Wier Pibimitu 2100

Wier Pibimitu 2100
Ch. 9 - Lima Hari Bagian 1


__ADS_3

Sudah dua hari semenjak kedatangan Arvus ke dunia Wier Pibimitu dalam bentuk realitas. Banyak hal yang terjadi, tapi masih sangat sedikit jikalau dibandingkan dengan apa yang akan dihadapi ke depannya. Namun, untuk saat ini Arvus sedang menikmati masa-masa di mana ia masih bisa menganggap dunia ini sebagai permainan belaka.


"Hm ... Chipper, dari mana makanan dan minuman ini didapatkan?" tanya Arvus yang sedang berada di dapur bersebelahan dengan Chipper. "Ohoho ... kau belum tahu rupanya ...," ucap Chipper yang kemudian berbisik ke Arvus. "Sweseswesweshweshwesh," bisik Chipper yang kemudian membuat mata Arvus melotot dan terkejut. "HAH?!" teriak Arvus mendengar bisikan Chipper. Mendengar teriakan Arvus, Zarvi dan Rodri langsung masuk ke dalam dapur dengan cukup panik, disusul oleh kakak beradik Aria dan Hudge.


"Ada apa?!" tanya Zarvi dengan bersiap bertarung dengan tangan kanannya yang berupa tangan robot. Bebarengan dengan kedatangan Zarvi dan yang lainnya, Chipper tertawa dengan terbahak-bahak. "Bahahahahahaha! Apa kaupikir itu beneran? Kau benar-benar tertipu dengan perkataanku!' tawa Chipper dengan memegangi perutnya. Rodri yang penasaran, mendekati Chipper dan bertanya tentang apa yang baru saja Chipper sampaikan kepada Arvus.


"Pfft, Ahahahahahaha! Dia benar-benar percaya?!" ucap Rodri yang ikut tertawa terbahak-bahak. Zarvi memasang wajah datar melihat sikap kenak-kanakan dari kedua temannya. Ia mendekati Arvus dan mengelus kepalanya sembari berkata, "Tenang saja ... mereka hanya bercanda. Kau tahu sendiri, kan, bagaimana sikap mereka?" Arvus melihat ke wajah Zarvi dan Zarvi tersenyum kepadanya. Melihat senyuman Zarvi, Arvus dapat bernafas cukup lega.


"Dan sekarang ...." Ceklek, suara senjata yang diisi ulang terdengar. Seperti piston yang bergerak satu kali, Zarvi membuka tutup tangan kanannya bersiap memberi pelajaran kepada Chipper dan Rodri. DAM! Zarvi dengan tanpa belas kasihan menembak bola energi ke arah Chipper dan Rodri. Beruntung, kedua orang tersebut dapat menghindari tembakan dari Zarvi.


Rodri dan Chipper melihat ke arah lubang besar yang tercipta akibat tembakan Zarvi. Rodri berteriak, "Oi, Zarvi! Itu ulahnya Chipper!" dan dijawab oleh Zarvi, "Hah? Aku tidak mendengarnya." Ceklek, suara senjata yang diisi ulang kembali terdengar.


Sementara di dapur sedang terjadi keributan dengan tawa dari Arvus serta kakak beradik, Auctrix yang berada di ruang kerjanya tersenyum mendengar keramaian yang sudah lama tidak mengisi telinganya. "Anak muda ... anak muda ...," ucap lirih Auctrix sembari membalik halaman koran yang sedang dibacanya.


***


Hari ketiga Arvus di rumah barunya telah tiba. Kali ini, ia diajak oleh Chipper untuk berburu bahan makanan sekaligus pembuktian bahwa apa yang dikatakannya semalam hanyalah guyonan belaka.


"Chipper, di mana kita akan berburu?" tanya Arvus yang heran karena sekitarnya hanyalah tanah bak gurun saja. "Tunggu sebentar ... sabar ... kuncinya adalah sabar ...," ucap Chipper yang terlihat sangat fokus. Untuk pertama kalinya sejak Arvus tiba, Chipper memperlihatkan wajah yang serius. Gredekdekdekdekdek ... suara gemuruh terdengar dari dalam tanah.

__ADS_1


"Chipper!' teriak Arvus dan dijawab oleh Chipper, "Sssttt! Tenanglah!"


. . .


"GROOAAHHH!!" Sesosok iguana berwarna coklat dengan ukuran tubuh sekitar delapan meter muncul dari bawah tanah. Membuat tanah bergetar dan Arvus terkejut bukan main. "Arvus!' panggil Chipper dengan mengeluarkan dua buah pisau daging. "Saatnya mulai berburu ...," ucap Chipper dengan lidah yang melintasi bibir atasnya.


