
" ... ah ...." Arvus secara perlahan mulai membuka matanya. Kepalanya terasa sangat pusing, pandangannya juga kabur. Ia mengedip-ngedipkan matanya mencoba untuk memfokuskan pandangannya sembari mencoba untuk berdiri. Tubuhnya sempoyongan, bergoyang-goyang kesulitan mencari keseimbangan. Dengan kondisi yang setengah sadar, ia menyadari bahwa ia sudah dekat dengan sebuah kota, tinggal berjalan sedikit lagi ia akan sampai.
Ketika ia mau berjalan, tiba-tiba kakinya menginjak sesuatu. Ia melihat ke bawah, dan sedikit terkejut tatkala melihat Hudge yang sudah terkapar tak sadarkan diri. Celananya robek, kakinya memar. Arvus sedikit menyipitkan matanya, ingin melampiaskan amarahnya karena Hudge, merupakan salah satu bagian dari orang-orang yang telah menghabisi Auctrix dan yang lainnya.
Tangan kanan ia angkat, gigi ia gemeratakkan, niat ia bulatkan. Ia melayangkan sebuah pukulan ke arah Hudge yang tak sadarkan diri, tapi ketika tangan tersebut sudah hampir menyentuh, ia menghentikannya. Arvus terjatuh ke belakang, duduk bertongkat lutut. Melihat ke matahari dengan mata telanjang, dengan tatapan kosong.
Srek ... suara bergesekan dengan tanah terdengar. Arvus melirik dan ia melihat Hudge yang mulai terbangun dari tidurnya. Hudge memegang kepala kanannya dan mencoba untuk berdiri. Tak bisa menyeimbangkan tubuhnya, ia terpeleset dan terjatuh ke belakang, terkapar tepat di hadapan Arvus yang sedang meliriknya.
Deg ... jantung Hudge seakan berhenti. Ia dapat merasakan amarah besar yang sedang ditampung oleh Arvus walau sorot matanya kosong. Wajah datar seolah senyuman yang biasa terpancar dari wajah Arvus, seakan tak pernah ada sebelumnya. Arvus, seperti telah berubah menjadi pribadi yang baru. Namun, ia tidak menyalahkan hal itu.
Hudge mencoba kembali berdiri, tapi ia selalu terpeleset. Hudge memukul-mukul kakinya, sedangkan Arvus hanya melihat dengan wajah datar. Tak bisa bangkit, Hudge melihat ke sekitarnya, mencari sesuatu yang bisa membuatnya berjalan. Beruntung, ia melihat sebuah besi panjang yang bisa dijadikannya sebagai tongkat. Hudge merangkak menuju ke besi tersebut dan meraihnya. Dengan perjuangan yang sangat berat, ia akhirnya dapat berdiri kembali walau dengan bantuan tongkat besi.
Hudge berjalan perlahan menghampiri Arvus lalu mengulurkan salah satu tangannya ke Arvus. Arvus memandang datar tangan yang diulurkan oleh Arvus. "Apa yang mau kau lakukan?" tanya Arvus. " ... aku tak tahu," jawab Hudge. "Lalu kenapa kau berusaha keras?" tanya Arvus. "Karena kau masih hidup," jawab Hudge dengan air mata yang sedikit berderai.
Jawaban Hudge menusuk dalam-dalam hati dan pikiran Arvus. Membuat sebuah tamparan yang sangat keras terhadap dirinya. Arvus menggemeratakkan giginya. "Bagaimana kau bisa berkata semudah itu setelah menyembunyikan semuanya!" bentak Arvus yang memukul tongkat besi sanggaan Hudge. Hudge terjatuh, dagunya berdarah. Arvus sempat terhenti sejenak, merasa sangat bersalah membuat Hudge terjatuh.
__ADS_1
Namun, dendam pribadinya membuat ia memalingkan wajahnya. Hudge tak marah sedikit pun. Ia mencoba meraih tongkatnya kembali dan berdiri menghampiri Arvus sementara Arvus duduk bertongkat lutut dan menukuk. Menjambak rambut dengan kedua tangannya, ingin menangis tapi air mata tak ada yang mau keluar. Raut mukanya menunjukkan rasa stressnya karena memiliki beban yang terlalu berat untuk seorang anak berusia 13 tahun.
Tek ... Hudge telah berdiri di belakangnya dengan posisi yang sama, mengulurkan tangannya. Arvus melirik ke belakang. Wajah Hudge yang tanpa keraguan, membuat Arvus menjadi kesal. "Apa-apaan wajah itu?!" bentak Arvus yang berniat memukul tongkat Hudge tapi terhenti tatkala hampir menyentuhnya. Arvus memejamkan matanya, menggemeratakkan giginya, dan kemudian melemaskan tangan yang mau memukul tongkat Arvus.
Hudge mengeluarkan Verada miliknya, mengetuk layarnya dan memutar rekaman suara.
