
Dari arah yang berlawanan, sebuah ledakan terjadi pada salah satu gedung pencakar langit. Dua helikopter polisi langsung datang dan mengepung serta mengitari gedung yang meledak. Senjata yang mampu menembakkan bola energi dengan daya ledak yang sanggup meledakkan sebuah tank telah diarahkan ke gedung.
Kepulan asap menutupi pandangan. Kepulan tersebut tak kunjung menghilang seakan-akan memang secara sengaja dibuat.
Siung! Dengan kecepatan yang sulit dilihat mata telanjang, sebuah peluru Sniper melesat menembus tangki salah satu helikopter. Helikopter meledak, terjatuh, dan menimpa salah satu minimarket hingga membuat hancur. Ledakan kembali bergemuruh bahan bakar yang ada di dalam minimarket terciprat api akibat ledakan helikopter.
Kericuhan tak hanya terjadi di dua tempat. Dari arah barat, sebuah pesawat jet melesat dengan sangat cepat hingga membuat helikopter yang tersisa sempat terguncang. Hanya berselang satu detik, dua pesawat jet polisi melintasi langit siang kota, mengejar dengan menembak menggunakan Machine Gun.
Arvus dan Hudge cukup kebingungan dan takut melihat apa-apa saja yang baru terjadi. Namun, di dunia yang "baru" ini, mereka sadar bahwa semua kegilaan bisa terjadi.
Lampu penyebrangan telah berubah kembali menjadi hijau. Arvus dan Hudge menghela nafas dan menyebrang. Mereka melewati kerumunan orang yang sedang menyoraki "kehebatan" Lambert dalam mengalahkan tiga polisi sekaligus.
"Lambert!" teriak para gadis kegirangan menutupi suara sorakan dari semua orang.
Lambert melepas helmnya, mengibaskan rambut pirang agak panjangnya, dan berjalan seperti seorang pembalap Nascar yang baru keluar dari mobilnya. Melambaikan tangannya bak seorang artis yang dipuja, Lambert memberikan kedipan dan senyuman kepada semua orang yang memanggil namanya--terutama para gadis.
Arvus dan Hudge yang sudah sampai di depan rumah sakit sempat melihat kejadian tersebut sesaat. Mereka merasa mual melihat apa yang baru saja mereka lihat.
"Arvus, mari kita masuk ..." ajak Hudge.
"Ya ... aku setuju," balas Arvus.
Ketika mereka mau mengalihkan pandangan dari melihat Lambert, terdengar suara tergesa-gesa dari belakang mereka. Keduanya dengan serentak melihat ke belakang.
Para perawat baik suster maupun brudder terlihat sangat sibuk mengurusi orang-orang baik yang terluka maupun meninggal. Ada yang baring di atas brankar, ada yang berjalan dengan dibimbing, ada yang ditandu, bahkan ada yang dibawa dalam sebuah kotak berwarna perak.
Sebuah kondisi miris yang belum pernah Arvus dan Hudge lihat sebelumnya. Sebuah kondisi yang tidak pernah diperhatikan, tidak, bukan tidak pernah diperhatikan. Tapi memang sengaja tidak diperhatikan oleh orang-orang yang ada.
"Hudge, aku tahu ini terdengar kasar, tapi ... mengapa bisa ada jasad?" tanya Arvus lirih.
__ADS_1
"M-maksudnya?" balas Hudge kebingungan.
"Apakah ini artinya, kalau kita mati, maka kita akan mati? Tidak ada Respawn lagi?" tanya Arvus dengan wajah sedikit cemas.
Pertanyaan Arvus membuat Hudge sedikit tersentak. Ia dibuat terkejut karena Arvus mampu berpikir sampai ke titik di mana mayoritas pemain yang ada, tidak mempedulikan hal tersebut.
"Ya ... kaubenar." jawab Hudge dengan mengepal kuat tangannya.
Keesokan harinya ...
Arvus dan Hudge telah bersiap di depan rumah sakit, menenteng barang bawaan mereka. Pakaian baru yang diberikan oleh Wilhem membuat penampilan mereka menjadi lebih ke-Wier-Pibimitu-an. Arvus mengenakan baju lengan terbuka hitam dengan celana jogger hitam bergaris putih, membawa tas selempang dengan dua Dagger yang ada di sarungnya, serta mengenakan sarung tangan di kedua tangannya. Sedangkan Hudge mengenakan hoodie hijau tua dengan celana jogger krim, menenteng Sniper di punggungnya, serta membawa tas selempang dengan ukuran lebih besar dibanding punya Arvus.
"Apa kalian sudah siap?" tanya Wilhem yang baru keluar dari rumah sakit.
