
Arvus memperhatikan kedua "senior"nya bertarung melawan orang-orang dari Geng Yugos. Setiap kali serangan dilancarkan baik oleh Zarvi, Rodri, maupun orang-orang Geng Yugos, muncul sebuah tanda yang menunjukkan besar serangan yang masuk.
Sebagai contoh ketika Rodri menabrak tiga orang dari Geng Yugos, muncul tiga tulisan "1200". Contoh lainnya adalah listrik milik Zarvi yang terus menyengat dan memunculkan tulisan "40" secara terus-menerus setiap satu detik selama listrik yang dialirkannya belum padam dan terputus.
"Kau lengah!" teriak seseorang dari arah kanan Arvus. Arvus yang sedang fokus memperhatikan kedua seniornya, terkejut tatkala mendengar teriakan tersebut. Kepalanya terlalu lambat untuk melihat arah serangan, apalagi badannya untuk bergerak. Pedang yang bilahnya dialiri oleh energi berwarna biru menyala sudah akan mengenai Arvus.
Bush! Sebuah bola energi seukuran bola sepak bola dengan cepat terbang ke arah perut dari Pria yang Meneriaki Arvus. Bola energi tersebut menghempaskan Pria yang Meneriaki Arvus hingga menabrak dinding masuk ke kamp Geng Yugos. Arvus melihat pria tersebut terhempas, lalu langsung membanting pandangannya ke Zarvi. Zarvi tersenyum percaya diri ke arah Arvus, lalu kembali fokus ke pertarungannya.
Apa yang ... harus aku lakukan? Ah! Aku tahu. Tanpa Arvus sadari, apa yang akan dilakukannya adalah langkah pertamanya di dunia yang penuh kegilaan. Langkah pertama yang akan membuatnya tahu, betapa kejamnya dunia yang masih dianggapnya sebagai gim semata.
Arvus berlari dari satu tenda ke tenda lainnya. Memeriksa, mencari, dan mengambil barang-barang dengan kualitas tinggi dan membawanya.
"Level 10! Apakah ini barang bagus? Hm ... sepertinya untuk level rendah sepertiku ... ini barang yang bagus!" ucap antusias Arvus tatkala melihat dua buah belati yang tergeletak di atas tumpukan kotak kayu. Arvus mengambil dua buah belati tersebut beserta dengan sarungnya. Memasangkan pada pinggangnya dan tak bisa menyembunyikan kekagumannya.
"Baiklah, saatnya mencari yang lainny--!" ucap Arvus yang kemudian terkejut tatkala melihat seorang gadis dan laki-laki terbaring tak sadarkan diri di atas kasur yang seperti terbuat dari lateks. Arvus berjalan secara perlahan ke arah kedua orang yang terbaring dengan ragu-ragu. Keduanya sama-sama memiliki rambut blonde, seperti berasal dari eropa.
Apa yang harus aku lakukan?? Aku tinggalkan? Tapi kalau ternyata mereka butuh bantuanku? Kalau aku bantu ... apakah mereka kawan? Ketika Arvus sedang beradu argumen dengan dirinya sendiri, sang gadis secara perlahan mulai membuka matanya. Seperti baru terbangun dari tidur yang panjang, sang gadis melihat ke arah Arvus dengan wajah yang masih mengantuk.
__ADS_1
"Di mana ... aku?" ucap spontan sang gadis. Mendengar suara lembut seorang gadis, Arvus langsung tahu bahwa gadis yang ada di hadapannya sudah terbangun. Ia melihat ke arah sang gadis dan ... terpukau. Ia sangat terpukau dengan betapa cantiknya wajah sang gadis walau sang gadis baru terbangun dari tidurnya. Atau mungkin ... Arvus memang terpukau dengan wajah sang gadis yang baru terbangun.
Namun, mengesampingkan semua pandangan tersebut, wajah dari sang gadis memanglah sangat cantik. Mata berwarna biru laut yang seakan menyala, alis sedikit tebal mengikuti warna rambut, serta kulit putih bak artis girlband korea. Arvus tak bisa menyembunyikan kekagumannya, ia terpaku dan terpukau. "Ha-halo? Kamu siapa ...?" tanya sang gadis.
"A-aku Arvus. Ka-kamu ...?" tanya gugup Arvus. "Kenalkan, aku Aria, Aria Volbratch." jawab sang gadis dengan senyuman yang melelehkan. "Arvus! Apa kau di sini?!" teriak Zarvi yang membuka tenda dengan sedikit terengah-engah. "Ah, Zarvi! Aku bertem-!" Bak! Pukulan cukup keras langsung menghantam pipi kanan Arvus. Arvus terdorong jatuh dan melihat ke tanah dengan ekspresi terkejut.
"Zarvi, apa kau menemukannya?!" panggil Rodri yang baru tiba. "Dari mana saja kau?! Bukankah aku sudah bilang bahwa dunia ini sangat berbahaya?!" bentak Zarvi kepada Arvus yang masih syok dengan pukulan yang dilayangkan oleh Zarvi. "Ma-maaf ...," ucap lirih Arvus sembari mencoba melihat ke wajah Zarvi. Zarvi menggemeratakkan giginya dan langsung keluar dari tenda, menyenggol dada Rodri yang mencoba menenangkannya.
