
DAM! Ledakan yang cukup besar terjadi. Shockwave yang muncul akibat ledakan tersebut sempat membuat sebagian dari para pengendara motor hampir kehilangan keseimbangan.
Namun, seperti tak terjadi apa-apa, taksi terus melaju tanpa ada bekas lecet sedikit pun. Para pengendara motor terkejut, sebuah senjata yang bahkan mampu membuat helikopter terjatuh dalam satu kali tembak, tidak mempan terhadap sebuah "taksi".
"Apa kau meleset?!" bentak pengendara yang memboncengkan yang membawa Rocket Launcher.
"Tidaklah, Bodoh! Scope ini sudah menandainya dengan benar!" balas tidak terima yang membawa Rocket Launcher.
"Lalu kenapa mobil itu masih berjalan?!" bentak pengendara yang memboncengkan.
"Mana aku tahu!" balas bentak yang membawa Rocket Launcher.
Sementara para pengendara sedang dibuat kebingungan dengan taksi yang masih bisa berjalan, Arvus dan Hudge sedang bertanya kepada Wilhem tentang bagaimana taksi ini tidak meledak. Wilhem menjelaskan bahwa taksi yang mereka tumpangi sekarang, merupakan salah satu benda yang disebut "Unbreakable Thing" di Wier Pibimitu. Yang mana benda dengan sebutan/julukan Unbreakable Thing sangat sulit condong ke mustahil untuk dapat dihancurkan.
"Mengapa bisa?" tanya Hudge.
"Maksudmu?" tanya balik Wilhem.
"Mengapa taksi ini bisa mendapatkan julukan Unbreakable Thing? Apa yang membuat suatu benda bisa mendapatkan julukan tersebut?" jelas Hudge.
"Oh, taksi ini merupakan ciptaan para dewa, atau yang di tempat kalian disebut sebagai Developer, sebagai benda yang memang diatur untuk tidak dapat dihancurkan. Namun, semenjak gim berubah menjadi kenyataan ..." ucap Wilhem dengan menghela nafas, mengepalkan kuat tangannya, serta memasang mimik wajah seolah-olah dilanda kekhawatiran.
"Benda berjuluk Unbreakable menjadi dapat dihancurkan ...?" tanya Hudge.
DAM! Peluru Rocket Launcher kembali menghantam taksi dari belakang. Namun, sama seperti sebelumnya, serangan tersebut tak memberi kerusakan sedikit pun.
"Entahlah, dunia ini baru berjalan sekitar beberapa pekan. Apa kaupikir aku langsung tahu semuanya? Hahaha!" ucap Wilhem dengan bangga karena berhasil menipu Hudge.
Ucapan Wilhem membuat jidat Hudge berkedut. Arvus memalingkan wajahnya ke jendela, mencoba menahan tawa.
Setelah menembakkan peluru ketiga dan juga tidak berefek apa-apa, para pengendara motor sudah tidak terlihat lagi. Taksi melaju dengan tenang bak kapal yang berlayar tanpa diterpa ombak.
Tak adanya halangan membuat perjalan serasa membosankan, terutama mereka melaju di tanah tandus bak gurun pasir. Hanya lahan kosong dengan sesekali kendaraan yang lewat, tak ada kejadian "unik" yang mampu membuka mata. Wilhem yang menyadari kebosanan Arvus dan Hudge, memutuskan untuk mengajari mereka satu-dua hal tentang Wier Pibimitu.
"Oh ya, apa kalian sudah tahu tentang tingkatan suatu barang di dunia ini?" tanya Wilhem.
Arvus menggelengkan kepala sementara Hudge menganggukkan kepala. Melihat dua jawaban yang berbeda, Wilhem bertanya terlebih dahulu kepada Hudge.
__ADS_1
"Sudah berapa lama kamu bermain, Hudge?"
"Sebelum peristiwa 'itu' terjadi, aku sudah bermain sekitar dua minggu."
"Oh ... pantas. Jadi, kamu pasti sudah tahu tentang tingkatan benda yang ada di dunia ini, kan?"
Hudge menganggukkan kepala.
"Kalau begitu, jelaskan kepada Arvus mengenai tingkatan-tingkatan yang ada."
"Baiklah."
Hudge membuka Verada miliknya. Mengetuk satu aplikasi dan memunculkan sebuah hologram berbentuk persegi panjang yang tiga kali lebih luas daripada layar Verada-nya. Hudge kemudian mengetuk hologram persegi panjang dan muncul suatu dua daftar.
[Weapon & Material] [Tier]
"Tingkatan atau yang di dunia ini disebut sebagai "Tier" ..."
Lima persegi panjang dengan ukuran yang lebih kecil muncul. Memiliki tulisan yang berbeda-beda, Hudge mulai menjelaskan dengan mengetuk persegi panjang yang berada di paling atas tepat di bawah tulisan Tier.
