Wier Pibimitu 2100

Wier Pibimitu 2100
Ch. 4 - Player


__ADS_3

Mata Arvus melebar. Ia terkejut, tapi tak bisa berkata ketika mendengar dan mengetahui bahwa Auctrix berada di dekatnya. Secara terpatah-patah, ia menoleh ke arah Auctrix.


Pintu tiba-tiba terbuka. Chipper datang dengan mendorong kereta dorong makanan. "Ohoh, sudah bangun ternyata." ucap Chipper yang berhenti di dekat Arvus. "Setelah sarapan, temui aku di ruang bawah tanah," Auctrix menutup bukunya dan beranjak dari duduknya. Auctrix berjalan pergi meninggalkan Arvus hanya berdua dengan Chipper.


"Apa kau tak mau makan?" tanya Chipper dengan suara biasa, tapi terdengar cukup kencang. Arvus langsung membanting mukanya ke arah Chipper dan ia terkejut bukan main tatkala melihat wajah Chipper yang sangat dekat dengan wajahnya. Horor, adalah kata yang tepat tentang bagaimana menggambarkan perasaannya saat itu.


"Bahahahahaha! Apa kau terkejut?' tawa Chipper sembari menuangkan segelas susu dan membuka penutup makanan. Bau yang sangat menggoda langsung menusuk ke lubang hidung Arvus. Perut Arvus berbunyi dengan cukup kencang hingga dapat terdengar dengan jelas oleh Chipper.


"Kau pasti sudah lama tidak makan,"--menyodorkan piring yang berisikan makanan ke Arvus--"makanlah!" ucap Chipper dengan senyuman khasnya. Kedua tangan Arvus tanpa ia sadari sudah mau meraih piring tersebut. Tangannya gemetar, gabungan antara rasa lapar dan rasa takut.


Tep ... tangannya telah menyentuh piring yang disodorkan oleh Chipper.


"SUDAH HABIS?!" Chipper terkejut dengan mata melotot melihat seberapa cepatnya Arvus menghabiskan makanan yang baru disentuhnya. Arvus teridam. Menatap piringnya yang sudah kosong dengan pandangan yang sama kosongnya. Chipper sedikit mendesah dan memejamkan matanya. Ia mengambilkan porsi kedua untuk Arvus.


***


Waktu sarapan telah usai. Perut kosong Arvus telah terisi sepenuhnya. Makanan yang ada di kereta dorong sudah tak tersisa. Chipper nampak senang dan puas karena makanan buatannya habis dan dapat dinikmati dengan lahap oleh seseorang.


"Oh, jangan lupa untuk menemui tuan Auctrix di ruang bawah tanah." ucap Chipper yang kemudian menutup pintu dari luar. Arvus menganggukkan kepalanya secara perlahan dan kemudian mengepalkan kedua tangannya. Ia menggigit bibirnya hingga sedikit berdarah.


Terimalah kenyataannya! Namamu sekarang Arvus, dan kau ... sudah tidak berada di duniamu yang lama! Terimalah ... terimalah kenyataan itu! batin Arvus membentak dirinya.


Ngeet ... pintu dibuka oleh Arvus. Ia berjalan keluar secara sembunyi-sembunyi dan perlahan. Baru satu langkah ia menapak, tiba-tiba sesuatu yang agak kenyal terasa di kakinya. Arvus melihat ke bawah, memeriksa apa yang diinjaknya.


Da-daging ... daging ... daging a-apa ini?! batin Arvus yang kemudian mencoba menahan mual. Secara tiba-tiba, ingatan tentang apa yang ia lihat semalam terlintas dengan sangat jelas. Membuatnya sangat ingin muntah, bahkan air muntahnya sempat hampir keluar, tapi ia telan kembali. Ia tidak ingin mengotori tempat yang baginya sudah kotor.


Percikan darah di mana-mana, tangan serta anggota tubuh yang tersusun dengan agak rapi di meja yang di dekatnya terdapat pisau daging yang ditancapkan, dan kepala yang bergelantungan dengan mata bak ikan mati yang terbuka dengan mulut yang juga terbuka. Arvus harus melewati semua hal itu. Menahan rasa mualnya dengan tangan yang terus menutupi mulutnya. Belum lagi bau busuk yang sangat menyengat.


Tangga ... di mana tangganya?! batin Arvus dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Tep ... tanpa sengaja Arvus menyenggol sesuatu. Arvus menoleh ke arah yang disenggolnya. Sosok bertubuh besar dengan tangan kanan robot menoleh ke arahnya (Arvus).