Arvus mengacungkan jempol sedangkan Hudge menganggukkan kepala dengan tersenyum.
"Baiklah," ucap Wilhem yang kemudian mengeluarkan Verada-nya. Wilhem mengetuk salah satu aplikasi yang ada di dalam Verada-nya.
"Oh, aku sedang memesan jemputan," jawab Wilhem dengan menunjukkan layar Verada-nya ke Arvus dan Hudge.
"Semacam aplikasi transportasi online?" tanya Hudge.
"Ya, tapi ... ini agak sedikit berbeda ..." jawab Wilhem yang kemudian tersenyum seakan-akan menyembunyikan sesuatu.
Dengan ekspresinya, Arvus bertanya tanpa suara ke Hudge. Hudge menggelengkan kepala. Beberapa menit kemudian ... Arvus dan Hudge dibuat terpelanga. Sebuah mobil dengan bentuk seperti kaca pesawat jet, memiliki aksen garis hijau menyala, knalpot serta lampu belakang yang sama-sama berjumlah empat, serta memiliki sayap di bagian belakang mobil.
Seorang pria dengan seragam coklat-putih membuka bagian atas mobil yang ternyata adalah pintunya. Bagian atas dari mobil tersebut berbentuk berbentuk setengah bola yang memanjang. Terbuat dari kaca dengan ketebalan melebihi ketebalan kaca mobil presiden. Sang supir berdiri lalu keluar dari mobil.
"Apa benar dengan Tuan Wilhem?" tanya sang supir dengan tersenyum ramah berdiri di samping mobil. Wilhem menjawab, "Ya, benar."
__ADS_1
Sang supir mempersilakan Wilhem beserta Arvus dan Hudge untuk naik ke atas mobil. Wilhem, Arvus, dan Hudge menaiki mobil sementara sang supir memasukkan barang-barang bawaan Arvus dan Hudge ke bagasi.
Setelah selesai memasukkan barang, sang supir menaiki mobil dan mengeklik salah satu tombol yang ada pada gelang yang dikenakan sang supir di tangan kanannya. Pintu secara otomatis tertutup, membuat Arvus dan Hudge yang baru pertama kali menaiki "taksi", terkagum.
Setelah tertutup sepenuhnya, sang supir kembali mengeklik salah satu tombol yang ada pada gelangnya. Mobil secara otomatis menyala, mengeluarkan suara yang halus, tapi elegan. Garis lampu yang ada di bagian luar mobil ikut menyala, berwarna merah yang berartikan sudah ada penumpang.
Mobil digas oleh sang supir dan perjalanan menuju ke tempat kerja Arvus dan Hudge dimulai. Tak ada hal aneh yang terjadi, hingga mereka keluar dari kota.
Baru tiga menit keluar dari kota, taksi Arvus sudah dihadang oleh sekumpulan orang dengan lengan robot yang berpakaian seperti anak punk. Empat motor memepet erat taksi yang ditumpangi Arvus dari kanan dan kiri. Masing-masing motor membawa satu boncengan dengan tongkat baseball di tangannya. Sedangkan sisanya berada di depan dan di belakang taksi yang ditumpangi Arvus.
Tak! Sebuah tongkat baseball diayunkan ke kaca, tepat di depan wajah Arvus. Namun, ketebalan serta ketahanan kaca membuat ayunan tersebut tidak ada apa-apanya, bahkan membuat yang memukul kehilangan keseimbangan sehingga hampir membuat ia dan yang membawa motor terjatuh.
"Cih! Mobil ini terlalu keras!" celetuk kesal yang memukul.
"Oi! Apa yang harus kita lakukan?!" teriak yang mengendarai motor.
"Minggirlah! Aku ada ide!" teriak dari salah seorang yang ada di barisan belakang.
Sebuah senjata berbentuk seperti Rocket Launcher berada di pundak salah seorang pembonceng, sudah membidik dan tinggal menarik pelatuk. Motor-motor yang ada langsung menyingkir, entah yang di depan maupun yang di samping taksi Arvus. Sedangkan yang di belakang memelankan laju mereka, memberi jarak agar tidak terkena "efek ledakan" taksi Arvus.
Dengan memutar lidah, Pembawa Rocket Launcer menarik pelatuk setelah berteriak, "Mati kau!"
Swoosh! Peluru Rocket Launcher melesat dengan sangat cepat ke arah taksi Arvus.
---------=======-----------
AUTHOR:
Terima kasih telah membaca sampai chapter ini. Semoga betah dan terus membaca hingga chapter terakhir. Mohon dukungan dari teman-teman ya! Dan untuk kritik serta saran, bisa dicantumkan di kolom komentar!
__ADS_1
Terima kasih!
----------=======-----------