Wier Pibimitu 2100

Wier Pibimitu 2100
Ch. 6 - Kota


__ADS_3

"Oi, Arvus ... bangunlah." Zarvi sedikit menyenggol dan menggoyangkan lengan Arvus. Arvus yang tertidur, mulai membuka matunya. Dengan mengantuk, ia menguap dan bertanya, "Hoam ... apakah sudah sampai?'


"Belum, tapi sudah dekat. Dan sepertinya, akan disayangkan untukmu jikalau tidak melihat ini." Zarvi sedikit memancungkan mulutnya ke depan. Arvus melihat ke depan dan kantuknya seketika menghilang. Mulutnya sedikit terbuka begitu juga dengan matanya.


Puluhan hingga ratusan bangunan dengan ukuran yang sangat besar dan menjulang tinggi ke langit membuat Arvus tak bisa menyembunyikan wajahnya yang terpukau. Bangunan-bangunan yang tak dapat dilihatnya di malam hari karena tertutup indahnya kelap-kelip lampu malam. Memiliki atmosfer dan perbedaan yang sangat jauh dibandingkan saat malam membuat Arvus sedikit sulit menerima fakta bahwa apa yang dilihatnya adalah sebuah tempat yang sama.


"Apakah benar ... ini tempat yang sama?" tanya Arvus dengan mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali. "Ahahaha, tentu saja. Saat siang dan malam, kota ini memiliki atmosfer yang berbeda bukan?" Zarvi sedikit tertawa.


Mobil milik Zarvi mulai memasuki kota. Tak ada penjagaan sama sekali, seolah memberi tanda bahwa siapa pun diperbolehkan untuk masuk. Di tepi jalan, terlihat orang-orang dan robot-robot melaksanakan interaksi layaknya di "dunia nyata".


Teng! Teng! Teng! Suara keras dari besi yang dipukul terdengar dan mencuri perhatian Arvus. Ia mencari asal suara tersebut dan menemukannya. Sebuah robot berwarna emas memegang dua buah besi seperti cymbal pada drum. Robot tersebut dengan semangat berkata, "Pertandingan kedua akan segera dimulai! Pertaruhkan genia kalian!"


Orang-orang yang ada di sekitar sang robot langsung berlomba-lomba menyuarakan suara mereka. Sebuah hologram muncul di setiap hadapan orang yang mau bertaruh. Seorang manusia dengan badan yang setengah robot datang dengan pakaian khas seorang petinju sebelum memasuki ring. Di sisi lainnya, sebuah robot dengan pakaian yang kurang lebih sama datang dengan mengeluarkan uap yang cukup panas.


"Zarvi! Bisakah kita melihat mereka dulu?!" tanya Arvus yang melihat Zarvi dengan mata berbinar. "Kita tak memiliki waktu banyak. Dan juga, jangan menganggap remeh dunia ini. Ingat ... ini sudah menjadi realita." Tegas Zarvi dengan wajah serius yang tetap fokus menghadap ke depan. Arvus sedikit kecewa, tapi ia harus menahan egonya.


Mobil berhenti di depan sebuah bangunan besar dengan ujung yang tak bisa dilihat walau kepala sudah mendongak hingga hampir 90 derajat. "Woah ..." Tanpa sadar Arvus mengucapkan hal itu. "Arvus!" Zarvi sudah berada di depan pintu masuk dan memanggil Arvus yang masih terkagum di depan pintu mobil. Arvus yang mendengar panggilan tersebut langsung berlari menyusul Zarvi.


Pintu kaca terbuka, keduanya memasuki bangunan tersebut. Zarvi membawa sebuah tas mirip tas kerja yang ditenteng, tapi tak seperti tas kerja pada umumnya, tas tersebut seperti terbuat dari besi.


"Zarvi Westman," ucap Zarvi di depan resepsionis robot. Sementara Zarvi sedang berbicara dengan resepsionis robot, Arvus melihat-lihat ke sekitar dengan wajah kekaguman. Orang-orang berlalu-lalang dengan badan yang mayoritas sudah ada setidaknya satu bagian yang berganti menjadi besi (robot). Tak sedikit pula yang terlihat berjalan dengan berbagai macam robot.


Berukuran sangat besar baik secara badan dan tinggi, berukuran normal layaknya manusia biasa, berpenampilan seperti seekor anjing dan kuda, bertubuh kecil dan berbentuk seperti bola, dan masih banyak lagi. Arvus terus berjalan hingga tanpa sadar, ia sudah berada di depan lift. Sebuah robot menjaga di dekat pintu lift. Memiliki tinggi sekitar 1,8 meter, robot tersebut berpenampilan kurus.


