
Arvus tidak mempedulikan teriakan orang tersebut, terus berjalan walau harus menyeret kakinya. Ayunan tangan Pria Bersuara Agak Nyaring sudah hampir menyentuh bagian belakang kepala Arvus. Dak! Pria Bersuara Agak Nyaring terkena tendangan telak di perutnya hingga menabrak tiang lampu jalan.
Arvus menghentikan langkah kakinya, menoleh ke belakang melihat seseorang yang menyelamatkannya. Seorang wanita dengan rambut biru dengan sedikit garis hijau membunyikan lehernya dan bersiap melanjutkan hantamannya ke Pria Bersuara Agak Nyaring. Arvus sedikit membungkukkan badannya, memberi isyarat berterima kasih. Wanita Berambut Biru menjawab dengan sedikit melirik Arvus, "Pergilah."
Arvus kembali menghadap ke depan dan melanjutkan langkah kakinya. Sementara Arvus sudah berjalan cukup jauh, Pria Bersuara Agak Nyaring merasakan pusing dan mencoba berdiri. "Sialan ... siapa yang berani menyerangku?!" teriak Pria Bersuara Agak Nyaring. Pria Bersuara Agak Nyaring takut dan gemetar tatkala melihat orang-orang telah mengepungnya. Tatapan siap membunuh, membuatnya menelan ludah. Dengan mempertahankan harga dirinya, ia memalingkan wajahnya dan berjalan secara tergesa-gesa menabrak dan membuka jalan dari kerumunan orang yang mengepungnya.
***
Arvus telah sampai di depan stasiun, berjalan melewati kerumunan walau sempat terhempas ke sana kemari, Arvus tetap berusaha tegap untuk melanjutkan langkahnya memasuki ke kereta yang menuju ke stasiun yang berdekatan denga pusat pengobatan.
Langkahnya terhenti di depan gerbang menuju ke peron stasiun. Sebuah hologram berwarna merah tiba-tiba muncul begitu Arvus ingin memasuki gerbang. Tubuhnya tertabrak dan tak bisa masuk, seolah ada syarat agar ia bisa masuk. "Minggirlah," ucap seorang Pria Berambut Tipis menyingkirkan Arvus dari jalannya. Pria tersebut mengeluarkan Verada miliknya dan menempelkan layarnya ke sebuah layar kecil yang terpasang di bagian kanan gerbang.
Pria Botak dapat masuk dan berjalan dengan tergesa-gesa bahkan sampai menabrak beberapa orang yang ada di peron. Arvus yang mempelajari hal tersebut, langsung mengeluarkan Verada miliknya. Ia berpikir apa yang harus ia lakukan? Apakah tinggal menempelkannya saja atau ada yang lainnya. Ia kemudian teringat dengan "Bantuan" yang ada di dalam Verada. Ia mengetuk tombol bantuan dan mencari panduan agar bisa menuju ke peron.
Setelah menemukan caranya, ia langsung mengunduh aplikasi bernama Trenul. Hanya dalam waktu sekejap, aplikasi sudah terpasang. Arvus membuka aplikasi tersebut dan membeli tiket masuk dengan berlangganan selama satu bulan.Dengan membeli tiket berlangganan selama satu bulan, Genia (uang dunia Wier Pibimitu) langsung habis. Arvus tak mempedulikan hal tersebut dan langsung menempelkan Verada miliknya seperti Pria Botak tadi.
Ia bisa masuk, tapi Hudge tidak bisa. Arvus mencoba menempelkannya sekali lagi dan Hudge bisa masuk. Arvus sempat goyah karena Hudge yang tadi tersangkut tiba-tiba bisa masuk. Beruntung, kereta menuju ke stasiun terdekat datang tepat ketika Arvus dan Hudge sudah melewati gerbang masuk. Arvus langsung bergegas secepat yang ia bisa untuk memasuki kereta.
Sesampainya di dalam kereta, Arvus langsung menyandarkan Hudge ke kursi dan duduk dengan nafas terengah-engah.
__ADS_1
Sambungan dari pembukaan chapter 1 ...
Beberapa orang di dalam gerbong kereta teralihkan perhatiannya terhadap badan Arvus dan Hudge yang penuh luka. Namun, seperti sebagaimana orang-orang pada umumnya, mereka hanya bersimpati tanpa berempati. Beberapa menit kemudian, terdengar suara "Satu menit lagi kita akan sampai ke Roumas Timur." Arvus menarik nafas dan bersiap untuk kembali berdiri.
"Maaf ..." ucap Hudge secara lirih ketika Arvus akan merangkulnya. "Simpanlah tenagamu," jawab Arvus. Keduanya berdiri dan kereta telah sampai. Keduanya berjalan keluar dari gerbong kereta dengan terengah-engah dan kesulitan.
