Wier Pibimitu 2100

Wier Pibimitu 2100
Chapter 16 - Bertahan Hidup


__ADS_3

"Ekem, sesuai dengan yang kauminta, aku sudah mengumpulkan lowongan pekerjaan yang bisa kau dan Hudge ambil," ucap Wilhem.


Beberapa jam sebelumnya, Arvus sempat meminta kepada Wilhem untuk memberikannya daftar lowongan pekerjaan yang bisa ia dan Hudge kerjakan.


"Aku tidak merekomendasikan menjadi seseorang yang bertarung. Terutama mengingat level kalian yang jauh tertinggal," ucap Wilhem.


Sembari mendengar nasihat dari Wilhem, Arvus membaca dengan teliti satu per satu lembaran yang ada. Stratiotis, pekerjaan dengan gaji tertinggi. Menjadi petugas keamanan dengan dibawahi langsung oleh Organisasi Keamanan Negara, Asfarea. Pekerjaan ini sama seperti yang diemban oleh para prajurit berzirah krim serta Larius.


Agnos, merupakan pekerja bebas dengan gaji tergantung seberapa banyak usaha yang dilakukan. Semakin banyak "Quest" yang diambil dan dilaksanakan, maka bayaran yang didapatkan akan semakin banyak. Seorang Agnos dapat membuat atau bergabung ke sebuah "Guild". Guild dibedakan menjadi dua, yang taat kepada pemerintah (Guild) dan yang memberontak (Guildar).


Pekerjaan lainnya adalah nelayan, tukang bersih-bersih, pelayan, tukang angkat barang, dan penjaga perbatasan.


"Wilhem," panggil Arvus sembari memegang dua lembar. "Berapa level yang kau rekomendasikan untuk bisa 'bertahan hidup' sebagai seorang Agnos?"


Wilhem memegang dagu, berpikir sejenak, lalu menjawab. "Kalau mau sekadar bertahan ... level 15 mungkin sudah cukup. Tapi kalau mau bisa bertahan ... aku sarankan setidaknya level 30."


Arvus menerima saran dari Wilhem; menaruh kembali salah satu lembar yang dipegangnya.


"Kalau begitu, aku pilih yang ini," Arvus mengangkat lembar yang masih dipegangnya.


"Nelayan, ya ... hm ... aku jujur tidak begitu tahu ini pekerjaan apa dan aku pun tidak pernah tahu sama sekali tentang pekerjaan ini ..." ucap Wilhem dengan menatap lembar yang dipegang Arvus sembari berpikir keras.


"Dan kau merekomendasikannya kepadaku ...?" ucap Arvus dengan aura yang pekat.


"Y-ya ... kan ... ya ..." ucap Wilhem yang mencoba menghindari pertanyaan Arvus.


"Menarik, aku akan ambil pekerjaan ini," ucap Arvus dengan menyeringai.


"Aku juga akan mengambil pekerjaan itu."


Suara yang tiba-tiba muncul membuat Arvus dan Wilhem sedikit terkejut. Dengan serentak, mereka melihat ke arah belakang dan terlihat Hudge yang sudah bangun dari tidurnya.


"Apa kau yakin? Masih ada banyak pilihan di sini. Dan ingat ... dunia ini sudah berbeda dari dunia kita. 'Nelayan' ini sangat mencurigakan," ucap Arvus menyodorkan lembar lowongan pekerjaan nelayan kepada Hudge.


"Tak masalah ... aku memiliki skill yang sepertinya berguna ..." jawab Hudge dengan membaca lembar lowongan.


Sudut bibir Arvus sedikit terangkat. "Baiklah, kami akan mengambil pekerjaan itu. Tolong urus sisanya," ucap Arvus yang kemudian menggulingkan dirinya ke atas kasur dan langsung tengkurap.


"Heh? Aku? Mengapa tidak kau ..." ucap Wilhem yang sedikit tak terima. Suara ngorok tiba-tiba terdengar. "Sudah tidur?!"


Hudge tertawa kecil. "Dokter Wilhem, bisakah kamu mengajariku cara mendaftarnya?"


Dengan membanggakan dirinya, menarik dan membenarkan jas serta bajunya, Wilhem menjawab, "Serahkan padaku!"

__ADS_1


Beberapa saat kemudian ... keduanya duduk berdekatan di lantai dengan mata yang fokus ke layar Vereda dengan saksama.


"Jadi klik yang ini ..." ucap Wilhem. Hudge mengangguk dan menaati perintah Wilhem. "Lalu klik yang ini ..." ucap Wilhem. Hudge kembali mengangguk. "Nah, tinggal tempelkan sidik jari kalian ke kotak ini saja." Hudge menganga dan menganggukkan kepala.


"Selesai!" ucap Wilhem dengan heboh mengangkat kedua tangannya.


Hudge hanya terdiam, malah cenderung asyik memainkan Veradanya. "Waktu kerja mulai dari pukul segini sampai segini ... lalu mulai kerja dari tanggal ... hm ... peralatan yang dibutuhkan ...."


Aku ... dikacangi ... batin Wilhem yang mematung. Beberapa saat kemudian melemaskan bahunya dan menghela nafas.