Chipper melempar pisau yang berada di tangan kanannya ke arah dada Iguana Coklat dan langsung menusuk dan menyangkut. Chipper sedikit menarik tali yang ia pegang di tangan kanan--tali terhubung dengan pisau--lalu memutar-mutar pisau yang di tangan kirinya bak seorang koboi. Setelah diputar selama beberapa detik, Chipper melemparkan pisaunya dan pisau tersebut memutari leher Iguana Coklat lalu melilitnya.


Iguana Coklat berteriak dan mulai menjadi sangat liar. Mengangkat kepalanya tinggi-tinggi dan mencoba memutar-mutari kepalanya agar terlepas dari lilitan Chipper. "Arvus! Berilah sedikit serangan supaya kau bisa mendapatkan exp!" teriak Chipper di tengah pertarungannya melawan Iguana Coklat. Se-serangan ...? Melawan monster sebesar itu ...? Arvus kemudian menggelengkan kepalanya serta berkedip. Ia meyakinkan dirinya dan langsung berlari secara barbar ke arah Iguana Coklat.


Tak seperti milik Zarvi dan Chipper, senjata Arvus, belati, tidak memiliki tali yang tersambung di ujung gagangnya. Membuat ia harus memberi serangan dari jarak dekat yang terhitung nekat terutama untuk pemula sepertinya. "Oi, Arvus! Jangan bertindak goblok! Lemparkan saja belatimu ke arah hewan ini!" teriak Chipper yang agak panik dan terkejut melihat tindakan gegabah dari Arvus.


Tuk ... angka tiga muncul menandakan bahwa serangan Arvus telah masuk. Cu-cuma tiga ...? batin Arvus dengan pundak turun dan wajah melongo. "Arvus, jangan melamun!" teriak Chipper. Baru saja mendengar peringatan dari Chipper, Arvus langsung dibuat mental oleh ekor Iguana Coklat yang ukurannya hampir setengah tubuhnya. "Pfft ...," ucap Chipper menahan tawanya melihat ekspresi lucu Arvus yang terpental.


Arvus terseret beberapa meter, tapi tak ada kerusakan besar yang diterima, hanya nyawa berkurang setengah. Eh, apa-apaan ini? Berkurang sampai setengah?! Arvus terkejut melihat bar nyawa yang ada di pojok kanan atasnya sudah berkurang sampai setengah. Ia teringat dengan Chipper yang masih berduel. Ia mengangkat wajahnya dan mencari Chipper.


"Monster Cleaver!" teriak Chipper dengan senyuman lebar bak psikopat. Tali yang melilit leher Iguana Coklat memancarkan sinar cahaya berwarna merah darah. Chipper menarik tali yang ada di tangan kirinya dengan kuat dan ****! Leher Iguana Coklat terpuitus dengan diikut darah yang terciprat ke mana-mana. Mata Arvus melebar, berbinar-binar terkagum dengan apa yang baru dilihatnya. Sosok yang selama ini selalu terlihat bermain-main dan bercanda, mampu menunjukkan sisi penuh "keheroikan".


***

__ADS_1


Keduanya telah sampai di depan rumah, dengan tubuh Iguana Coklat yang sudah dipotong-potong hingga cukup ditaruh di bak truk. Kepala Iguana Coklat secara utuh terpampang jelas di atas tumpukan tubuh Iguana Coklat yang sudah dipotong-potong. "Rodri! Zarvi! Tolong bantu aku!" teriak Chipper yang baru turun dari truk. Pintu terbuka, Rodri dan Zarvi yang sudah terbiasa langsung menuju ke belakang truk dan bersiap untuk menurunkan daging Iguana Coklat serta kepalanya.


"Apa yang terja--huek!" ucap Aria yang mau keluar bersama Hudge. Ia langsung mual dan berlari menuju ke kamar mandi tatkala melihat kepala Iguana Coklat terpampang jelas. Sementara itu, Hudge langsung pingsan dan terjatuh ke belakang.


. . .


Arvus, Zarvi, Rodri, dan Chipper mengedipkan matanya beberapa kali dan melihat satu sama lain. "Pfft," ucap keempatnya yang kemudian tertawa.


Tawa Arvus sangat lepas. Ketiga lainnya baru menyadari bahwa ini adalah kali pertamanya Arvus dapat tertawa dengan lepas. Sebuah tawa yang tidak dipaksakan, sebuah tawa yang keluar karena kesenangan. Arvus sendiri belum menyadarinya. Ia belum menyadari bahwa ia sudah menemukan seorang teman.


---------=======-----------


AUTHOR :


Terima kasih telah membaca sampai chapter ini. Semoga betah dan terus membaca hingga chapter terakhir. Mohon dukungan dari teman-teman ya! Dan untuk kritik serta saran, bisa dicantumkan di kolom komentar!


Terima kasih!


----------=======-----------

__ADS_1


__ADS_2