Wier Pibimitu 2100

Wier Pibimitu 2100
Ch. 3 - Apa yang Terjadi?


__ADS_3

Cahaya terang yang membuat pikiran Arvus melayang perlahan mulai menghilang. Binar-binar yang ada di kedua mata Arvus juga mulai lenyap. Menyisakan kegelapan malam yang sangat bertolak belakang dengan terangnya perkotaan. Hanya ada kedinginan malam dengan jalanan kosong dengan tanah sekitar yang tandus. Arvus yang tak bisa bergerak serta kehilangan keindahan yang mengalihkan pandangannya, baru teringat tentang nasibnya.


Ke mana ... ke mana truk ini akan membawaku ...? batin Arvus dengan menelan ludah


Setelah lebih dari tiga jam berada di perjalanan dengan badan yang tak bisa bergerak, Arvus melihat pantulan cahaya dari kejauhan. Posisi tubuh (kardus) Arvus yang menghadap ke samping bak mobil, hanya bisa membuatnya melihat pantulan cahaya yang ada tanpa tahu dari mana sumber cahaya tersebut. Berpikir ... apa yang harus aku lakukan?! batin Arvus mencoba menggebrak dirinya.


Bremm. Kendaraan yang mengangkut Arvus berhenti di pinggir jalan, depan sebuah bangunan yang terhitung tua apalagi untuk dunia yang sudah sangat modern. Rumah tersebut nampak seperti rumah kayu dengan pancaran cahaya yang muncul dari balik jendela persegi di kedua sisi bagian depan rumah. Terdengar suara yang cukup bising pula dari dalam rumah tersebut.


Grek. Terdengar suara pintu mobil terbuka. Tuan Berjubah turun dari mobil dan membuka bagasi bagian mobil. Dua orang bertubuh besar datang dan secara bersamaan menurunkan Arvus. Arvus dibawa masuk ke dalam rumah tua yang sejak tadi ... sudah ia curigai dan memiliki firasat buruk mengenainya.


Pintu terbuka dan pemandangan yang ada membuat Arvus menganga dengan mata yang ketakutan. Organ tubuh berada di mana-mana, suara yang ia dengar ternyata adalah suara teriakan orang ketakutan, kepala yang menggantung di sepanjang pagar lantai dua dengan kertas harga yang menempel di dahinya, dan beberapa robot yang terlihat terbaring lemas dengan cipratan listrik kecil.


Arvus ketakutan. Sangat ketakutan. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia sadar bahwa jikalau ia melawan dan bertindak gegabah, maka nasibnya akan sangat mengenaskan. Namun, ia juga harus bertindak. Akan tetapi, salah satu gerakan saja ... nyawa taruhannya. Belum lagi, ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya. Apa ... yang orang-orang ini rencanakan pada dirinya.


"Bahahahaha! Sangat menyenangkan sekali ketika memotong yang terakhir itu!" tawa keras dari Pria Buncit Berapron Penuh Bercak Darah. Arvus tak bisa menyembunyikan perasaan jijiknya melihat mata melotot yang kepalanya sudah terpisah dari badannya. Sebuah tatapan bak ikan yang sudah mati.


"Chipper, tuan Auctrix sudah datang. Bersihkan pakaianmu!" teriak salah seorang Pria yang Membawa Arvus. Chipper (Pria Buncit Berapron) menjawab dengan senyuman gila, "Oh! Tuan Auctrix sudah datang? Dia pasti akan senang dengan hasil kerjaku!"


"Minggirlah." ucap Auctrix yang terhalangi jalannya. Dua Pria yang Membawa Arvus langsung menyingkir ke samping dengan cukup ketakutan. Mereka meminta maaf dan Auctrix tidak mengacuhkannya. Auctrix membuka jubah yang menutupi hampir seluruh tubuhnya.

__ADS_1


"Ada barang baru yang cukup bagus. Aku ingin kau memeriksanya." ucap Auctrix dengan menaruh jubahnya ke gantungan tiang baju. Tangan besi dengan lingkaran biru menyala di kedua lengan atasnya. Garis biru menyala mengalir dari lingkaran biru tersebut ke kelima jari Auctrix. Mata kanan yang berwarna biru menyala dengan kedua kaki yang sudah berganti kaki besi (robot).