Sang robot melihat ke arah Arvus dan berkata, "Apakah Anda ingin naik lift?". Arvus bertepuk tangan pelan dengan wajah yang tak percaya. "Ya, lantai 33." Zarvi yang tiba-tiba sudah berada di samping Arvus. Arvus yang mendengar suara Zarvi langsung terkejut dan bergeser beberapa langkah.

__ADS_1


"Sudah kubilang jangan menganggap remeh dunia ini. Itu termasuk dengan terlalu kagum dan sebagainya." Zarvi mendesah melihat kelakuan Arvus. "Ah, maaf-maaf ..." ucap Arvus dengan tersenyum kaku dan menggaruk bagian belakang kepala.


Pintu lift terbuka. Sebuah garis berwarna biru yang berada di lantai lift menyambung ke lantai yang dipijak oleh Zarvi. Garis tersebut menyala dan lagi-lagi, membuat Arvus terkagum. Arvus merinding. Ia merasakan tatapan yang seolah mengatakan "Anak bandel ... bisakah kau tidak mengabaikan peringatanku?" dari wajah Zarvi.


Arvus berjalan secara terkaku-kaku memasuki lift.


Pintu lift tertutup dan mulai bergerak ke lantai atas. Ketika lift sudah menyentuh lantai 11, dinding bangunan yang semula hanya besi berubah menjadi kaca. Berada di ketinggian yang cukup untuk mendapati pemandangan indah dari seluruh kota, membuat Arvus menyentuhkan kedua tangannya ke kaca lift. Walau semua yang dilihatnya sedikit berdebu dan nampak agak berwarna kuning, tapi kekagumannya tetap tak bisa dipungkiri.


Ting! Suara tanda lantai yang dituju telah sampai berbunyi. Pintu terbuka dan Zarvi diikuti oleh Arvus berjalan keluar dari lift. Lagi dan lagi, untuk yang ke sekian kalinya Arvus dibuat kagum. Kali ini ia dibuat kagum dengan interior dari lorong yang ada. Memiliki garis biru di sepanjang dinding lorong, lantai empuk bak berada di hotel bintang lima, hiasan dan pajangan modern baik berupa robot maupun miniatur kota dan robot, serta seluruh kaca di bagian dinding luar yang memanjang dan membuat pemandangan dari seluruh kota dapat terlihat.


Keduanya berjalan dan Zarvi berhenti di depan sebuah pintu. Sebuah pintu besi dengan garis dinding yang terhubung ke pintu tersebut. Zarvi membuka pintu..


Arvus yang terlalu asik melihat miniatur dan hiasan yang ada, baru sadar bahwa dirinya sudah tertinggal oleh Zarvi.


"Zarvi ...?" ucap Arvus yang baru sadar. Ia melihat ke sekitarnya. Kosong, tak ada sedikit pun suara yang terdengar. Ia mencoba melihat-lihat ke sekitar dan hanya ada satu pintu besar yang dapat ditemukannya selain hiasan dan pajangan. Arvus memiliki firasat bahwa Zarvi ada di dalam ruangan tersebut. Namun, ia tidak berani untuk membuka pintu tersebut.


Rambut putih dengan gradasi bagian bawah perak serta mata berwarna merah yang seperti menyala. Berkulit putih dengan tubuh yang ramping. Tubuh yang tak terlihat sedikit pun tanda-tanda adanya pergantian anggota tubuh dengan sebuah besi.


"Apa kau tuli? Aku bertanya padamu. Apa yang sedang kau lakukan di tempat seperti ini?" tanya sang Wanita dengan menatap tajam Arvus. "A-aku diajak oleh seseorang untuk ke sini ... kalau kamu?" tanya balik Arvus. Mendengar Arvus yang bersikap "sok" ramah, sang Wanita memberikan pandangan sedikit heran dan curiga. "Sikap yang sok ramah ini ... apa kamu Player baru?" tanya sang Wanita yang sudah berdiri tepat di hadapan Arvus.


Te-terlalu dekat ... dia benar-benar terlalu dekat! batin Arvus. "Y-ya, dari mana kau tahu?" tanya Arvus dengan sedikit memundurkan badannya. "Polos, naif ... sikap khas seorang Player terutama yang baru. Hilangkanlah sikap naif dan polosmu itu. Kedua sifat itu hanya akan membunuhmu saja."