Sepertinya itu tempatnya ... batin Arvus yang sudah berada di luar stasiun. Keduanya berjalan dan telah sampai di depan pusat pengobatan. Sebuah papan nama digital bertuliskan Healthy Center dengan beberapa orang yang berjalan keluar masuk ke dalam pusat pengobatan. "Tahanlah sedikit lagi," ucap Arvus dan dijawab oleh Hudge, "Tentu."
Keduanya telah masuk ke dalam pusat pengobatan dan kebingungan tepat di depan pintu masuk. Arvus kembali memeriksa Veradanya tapi tiba-tiba seseorang masuk dan menabrak Arvus dan Hudge dengan kasar. Orang-orang ini ... batin kesal Hudge. Ketika Arvus sedang mencari cara untuk mendapatkan pengobatan, tiba-tiba seorang bruder datang menghampiri. Mengenakan seragam putih dengan sedikit garis biju yang membelah dari kerah kiri hingga celana bagian samping.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Bruder. "Ah, kami ... ingin melakukan pengobatan," jawab Arvus dengan memasukkan Verada ke kantungnya. "Silakan ikuti saya," ucap Bruder dengan sedikit membungkuk. Mengikuti Bruder dari belakang, Arvus dan Hudge berjalan di sebuah lorong yang sangat bersih dan terdapat beberapa pintu di sepanjang lorong. "Silakan," ucap Bruder dengan membuka salah satu pintu.
Ia dapat kembali fokus dan bersikap layaknya dokter pada umumnya. "Perjalanan yang berat bukan?" tanya Dokter Pria dengan mempersiapkan alat-alatnya. Arvus dan Hudge tak menjawab, keduanya sudah terlanjut tepar di atas kasur. Dokter tersenyum tipis, kagum dengan dua orang yang dapat berjalan sampai ke tempatnya dengan luka sebanyak itu.
Pengobatan dimulai. Dari lantai yang berada di dekat masing-masing kasur Arvus dan Hudge, muncul sebuah robot yang kemudian memindai seluruh tubuh Arvus dan Hudge. Setelah selesai memindai, robot tersebut masuk kembali ke dalam lantai dan sebuah robot berbentuk setengah tabung seukuran kamar muncul dari bagian pinggiran kasur.
Robot tersebut masuk kembali ke pinggiran kasur. Sebuah robot berukuran cukup besar hingga harus diangkat oleh dua orang muncul dari langit-langit ruangan. Ujungnya berbentuk agak lancip dan dapat mengeluarkan laser hijau yang digunakan untuk mengobati luka-luka di bagian luar. Sementara robot laser sedang mengobati luka-luka luar secara perlahan, Dokter Pria memeriksa sebuah tablet yang berada di atas meja kecil di dekat Arvus dan Hudge. Tablet tersebut menampilkan data Arvus dan Hudge.
Dokter Pria sedikit geleng kepala tatkala mengetahui luka-luka yang diderita oleh Arvus dan Hudge. Dokter Pria melanjutkan pengobatan dengan mengobati luka bagian dalam yang dialami oleh Arvus dan Hudge. Pengobatan bagian dalam dilakukan dengan menggunakan robot kecil yang disuntikkan ke dalam tubuh Arvus dan Hudge. Pengobatan dari dalam dilakukan oleh robot yang dimonitori dan diarahkan oleh Dokter Pria.
__ADS_1
***
Dengan membuka matanya secara perlahan, Arvus melihat ke sekitarnya dan ia melihat Hudge yang masih tertidur. Arvus mencoba untuk setengah duduk, tapi rasa sakit yang ia rasakan membuatnya sedikit mengeluarkan suara kesakitan. Tirai yang ada di hadapannya tergeser. Seorang pria dengan pakaian putih polos berjubah dan berkacamata muncul. "Tenanglah, tubuhmu masih dalam proses penyembuhan," ucap Dokter Pria.
Mendengar ucapan tersebut, Arvus kembali membaringkan tubuhnya. "Luka-lukamu ... itu bukanlah luka yang didapatkan dari pertarungan biasa. Dari mana kau mendapatkan luka-luka itu?" tanya Dokter Pria dengan memeriksa tablet yang menunjukkan kondisi Arvus. Arvus tak menjawab dan hanya menatap langit-langit ruangan. Dokter Pria menurunkan maskernya dan berkata, "Beristirahatlah selama yang kau mau, dan soal biaya pengobatan ... kau tak perlu mengkhawatirkannya."
"Kenapa ...?" tanya Arvus dengan tetap menatap langit-langit ruangan. Dokter Pria tersenyum, membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju ke tirai. Sebelum ia menutup tirai, ia menjawab pertanyaan Arvus.
"Karena Zarvi telah membayar semuanya."
---------=======-----------
AUTHOR :
Terima kasih telah membaca sampai chapter ini. Semoga betah dan terus membaca hingga chapter terakhir. Mohon dukungan dari teman-teman ya! Dan untuk kritik serta saran, bisa dicantumkan di kolom komentar!
Terima kasih!
----------=======-----------
__ADS_1