"Ohoh! Apakah yang ada di dus itu?" tanya Chipper dengan mengacungkan pisau dagingnya ke arah Arvus. Arvus merinding bukan main. Tatapan, senyuman, serta pisau yang penuh darah membuat Arvus gemetaran. "Ya, aku memiliki prasangka unik tentang orang (di dalam dus) ini." Sosok yang membuat Auctrix tertarik, membuat Dua Pria yang Membawa Arvus serta Chipper terkejut.


"Aku mengerti, Tuan!" jawab Chipper dengan bersemangat. Auctrix menyuruh kedua Pria yang Membawa Arvus untuk mengeluarkan Arvus. Dua Pria yang Membawa Arvus merobek bagian bahwa dus Arvus dan perlahan mengangkat dus tersebut.


Apa ... yang akan terjadi padaku ...? Mereka ... mereka tidak akan mencincangku, kan? batin Arvus dengan terus ketakutan. Bagian bawah kardus mulai terangkat. Gemetar yang dialami Arvus semakin kencang. Kardus semakin lama semakin terangkat tinggi hingga menampakkan seluruh tubuh dari Arvus.


"Sudah kuduga." ucap Auctrix dengan sedikit menyipitkan kedua matanya. Chipper serta Dua Pria yang Membawa Arvus tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Apa ... apa yang terjadi ...? Sialan! Aku benar-benar bingung! batin Arvus dengan ekspresi ketakutan.


"Anak Muda," Auctrix menatap Arvus dengan cukup tajam. Arvus menelan ludah. Sekarang adalah saatnya. Momen yang sejak tadi ia cari. Salah satu langkah, salah menjawab, nyawa taruhannya.


DAR! Tembakan laser dengan cepat melewati tepat di bagian samping kiri kepala Arvus, bahkan sampai membuat sedikit bekas luka di pipi kiri Arvus. SA-SAAKIIT!! batin Arvus dengan berteriak kesakitan dan menatap ke bawah. Ekspresi menahan rasa sakitnya tak bisa ia sembunyikan. Namun, karena ekspresi tersebutlah Auctrix dapat yakin dengan prasangkanya.


"Lepaskan dia," Auctrix membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju ke ruang pribadinya. "Ba-baik, Tuan!" jawab Dua Pria yang Membawa Arvus dan Chipper secara terbata dan bersamaan. Ketiganya langsung menuju ke Arvus dan membuka pengekang yang menawan Arvus. Arvus yang sejak tadi menatap ke bawah, tiba-tiba merasakan ada yang menggerakkan tangan dan kakinya.


"A-apa ... apa yang kalian lakukan?" tanya Arvus dengan ekspresi ketakutan. "Tenanglah, kami tidak akan mengapa-apakanmu." jawab salah seorang Pria yang Membawa Arvus. Tak butuh waktu lama untuk ketiganya melepas ikatan yang mengekang Arvus. Arvus secara tak sadar, langsung keluar dari dus dan sempat mau terjatuh sampai-sampai membuat Kedua Pria yang Membawa Arvus sempat mau menadangnya.


"Minum, akan aku ambilkan minum!" Chipper langsung berlari menuju ke dapur. Arvus melihat Chipper yang berlari pergi dengan ekspresi kebingungan. Ia kemudian melihat ke kedua orang yang membawanya dengan ekspresi yang juga kebingungan.

__ADS_1


Apa ... apa yang sebenarnya terja .... batin Arvus yang kemudian terjatuh pingsan.


***


"Hah!" ucap secara lirih, tapi keras dari Arvus dengan membuka kedua matanya secara tiba-tiba. Ia langsung duduk dari tidurnya dengan kaki yang tetap terlentang. Ia melihat ke sekitar dan baru mengingat bahwa ia baru saja melewati malam yang baginya panjang. Ia merasakan sesuatu yang empuk di bawahnya dan ia menyadari bahwa ia sedang berada di atas kasur.


"Apa yang ...," Arvus dengan frustasi menjambak rambutnya dengan kedua tangannya.


" ... sebenarnya terjadi?" sambung Auctrix yang sedang duduk membaca buku di kursi samping tempat Arvus berbaring.


---------=======-----------


AUTHOR :


Terima kasih telah membaca sampai chapter ini. Semoga betah dan terus membaca hingga chapter terakhir. Mohon dukungan dari teman-teman ya! Dan untuk kritik serta saran, bisa dicantumkan di kolom komentar!


Terima kasih!


----------=======-----------

__ADS_1


__ADS_2