Ketika sang Wanita telah selesai berbicara, pintu terbuka. Zarvi keluar dari ruangan, memberikan salam jarak jauh dengan jari tangan kiri yang dibentuk pistol, ia taruh di dekat ujung alis dan sedikit menghempaskannya ke depan. Zarvi melihat ke depan dan ia terkejut dengan adanya sosok wanita yang berdiri di hadapan Arvus.


"Woah! Kau mengejutkanku. Apakah dia temanmu, Arvus?" tanya Zarvi. "Temannya? Tentu tidak. Aku tidak ada niatan untuk berteman dengan siapa pun di dunia ini terutama seorang Player baru." Sang Wanita dengan ketus membantah. Wowow ... galak sekali ... batin Zarvi dengan reflek mundur ke belakang. Dengan isyarat mulut, sang Wanita menyuruh Zarvi untuk menepi dari jalannya. Zarvi yang memahami hal tersebut langsung menepi dan sang Wanita masuk ke dalam ruangan yang tadi dimasuki oleh Zarvi.

__ADS_1


Dar! Pintu ditutup dengan cara dibanting. Arvus dan Zarvi memejamkan kedua mata mereka. Secara perlahan, mereka mulai membuka kedua mata mereka dan melihat satu sama lain. Tawa kecil timbul dan mereka berjalan pergi ke arah lift.


Arvus dan Zarvi telah turun dari lantai atas, sedang berjalan untuk kembali ke mobil. Ketika mereka akan keluar dari gedung, tiba-tiba sebuah mobil melayang dengan posisi berdiri melewati jalanan yang sedang ramai. Zarvi dengan reflek langsung menarik Arvus ke belakang tubuhnya, inisiatif untuk menjaga dan melindungi Arvus.


Alaram dari mobil-mobil yang terparkir berbunyi dengan sahut-menyahut. Membuat suasana kota yang tadinya ramai akan kegaduhan dari pertarungan jalanan, orang berjualan, nyanyian band dari robot dan manusia, dan lainnya menjadi hening seketika hanya menyisakan suara berisik dari alarm mobil-mobil yang terparkir.


"Arvus ... sepertinya pembelajaran pertamamu sudah dimulai," ucap Zarvi dengan sedikit menyeringai. Arvus melihat senyuman di wajah Zarvi, ia bertanya mengapa Zarvi dapat tersenyum di kala kondisi sedang kacau.


Sesosok manusia dengan zirah besi berwarna perak serta bertubuh besar dengan tinggi lebih dari 2 meter berjalan di tengah kota. Membawa sebuah pentungan berapi yang diseret dengan tangan kirinya. Pentungan tersebut membuat garis di aspal jalanan, membekas cukup dalam hingga harus diaspal ulang.


"Arvus, bersiaplah untuk lari ketika aku suruh." Zarvi memasang kuda-kuda untuk berlari. "Ba-baiklah!" jawab Arvus dengan sedikit gugup.


Nguung ...! Besshhh! Bunyi yang memekakkan telinga dan angin yang sangat kencang menerpa jalanan kota. Kencangnya bunyi dan angin tersebut terasa hingga ke dalam gedung tempat Arvus dan Zarvi berada. "A-apa itu?!" tanya Arvus dengan terengah-engah.


Dep dep dep dep dep ... dari langit kota terlihat sebuah helikopter berbentuk persegi dengan baling-baling di masing-masing sisinya. Mengeluarkan cahaya berbentuk silinder beberapa belas meter di hadapan Pria Berzirah Besi.


"Well, well ... tak kusangka kau akan membuat pertunjukan seheboh ini." Seorang pria berjalan dengan tegap, menembus silinder cahaya dan membenarkan sarung tangannya. Dari belakang sampingnya, terlihat beberapa orang dengan pakaian berwarna krim bergaris merah dan puti serta mengenakan sebuah helm modern dengan kaca hitam yang menutupi bagian depan wajah sepenuhnya.


"Larius ... tak kusangka kau sendirilah yang akan menyambutku!" teriak Pria Berzirah Besi dengan mengayunkan pentungan miliknya.


---------=======-----------


AUTHOR :


Terima kasih telah membaca sampai chapter ini. Semoga betah dan terus membaca hingga chapter terakhir. Mohon dukungan dari teman-teman ya! Dan untuk kritik serta saran, bisa dicantumkan di kolom komentar!

__ADS_1


Terima kasih!


----------=======-----------


__ADS_2