__ADS_1


"Oh, kau sudah bangun rupanya. Tuan Auctrix menunggumu di ruang bawah tanah." ucap Pria yang Membawa Arvus. Arvus hanya terdiam melihat Pria yang Membawa Arvus berbicara. Entah dari mana, tiba-tiba terlintas di pikiran pria tersebut bahwa alasan Arvus hanya terdiam karena ia belum memperkenalkan dirinya. Dengan wajah polos sok tahu, ia berkata, "Aku mengerti ... kamu pasti takut dengan orang yang belum kamu kenal, kan? Ahahaha, maaf. Namaku Rodri, senang bertemu denganmu." dan mengulurkan tangannya mencoba mengajak berjabat tangan Arvus.


Ini ... beneran tangan robot ...? batin Arvus sedikit kagum serta tak percaya melihat besi yang berbentuk tangan sedang diulurkan ke arahnya. Melihat reaksi Arvus, Rodri kembali berpikir bahwa Arvus sedang speechless melihat tangannya. "Ahahaha, tangan ini keren bukan?" ucap Rodri dengan PD-nya.


"Sudah-sudah ... nanti akan aku jelaskan kalau kau mau punya tangan seperti ini. Sekarang, kamu turunilah tangga itu. Tuan Auctrix sudah menunggumu sejak tadi." ucap Rodri dengan menunjuk tangga. Arvus melihat arah telunjuk Rodri diacungkan. Tangga tua yang menuju ke ruang bawah tanah dengan bercakan darah yang sama berada di sekitarnya.


Arvus menelan ludah. Ia meyakinkan dirinya untuk mengikuti arahan dari Rodri dan perlahan mulai berjalan menuju ke ruang bawah tanah. Gelap, hanya ada obor-obor kecil dengan jarak yang berjauhan. Seakan dibuat hanya untuk menunjukkan jalan, bukan menerangi jalan. Dengan berpegangan pada dinding yang ada, Arvus berjalan menuruni anak tangga secara perlahan.


Setelah berjalan sekitar 30 detik, Arvus melihat cahaya yang terang di bawah. Ia mempercepat langkahnya dan terlihat, Auctrix sedang berdiri menghadap ke rak buku dengan tangan kanan yang sedang membawa beberapa buku.


"Duduklah." Auctrix mengambil satu buku terakhir dan berjalan ke kursi tempatnya biasa duduk. Arvus melihat sofa kosong yang berhadapan langsung dengan kursi tempat Auctrix duduk. Auctrix menaruh tumpukan buku yang sudah dipilihnya ke atas meja yang membatasi jarak antara sofa Arvus dengan kursinya. "Duduklah." Auctrix mengambil satu buku dan membuka salah satu halaman.


Arvus yang takut langsung mematuhi perintah tersebut. Ia duduk dengan sigap dan Auctrix memulai ceritanya.


"Dua tahun lalu, terdapat peristiwa yang disebut sebagai "World Changer". Itu adalah peristiwa tatkala kalian, para pemain terjebak di dalam dunia yang kalian anggap sebagai gim. Sebuah dinding transparan dengan ujung yang tak terlihat, secara tiba-tiba muncul dan membuat semua pemain menjadi terdiam. Dan setelah itu, para pemain dipindahkan ke berbagai tempat secara acak.


Arvus terdiam dengan melongo. Dinding semi-transaparan berwarna merah yang sempat ia lihat, langsung melintas di pikirannya. "Dinding ... apakah ... apakah dinding itu berwarna merah?" tanya Arvus yang mengangkat kepalanya dan melihat ke Auctrix. Untuk pertama kalinya, Auctrix memperlihatkan ekspresi yang tak pernah ditunjukkannya. Matanya sedikit melebar, mulutnya tanpa sadar mulai terbuka.


"Dari mana ... kau tahu itu?" tanya Auctrix. "Aku adalah pemain baru, sangat baru. Aku baru saja membuat karakter dan berjalan beberapa menit. Aku bertemu dengan seseorang, dan berkenalan dengannya. Lalu, tak lama setelah kami berkenalan, sebuah dinding berwarna merah semi-transparan muncul dan melewati kami begitu saja.


"Seperti katamu, semuanya menjadi terdiam. Sama seperti orang yang baru berkenalan denganku ...." Arvus tiba-tiba berhenti berbicara dan kembali melihat ke bawah. Tangannya mencengkram kuat kedua lututnya. Orang yang berkenalan denganku ... Monat! batin Arvus yang baru mengingat akan sosok Monat. "Tu-Tuan Auctrix! Apa ... apa Anda kenal dengan seorang Player bernama Monat?" tanya Arvus dengan cukup antusias.


"Monat? Aku tak pernah mendengarnya. Seperti apa perawakannya?" tanya Auctrix. "Ia memiliki tubuh yang besar, mungkin sekitar dua meter. Dia ... dia mengenakan pakaian berwarna merah seperti seorang samurai! Lalu ... di pinggang kirinya terdapat sebuah katana keren dan di punggungnya terdapat senjata yang aku tak tahu namanya. Akan tetapi, itu sangat keren! Warnanya putih dengan garis merah." ucap Arvus dengan antusias.