"Zarvi! Zarvi!" teriak Rodri mencoba memanggil Zarvi yang sudah berjalan dengan diselimuti amarah. "Hah ... bocah itu."--melihat ke arah Arvus--"Jadi, apa yang kautemukan?" tanya Rodri dengan tersenyum sedikit tertawa. Arvus tak menjawab. Ia masih merasa tidak enak kepada Zarvi. Pukulan yang dilayangkan oleh Zarvi ... Arvus mengetahui maksudnya.
***
"Masalah satu terselesaikan ... sekarang, siapa dua orang ini?" tanya Rodri dengan membenarkan sarung tangannya ketika melihat Aria dan laki-laki yang tadi terbaring tak sadarkan diri. "Maaf belum memperkenalkan diri. Namaku Aria, dan ini adikku, Hudge," ucap Aria dengan senyuman ramah. "Jadi, apa tujuan kalian?" todong langsung Zarvi. Hudge nampak sedikit gugup dan gemetar, berbanding terbalik dengan kakaknya, Aria, yang dapat tetap tersenyum tenang.
"Kami ... tak tahu harus ke mana lagi. Jadi ...," ucap Aria dengan mencoba nampak manis. Binar serta kilauan seakan muncul di sekitarnya. Berbunga-bunga dengan gaya yang manja. "Ayo, Arvus," ucap Rodri yang menaiki truk bersamaan dengan Zarvi.
Wajah terkejut yang mengatakan "HEHH?!" muncul dari ekspresi wajah Aria. Namun, ia tetap mencoba untuk bersikap "manis". Ia tak kehabisan akal, dihiraukan oleh dua orang yang nampak kuat, Aria mencoba meluluhkan si pria kecil. "Arvus ... apakah kamu akan meninggalkan seorang gadis di tempat seperti ini ...?" tanya Aria dengan manja kepada Arvus. Tangannya yang lembut, memegang erat kedua tangan Arvus.
__ADS_1
Hudge menelan ludah melihat ekspresi kakaknya. Seakan jijik dan mencoba memberi isyarat kepada Arvus untuk menolak. "A-ah ... bagaimana, ya. Aku tidak bisa memutuskan apa-apa ... aku hanya ikut dengan mereka. Jadi, segala keputusan ada di tangan mere ...," ucap Arvus yang terpotong tatkala melihat wajah Aria semakin dan sudah sangat dekat dengan wajahnya. "ZARVI, RODRI, BISAKAH MEREKA IKUT?!" teriak Arvus bak air panas yang mendidih.
***
" ... siapa dua orang ini?" tanya Auctrix. Di ruang utama, Auctrix berdiri tegap dengan Chipper di sampingnya. Bersilang tangan, bertanya mengapa ada tambahan dua orang kepada Zarvi dan yang baru kembali. "Mereka ...," jawab Arvus dengan ragu-ragu yang kemudian dipotong oleh Aria. "Izinkan kami memperkenalkan diri, Tuan ...?" Chipper menyambung, "Tuan Auctrix." Dengan tersenyum dan menepuk tangannya pelan satu kali, Aria menyambung kalimatnya yang terputus, "Tuan Auctrix! Saya Aria dan ini adikku, Hudge."
Auctrix sedikit menutup matanya. "Lalu, apa maksud dan tujuan kalian datang ke sini?" tanya Auctrix dengan mengeluarkan sedikit uap serta aura panas serta sedikit membungkuk mendekati wajah Aria. Hudge gemetaran melihat Auctrix. "Kami ditemukan oleh Arvus dan kami ... tak memiliki tempat tinggal. Dengan kebaikan hati dari Arvus, ia mengajak kami untuk ke tempat tinggalnya!" jawab Aria dengan ceria.
Gadis ini ... batin Arvus, Zarvi, dan Rodri secara bersamaan. "Arvus, berapa exp yang kau dapatkan?" tanya Auctrix secara tiba-tiba. "A, tiga ratus, Tuan Auctrix," jawab Arvus dengan sedikit terkejut. Level 3 berarti, ya ... batin Auctrix sembari menegakkan kembali tubuhnya.
"Arvus, apa benar kamu mau mereka tinggal di sini?" tanya Auctrix. Mulut Arvus terhenti sejenak. Ia merasa tak enak jikalau tiba-tiba meminta hal yang menurutnya besar dan berisiko tinggi. Ia melirik ke Aria dan Hudge. Aria memasang wajah manja sedangkan Hudge sedikit menggelengkan kepalanya walau dengan agak gemetar. Dengan menelan ludah, Arvus mengangguk dan menjawab lirih, "Ji-jikalau Anda mengizinkan, Tuan Auctrix."
---------=======-----------
AUTHOR :
Terima kasih telah membaca sampai chapter ini. Semoga betah dan terus membaca hingga chapter terakhir. Mohon dukungan dari teman-teman ya! Dan untuk kritik serta saran, bisa dicantumkan di kolom komentar!
__ADS_1
Terima kasih!
----------=======-----------