"Tingkat keempat adalah Patruela; memiliki latar belakang berwarna emas dengan sedikit motif di pinggiran *frame-*nya. Dan yang terakhir alias yang tertinggi\, Surpura. Memiliki latar belakang berwarna ungu dan memiliki sedikit motif di pinggiran *frame. *Namun\, pada Tier Surpura\, motif yang ada berwarna emas\, tidak seperti di Tier Patruela yang berwarna merah."
"Nah, apa kau sudah pusing?"
Arvus memegangi dagu seolah-olah sedang berpikir. "Lalu, kalau yang material?"
Hudge mengetuk tanda silang dan hologram yang menunjukkan Tier tertutup. Ia kemudian mengetuk persegi panjang yang bertuliskan Material dan memunculkan lima persegi panjang juga memiliki tulisan yang berbeda-beda.
"Sama seperti Tier, material di dunia ini juga dibedakan menjadi lima tingkatan. Perlu diingat, bahwa yang dibagi hanyalah kualitas, soal berapa banyak ragam material yang ada ... itu sangat banyak ...."
Arvus menganggukkan kepala.
"Tingkat terendah adalah jenis material yang bisa ditemukan di mana saja. Sesuai dengan kemudahan mencarinya, harga serta kualitasnya pun terhitung rendah."
"Seberapa rendah?" tanya Arvus.
"Kalau itu ... tergantung, sih. Lawan menentukan, pengguna juga menentukan, perawatan juga. Yah, kalau secara umum ... mungkin sekitar dua pekan sudah hancur."
__ADS_1
Itu sangat rendah berarti .... batin Arvus.
Hudge kembali menjelaskan.
"Tingkat nomor dua terendah memiliki ketahanan yang dua kali lebih bagus dari tingkat sebelumnya. Harganya juga dua kali lebih tinggi dan perawatannya dua kali lebih mudah. Biasanya, para pemula dianjurkan untuk mencari material yang setingkat dengan tingkat ini. Tingkat selanjutnya alias yang menengah, biasanya digunakan oleh Player dengan level yang sudah cukup mumpuni. Kalau mau mencari material dengan tingkat ini juga cukup lebih sulit dibanding dua tingkat sebelumnya.
"Material tingkat menengah juga memiliki ketahanan tiga kali lebih baik dari tingkat sebelumnya. Tingkat selanjutnya memiliki ketahanan empat kali lebih baik daripada tingkatan sebelumnya. Dan tingkat terakhir, memiliki tingkat ketahanan lima kali lebih kuat daripada tingkatan sebelumnya. Oh ya, aku lupa memberitahu bahwa nama dari tiap tingkatan itu D, C, B, A, dan yang tertinggi S."
Arvus mengangguk paham. Lalu ia bertanya, "Lalu yang senjata?"
"Oh, intinya sama. Material adalah bahan yang digunakan untuk membuat senjata ataupun Armor. Dan kenapa aku cuma menulis Weapon & Material tanpa melibatkan Armor? Karena ketiganya memiliki dasar yang sama. Jadi, aku pikir dua pun sudah cukup."
"Sebentar .... Kalau begitu, senjata atau Armor yang ada tidak tahan lama?" tanya Arvus memastikan.
"Tidak, tidak. Ketahanan yang tadi aku sebutkan itu khusus untuk material saja. Jadi, yang dimaksud dua pekan adalah jangka waktu material tersebut bisa diolah. Seandainya sudah berubah menjadi sebuah senjata atau Armor, maka umurnya akan ikut berubah."
Arvus mulai sedikit bingung. Ia diam sejenak, mencoba mencerna semua informasi yang seabrek ini.
Tak lama kemudian, ia menghela nafas.
"Berarti, cara pengolahan; siapa yang mengolah; perawatan; pemakaian; dan lain-lainnya merupakan elemen penting yang harus dipikirkan agar senjata atau Armor yang kita kenakan tidak rusak?" tanya Arvus.
"BENAR SEKALI!" teriak Wilhem yang membuat semua orang terkejut, tak terkecuali sang supir. Mobil sempat terguncang hingga hampir keluar jalan.
"Tu-Tuan ... tolong jangan mengagetkan ..." ucap sang supir dengan tersenyum kaku.
"Ahahaha, maaf-maaf. Aku terlalu bersemangat dan tak sabar untuk menunggu momen di mana aku bisa ikut nimbrung, hahahaha!" tawa dari Wilhem menutup penjelasan Hudge.
---------=======-----------
AUTHOR:
Terima kasih telah membaca sampai chapter ini. Semoga betah dan terus membaca hingga chapter terakhir. Mohon dukungan dari teman-teman ya! Dan untuk kritik serta saran, bisa dicantumkan di kolom komentar!
Terima kasih!
----------=======-----------
__ADS_1