Untuk pertama kalinya Auctrix melihat Arvus "hidup". Selama tiga hari ke belakang, Arvus selalu tertidur dengan ekspresi wajah yang seperti mengalami mimpi buruk. Dan ketika hari pertama ia datang, ia memasang ekspresi yang tidak kalah ketakutannya dari ekspresi yang ditunjukkan ketika ia tidur. Namun, kenyataan bahwa ia tidak tahu akan sosok bernama Monat, membuat Auctrix terpaksa harus memadamkan semangat yang sempat berkobar pada diri Arvus.


"Begitu ya ... rupanya Anda tidak tahu." ucap Arvus dengan wajah yang lesu. Auctrix tersenyum tipis dan berkata, "Akan aku cari tahu. Namun, sebagai gantinya, aku ingin kamu berlatih. Meningkatkan level dan mencoba beradaptasi dengan dunia barumu. Bagaimana?" tanya Auctrix dengan mengajak bersalaman Arvus. Arvus tanpa pikir panjang langsung bersalaman dengan Auctrix, menandakan semacam penandatanganan perjanjian di antara mereka.


Dari luar ruangan, Chipper; Rodri; dan Pria yang Membawa Arvus menguping pembicaraan yang ada. Mereka saling melihat satu sama lain dan memasang ekspresi senang, bahkan sampai tos satu sama lain. Auctrix melirik tajam ke arah pintu masuk dan langsung membuat Chipper serta dua orang lainnya kabur ketakutan.

__ADS_1


***


Arvus telah selesai berbicara dengan Auctrix. Ketakutannya pada Auctrix sudah mulai menurun. Ia berjalan menaiki tangga, meninggalkan Auctrix di dalam ruangan sendirian.


Anak itu ... hahaha, mataku benar-benar tak salah lihat. batin Auctrix dengan sedikit tertawa dan mengembalikan buku-buku yang ada ke rak buku.


Arvus sempat terhenti di tengah jalan. Ia yang teringat dengan pemandangan menjijikan dan bau menyengat yang ada di ruang utama/tengah, kembali merinding. Ia berjalan perlahan, mencoba menguatkan mental dan membiasakan diri dengan pemandangan yang mungkin ke depannya, menjadi pemandangan sehari-harinya. Namun, semua bayangan itu sirna tatkala ia melihat betapa mengkilapnya ruangan yang ia anggap akan sangat menjijikan.


"Ohoh, bagaimana? Keren bukan?" ucap Chipper yang tiba-tiba muncul di dekat Arvus. "Woah!" Arvus terkejut hingga hampir terjatuh. "Ahahahaha! Biasakan dirimu untuk tinggal di rumah ini. Mungkin rumah ini jelek dan tua, tapi di rumah ini kamu akan tinggal. Dan rumah ini pula, tempatmu untuk kembali." ucap Chipper yang mendadak bijak dan membuat Arvus menganga takjub sekaligus heran.


"Oh, ya. Apa kau sudah berkenalan dengan semua orang yang ada di sini?" tanya Chipper dengan merangkul Arvus. Aruvs menggelengkan kepalanya. "Kalau begitu, akan aku perkenalkan!" Chipper dengan antusias membawa Arvus ke sebuah ruangan. "Yo! Anak Baru telah tiba!" teriak Chipper tepat setelah membanting pintu.


Hening ... suasana menjadi sangat canggung. Di dalam ruangan tersebut terlihat Rodri dan Pria yang Membawa Arvus sedang mengelap senjata mereka. Posisi yang seakan mengatakan "Jangan mengganggu" tersebut membuat Arvus menjadi agak ketakutan. Belum lagi, kepala mereka yang diangkat secara perlahan dan langsung menatap Arvus dan Chipper.


"Oh! Anak Baru! Apa kau sudah selesai berbicara dengan tuan Auctrix?" tanya Rodri dengan ekspresi yang berubah drastis. Arvus mengangguk. "Ah, begitu ... oh, ya. Apa kau sudah berkenalan dengan orang ini?" tanya Rodri dengan mengacungkan jempolnya ke Pria yang Membawa Arvus. Pria tersebut melambaikan tangannya ke Arvus, mencoba terlihat ramah.


Arvus menggelengkan kepalanya. Rodri menepuk pundak Pria yang Membawa Arvus seakan menyuruh agar menghampiri Arvus. Pria tersebut paham akan kode tersebut dan berjalan mendekati Arvus.


"Aku Zarvi, senang bertemu denganmu." ucap Zarvi dengan tersenyum lebar hingga kedua matanya tidak terlihat.


---------=======-----------


AUTHOR :


Terima kasih telah membaca sampai chapter ini. Semoga betah dan terus membaca hingga chapter terakhir. Mohon dukungan dari teman-teman ya! Dan untuk kritik serta saran, bisa dicantumkan di kolom komentar!


Terima kasih!


----------=======-----------

__ADS_1


__ADS_2