Wier Pibimitu 2100

Wier Pibimitu 2100
Ch. 12 - Lima Hari Bagian Terakhir


__ADS_3

Teriakan pengungkapan dari Hudge memukul telak Arvus. Waktu serasa berhenti baginya dan jantung berdegup dapat terdengar jelas olehnya. Tubuhnya melemas dan terjatuh ke belakang. Kulitnya menjadi pucat, sorot matanya menunjukkan dengan jelas kepada Hudge betapa kecewanya Arvus.Hudge memalingkan wajahnya ke bawah, duduk bersimpuh dengan kedua tangan yang mencengkram kuat lututnya.


Syiutt ... debam! Tembakan energi berbentuk silinder memanjang keluar, membuat orang-orang berbaju krim menyingkir. "Hudge!" teriak Auctrix dengan darah yang mengalir dari dahinya. Mendengar teriakan tersebut, Hudge memukul pahanya dan langsung melompat ke kursi kemudi. Ia menyalakan mobil dan membuat Aria, Keylora, Gross, dan orang-orang berbaju krim teralihkan perhatiannya.


"Apa yang kalian lakukan?! Jangan biarkan mobil itu pergi!" teriak Aria dengan panik dan bergegas mendekati mobil yang dikendarai Hudge. Dak! Tendangan keras menghampiri perut Aria dan membuat Aria terhempas hingga menabrak tiang (kayu) rumah. "Jangan berani kau mendekati adik-adikku, wahai Pengecut Cilik." ucap Zarvi dengan tatapan ingin membunuh dan mengelap darah yang ada di dekat bibirnya.


"Be-berani-beraninya kau menyerang tuan putri!" teriak orang-orang berbaju krim dengan tombak berujung besi listrik yang diarahkan ke Zarvi. Ceting! Keylora dengan sangat cepat melesat ke arah Zarvi, mengayunkan pedangnya, tapi masih bisa ditahan oleh Zarvi. Dengan menyeringai, Keylora sedikit melemahkan kekuatan dorongannya, membuat Zarvi sedikit maju. Keylora berputar ke samping dan menendang tepat di pipi kanan Zarvi.


Zarvi terhempas dan terpantul ke tanah hingga beberapa meter. Auctrix sempat melirik Zarvi, berniat menolong, tapi Gross tidak memberikannya kesempatan. "Kau mengganggu sekali," ucap kesal Auctrix. Dengan tangan kanan besarnya, Gross berniat memukul telak Auctrix tepat di wajah. Namun, Auctrix yang sudah menduga akan hal itu, langsung memberi serangan balik kepada Gross.


Tangan besinya menahan pukulan Gross dan mencengkramnya dengan kuat. Sebuah besi berbentuk silinder dengan tengah yang bolong, muncul dari telapak tangan besi yang menahan pukulan Gross. Di alam ruang yang kosong, terdapat bola energi yang daya ledaknya dapat mengancurkan gedung bertingkat dengan mudah dan oleh Auctrix bola energi tersebut dipadatkan hingga sekecil kelereng dan muat ke dalam ruang yang kosong.


Besi silinder tersebut menusuk tajam ke dalam tangan Gross bak sebuah piston. Membuat Gross berteriak kesakitan hingga memekakkan telinga semua orang. Keylora yang terkejut mendengar Gross berteriak, langsung melihat ke arah Gross. Matanya melebar, ia tahu apa yang akan dilakukan mantan bosnya dulu.


"Terkutuklah kau, Bapak Tua!" teriak Keylora dengan posisi badan melindungi Aria.


DAAAMMM! Ledakan yang sangat-sangat besar tercipta. Saking besarnya ledakan tersebut, shockwave yang dihasilkan dapat terasa sampai ke kota terdekat walau tak begitu kencang. Dan dari kota terdekat pula, ledakan tersebut dapat terlihat dengan sangat jelas.

__ADS_1


Beberapa menit berlalu ... Arvus terbangun dari tidur yang terasa sangat lama baginya. Pandangan yang kabur secara samar-samar mulai menjadi jelas. Bayangan seseorang sedang berdiri dengan tegap terlihat di hadapannya. Kobaran api yang sedikit membesar, membuat sosok di balik bayangan tersebut menjadi jelas.


Dengan wajah penuh oleh jelaga, Arvus terjatuh, bersimpuh di belakang Zarvi yang berdiri tegap dengan kedua tangan yang direntangkan. Arvus menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba mengeluarkan suara tapi tak bisa. Dahinya ia sentuhkan ke tanah, air mata berderai, dan kedua tangannya memukul-mukul tanah. " ... a ... aaA ... AAAGGHHH!! AAAAAGGGGHHHHH!!" Arvus menggeliat di tanah dengan dahi yang terus tersentuk ke tanah.


