?" Zarvi menaruh Verada miliknya. "Ya, oh, ada pesan yang masuk," ucap Arvus yang kemudian mengetuk di bagian kotak pesan. "Oh, ini darimu. Kukira dari siapa," ucap Arvus. "Di dunia ini yang baru mengetahuimu hanya aku, Chipper, Rodri, dan Tuan Auctrix saja. Jadi apa yang kauharapkan."


"Ahaha ... kan, siapa tahu ,,,," jawab Arvus dengan sedikit tertawa. "Baiklah, levelmu sudah ditingkatkan artinya kita bisa lanjut ke tahap selanjutnya." Zarvi berdiri dari tempat duduknya dan meregangkan tubuhnya. "Tahap selanjutnya?" tanya Arvus dengan wajah heran.


***


Tempat macam apa ini ...? Arvus memasang wajah terkejut dengan apa yang sedang dilihatnya. Ia berdiri dengan sedikit lemas di sebuah tempat dengan papan penyambut bertuliskan "Markas Geng Yugos". "Rodri, hari ini aku akan mendapatkan hasil buruan yang lebih banyak darimu." Tantang Rodri dengan mengisi ulang peluru tembakan miliknya. "Hah ... jangan bermimpi. Sudah berapa kali kau bilang seperti itu dan hasilnya selalu sama." Zarvi berjalan menuju ke kerumunan orang yang sudah bersiap dengan senjatanya.


"Te-tembak!" teriak salah seorang yang merupakan pemimpin geng. Tembakan dari para bawahannya diluncurkan secara bersamaan. Bush ... kepulan asap menutupi pandangan dari orang-orang Geng Yugos. "A-apakah berhasil ...?" tanya salah seorang anggota geng. Srok! Sebuah besi dengan bentuk seperti ujung anak panah tiba-tiba menembus kepulan debu dan menancap tepat di tengah dahi salah satu anggota geng.


"Se-senjata itu! Kalian semua, berlindunglah!" teriak Pimpinan Geng. Jrreet ... sebuah sambaran listrik langsung menyebar secara acak. Mereka yang tak sempat berlindung langsung gemetar dan mengalirkan listrik ke yang disentuhnya. Ujung anak panah tersebut terhubung dengan sebuah tali, sebuah tali yang dapat mengalirkan listrik dengan tegangan yang cukup tinggi hingga mampu membuat orang pingsan.


"Sialan! Kau selalu saja mencuri start!" teriak Rordri dengan kesal. Ia langsung berlari menembus kepulan asap. Melihat adanya yang datang bak seekor badak yang berlari, Pimpinan Geng langsung menyuruh anak-anak buahnya untuk bertarung. "Bagi dua kelompok! Hentikan listrik dan hentikan orang itu! (Rodri)" teriak Pimpinan Geng. "YA!"


"Orang lemah seperti kalian tak akan bisa menghentikanku, Bodoh!" teriak Rodri melihat tiga orang yang mencoba menghadangnya. Rodri dengan tanpa ampun langsung menubruk ketiga orang yang mencoba menghadangnya bak badak yang mendobrak lawannya. Ketiganya terhempas dan menabrak beberapa anggota geng lainnya. Rodri menghentikan langkahnya dan bersiap untuk kembali mendobrak prajurit yang membentuk barikade yang lebih besar dan lebih kokoh.


"Arvus! Apa kau tak ingin ikut bersenang-senang?!" teriak Rodri yang kemudian melaju ke arah barikade dengan dibentuk oleh lebih dari 10 orang.


 


---------=======-----------


AUTHOR :


Terima kasih telah membaca sampai chapter ini. Semoga betah dan terus membaca hingga chapter terakhir. Mohon dukungan dari teman-teman ya! Dan untuk kritik serta saran, bisa dicantumkan di kolom komentar!


Terima kasih!


----------=======-----------

__ADS_1


__ADS_2