"Arvus, setelah ini kau akan menghadapi dunia yang sebenarnya." Mendengar suara Auctrix, Arvus terkejut dan mengangkat kepalanya. "Alasan mengapa dunia ini penuh kegilaan, akan kau temukan. Jikalau suatu saat kau tak punya alasan untuk hidup, maka jadikanlah mataku ini sebagai alasan. Buktikanlah bahwa mataku tak salah dalam menilai dan memilihmu!"--Auctrix tersenyum--"Arvus, tetaplah menjadi seorang manusia," ucap Auctrix. "Tuan Auctrix!" teriak Zarvi. Suara berhenti terdengar, menandakan rekaman telah selesai diputar.
"Ini direkam sesaat sebelum Tuan Auctrix pergi membantu Zarvi melawan Keylora dan Gross," ucap Hudge yang kemudian memasukkan kembali Verada miliknya ke kantung celana. "Apa yang akan kau lakukan setelah ini ... aku akan mengikutimu." Arvus melihat ke arah Hudge. "Aku ... akan menjadi saksi atas kebenaran bahwa mata Tuan Auctrix tidaklah salah."
Hudge kembali mengulurkan tangannya. Namun, ia yang sudah terlalu lelah akan kembali terjatuh. Arvus dengan cepat menadangnya dan merangkul Hudge. "Aku masih belum tahu tentang apa yang aku lakukan. Aku juga tak tahu apa-apa tentang dunia ini. Oleh karena itu, jangan mati, Hudge. Aku membutuhkanmu." Perkataan Arvus membuat Hudge sedikit melebarkan senyumannya. Dengan memejamkan matanya, ia menjawab, "Ya ... tentu saja."
"Selamat datang di Kota Roumas, jikalau ingin masuk ke kota, tunjukkanlah identitasmu," tegur seorang penjaga dengan pakaian berwarna merah bertangan besi. Arvus mengeluarkan Verada miliknya dan Hudge lalu menyodorkannya ke penjaga. Penjaga terkejut tatkala mengetahui bahwa Arvus dan Hudge adalah seorang Player. Ia tak menyangka bahwa akan ada Player dengan tubuh sekecil ini dan level serendah ini.
"Ma-maafkan kelancanganku, silakan langsung masuk," ucap penjaga dengan sedikit tidak enak hati. Sembari menerima kembali Verada miliknya dan Hudge, Arvus bertanya, "Apakah kau tahu tempat pengobatan terdekat?" Dan dijawab oleh sang penjaga, "Tentu, setelah ini naiklah kereta untuk ke stasiun 2. Setelah keluar dari stasiun 2 akan terlihat papan elektronik yang bertuliskan 'Healthy Center'."
__ADS_1
"Terima kasih," jawab Arvus yang kemudian kembali berjalan sembari menuntun Hudge. Penjaga terkejut mendengar ucapan "Terima kasih". Untuk pertama kalinya, ada seorang Player yang berterima kasih kepadanya. Ia memandang kagum dan takjub Arvus dan Hudge. Ia tak pernah menyangka bahwa ucapan sehalus itu akan keluar dari dua orang Player cilik yang sedang sekarat.
Perjalanan menuju ke stasiun tidaklah mudah. Orang-orang berlalu-lalang melewati dan menyenggol Arvus dan Hudge yang bertubuh kecil. Jalanan yang ramai dengan para pengemudi yang mayoritas seenaknya, membuat Arvus harus meningkatkan kewaspadaannya.
Lampu lalu lintas telah berganti menjadi merah. Lampu pejalan kaki telah berubah menjadi hijau. Meski begitu, pengemudi yang seenaknya karena menjadi seorang Player, membuat Arvus harus berpikir dua kali untuk sekadar menyebrang jalan.
Orang-orang (termasuk robot dan cyborg) yang sadar akan keberadaan Arvus dan Hudge, langsung teralihkan perhatiannya terhadap mereka berdua. Dua manusia kecil dengan tubuh penuh luka, berjalan dengan kesulitan membuat jejak darah yang berceceran. Banyak yang merasa iba, tapi karena beberapa alasan, tak ada yang berani menolong Arvus dan Hudge.
"Oi, oi, oi! Kalian mau ke mana?" terdengar suara agak nyaring dari seorang pria dari jalan yang telah dilewati Arvus. Arvus yang hampir tak sadarkan diri, tak mengacuhkan ucapan pria tersebut dan hanya fokus untuk sesegera mungkin ke stasiun terdekat. Diacuhkan oleh seorang anak kecil membuat Pria Bersuara Agak Nyaring menjadi kesal. "Berani-beraninya kalian mengotori jalanku!" teriak Pria Bersuara Agak Nyaring.
---------=======-----------
AUTHOR :
Terima kasih telah membaca sampai chapter ini. Semoga betah dan terus membaca hingga chapter terakhir. Mohon dukungan dari teman-teman ya! Dan untuk kritik serta saran, bisa dicantumkan di kolom komentar!
__ADS_1
Terima kasih!
----------=======-----------