Hudge yang baru terbangun, langsung mengerti dengan apa yang baru saja terjadi. Hatinya hancur. Melihat Arvus menangis, melihat Zarvi yang telah setengah gosong, dan melihat segala kekacauan yang tercipta akibat ulah kakaknya.


***


Setelah cukup lama waktu berlalu, Arvus nampak mulai tenang. Dengan menelan ludah, Hudge mencoba menghampiri Arvus. Langkah demi langkah, secara perlahan mulai ia tapakkan. Keraguan akan rasa bersalah, terus menghantuinya. Tangan kirinya sudah hampir menggapai pundak Arvus, tapi keraguan membuatnya sangat ketakutan.


"A-Arvus ..." ucap Hudge. Arvus terdiam. Hudge berniat untuk memanggil sekali lagi, tapi ia sungkan. Ketika ia sudah menyingkirkan kesungkanannya dan mencoba memanggil Arvus sekali lagi, tubuh Arvus terjatuh ke samping. "Arvus!" ucap Hudge panik melihat Arvus yang sudah tak sadarkan diri. Hudge memeriksa nafas yang keluar dari hidung Arvus dan bisa sedikit lega karena Arvus masih bernafas.


Dengan merangkul Arvus, ia mencoba untuk berdiri. Tubuhnya yang lemah, membuat dirinya keberatan untuk menggotong Arvus seorang diri. Sial ...! Kenapa aku lemah sekali?! batin Hudge dengan mencoba menyeimbangkan tubuhnya.


Di tengah malam yang dingin, Hudge berjalan menuju ke pemukiman terdekat atau setidaknya, sebuah tempat tinggal terdekat. Harap-harap dapat menemukan seseorang yang rela mengobati Arvus walaupun ia tahu di dunia seperti itu, orang-orang "baik" sangatlah sulit untuk ditemukan. Menempuh perjalanan yang baginya jauh dan melelahkan, ia berhenti untuk beristirahat sebentar.


Ia memeriksa uang yang ia miliki. Pas! Dengan uang segini, aku bisa membeli obat untuk Arvus, kan? batin Hudge dengan melihat secercah cahaya. Ia baru teringat dengan Verada milik Arvus dan untungnya, Verada tersebut masih tersimpan di kantung celana kanan Arvus walau layarnya telah cukup retak. Perjalanan kembali ia lanjutkan.

__ADS_1


***


Hudge menyeret kakinya. Dahaga menyerang tenggorokannya. Perut terus menerus berbunyi. Mata yang sayu nan mulai mengantuk. Perjalanan semalaman melewati jalanan kosong yang tandus dan berpasir serta berdebu seakan tak ada ujungnya.


Hudge kembali beristirahat untuk yang kesekian kalinya. Menyelonjorkan kedua kakinya, ia memukul-mukul pahanya. Bergeraklah, wahai kaki! Aku mohon ... bergeraklah! batin Hudge dengan memukul kakinya. Dengan menarik nafas dalam-dalam dan menahan rasa sakit, ia kembali berdiri, merangkul Arvus dan kembali melanjutkan jalannya.


Perjalanan yang menghabiskan waktu hampir semalaman, mulai membuahkan hasil. Dinding besar yang membentang berbentuk lingkaran terlihat dari kejauhan. Sedikit lagi ... Arvus, tunggulah sebentar! batin Hudge dengan sedikit senang.


Dep ... tak. Hudge terjatuh ke depan, begitu pula dengan Arvus. Hudge yang kebingungan mengapa ia terjatuh, baru tersadar bahwa kakinya sudah tak mampu melanjutkan jalan lebih dari ini. Digerakkan sedikit saja, rasa sakitnya minta ampun. "Kenapa harus sekarang ...?! Sudah kubilang untuk tahan sedikit lagi bukan?!" ucap Hudge membentak dirinya dengan memukul-mukul kakinya menggunakan tangan kirinya.


"Aku mohon ... bergeraklah. Aku memiliki janji yang harus kutepati. Aku memiliki hutang yang harus kulunasi. Aku ... memiliki teman yang harus aku tolongi!"


---------=======-----------


AUTHOR :


Terima kasih telah membaca sampai chapter ini. Semoga betah dan terus membaca hingga chapter terakhir. Mohon dukungan dari teman-teman ya! Dan untuk kritik serta saran, bisa dicantumkan di kolom komentar!

__ADS_1


Terima kasih!


----------=======-----------


__ADS_2