"Anu, Dokter Wilhem ..." panggil Hudge. Panggilan Hudge membuat Wilhem kembali bersemangat. Ia memutar tubuhnya dengan cepat dan langsung menjawab dengan sedikit berteriak, "Ya?!" serta mata berbinar.


"Bolehkah aku pinjam uang?"


. . .


Beberapa jam kemudian, tepatnya ketika Arvus sudah terbangun, ketiganya berkumpul di meja tempat Wilhem biasa berbicara dengan pasien.


"Jadi, kau meminjam berapa dari si Wilhem?" tanya Arvus.


"Tidak banyak, hanya 100 Genia," jawab Hudge.


"Hm ... kenapa tidak kauperas lebih banyak lagi?" ucap Arvus dengan tangan yang disilangkan.


Mereka seenaknya membicarakan uangku seolah-olah aku hanya alat mereka ... apakah mereka ini tidak ingat dengan siapa yang telah menolong mereka? Apakah mereka tidak tahu apa itu balas budi? Apakah mereka ... batin kesal Wilhem sembari mengetik.


"Dokter Wilhem," panggil Hudge.


"Ya?" jawab Wilhem dengan ramah seolah-olah sedang berada di taman bunga.


"Bisakah kau mengantar kami ke tempat ini?" tanya Hudge dengan menunjukkan peta tempat dia dan Arvus akan bekerja.


... sekarang aku jadi supir, ya ...? batin Wilhem dengan tatapan kosong.


***


Tak lama setelah mereka berbincang-bincang, Arvus dan Hudge memutuskan untuk keluar mencari perlengkapan. Setelah diberitahu tempat dan alamat barang-barang murah terpercaya oleh Wilhem, keduanya langsung bergegas walau jalannya masih sedikit sempoyongan.


"Berhati-hatilah, jangan memaksakan diri, istirahat saja dulu," ucap Wilhem melihat Arvus dan Hudge yang bertabrakan di depan pintu kamar.


Wilhem serasa tersentak. Kedua matanya melebar, ia seolah-olah sedang melihat dua orang yang baru diselamatkannya sedang berjuang demi masa depan mereka.


"Te-tenang saja, Dok. Kami tidak ingin merepotkanmu lebih lama lagi," ucap Hudge dengan tatapan lurus ke depan.

__ADS_1


Wilhem menundukkan kepalanya; terharu mendengar ucapan Hudge. Ia bahkan mencopot kacamatanya, menutup kedua mata menggunakan tangan kirinya, mencoba menahan turunnya air mata.


"Dia kenapa?" bisik Arvus dengan sedikit heran.


"Entahlah," jawab Hudge.


"Apa kau mengatakan sesuatu?"


"Tadi aku cuma menjawab 'kami akan kembali',"


"Dokter yang aneh ..."


Keduanya berjalan pergi dengan kondisi yang semakin stabil, meninggalkan Wilhem dengan segala imajinasinya.


Sesampainya di depan rumah sakit, panas matahari langsung menyengat tubuh mereka. Perbedaan suhu yang ada di dalam ruangan dengan di luar ruangan, membuat tenggorakan Arvus dan Hudge langsung terasa kering. Melawan dahaga, keduanya menegakkan tubuh dan berjalan sesuai arah peta menuju ke tempat yang direkomendasikan oleh Wilhem.


"Hudge, mengapa orang-orang ini bisa tidak kepanasan? Maksudku, di tengah kepadatan kota terutama di dunia yang gersang, bagaimana mereka bisa tidak kepanasan?" tanya Arvus.


Keduanya berhenti di tempat penyebrangan jalan. Menunggu lampu berubah menjadi hijau, Hudge menjawab, "Perhatikan punggung mereka."


Arvus memperhatikan satu per satu punggung dari setiap orang yang bisa ia lihat. Ia sempat berpikir beberapa saat dan kemudian menyadari adanya satu kesamaan. "Tonjolan apa itu?"


"Itu merupakan alat yang ditempel pada bagian dalam baju, tepatnya yang berhadapan langsung dengan punggung," jawab Hudge yang kemudian memperlihatkan Veradanya.


Eiga, sebuah alat berbentuk persegi enam memanjang vertikal dengan tinggi 6 cm dan lebar 4 cm. Memiliki rongga-rongga tergantung versi, harga, dan model. Memiliki rentan harga standar antara 100G hingga 5000G.


"5000G untuk alat sekecil itu?!" ucap Arvus yang terkejut.


Arvus dan Hudge menyebrang jalan.


"Ya ... tapi alatnya sangat berguna. Untuk orang-orang biasa mungkin yang seratus-dua ratus udah cukup, tapi kalau kerjaannya di luar, contohnya yang risiko terbanting-bantingnya tinggi, ya ... 5000 Genia adalah harga yang setara dengan kualitasnya."--melihat pamflet toko--"Ah, kita sudah sampai," ucap Hudge dengan menunjuk pamflet toko.


"Ingsventory ...?" ucap Arvus dengan sedikit memiringkan kepalanya ke samping.


---------=======-----------


AUTHOR:


Terima kasih telah membaca sampai chapter ini. Semoga betah dan terus membaca hingga chapter terakhir. Mohon dukungan dari teman-teman ya! Dan untuk kritik serta saran, bisa dicantumkan di kolom komentar!


Terima kasih!


----------=======-----------

__ADS_1


__ADS_2