Yiana: Dan Catatan Tentang Cintamu

Yiana: Dan Catatan Tentang Cintamu
Episode 1.1


__ADS_3

"Wah, kamu pintar banget." Satu paraf cantik tercantum di sudut kanan bawah kertas tulis dari sosok berjari ramping nan putih. Senang sekali ia lihat anak laki-laki----pemilik buku yang ia paraf----tersenyum lebar atas usahanya.


Selanjutnya, anak perempuan dengan rambut twintail yang serahkan hasil usahanya. Kali ini, tatapan mata sang guru memancarkan kecewan, tapi tak tinggalkan senyum manis sebagai penyemangat untuknya.


"Sini, Sayang. Ibu jelaskan," katanya dengan lambaian tangan mengisyarat demikian, lantas anak itu menurut. "Ingat tulisan 'memberi'?"


Dia jawab lewat gelengan. Ia lihat matanya telah berkaca-kaca. Lekas wanita itu mengeja setiap huruf sambil menulis di kertas kosong punya dia, disusul si anak perempuan yang mengikuti ucapannya dengan nada bergetar.


Alangkah senangnya ia ketika bel istirahat berdering keras. Seluruh murid keluar kelas menyisakan mereka berdua.


"Nanti Ibu ajar kamu lebih banyak ejaan saat menulis, ya."


Usai dapat anggukan kecil dari anak itu kemudian keluar kelas, wanita berambut cokelat sebahu tersebut cepat-cepat kemas barang dan berjalan cepat menuju ruang guru.


Hari ini juga, ia tak boleh lewatkan masa me time-nya begitu saja. Kemarin, ia jadi perempuan paling menyedihkan sedunia hanya karena tak sempatkan me time menonton film dari wishlist.


Begitu tiba di ruang guru, ia sigap siapkan beberapa hal sebelum lakukan ritual.


Secangkir cokelat panas telah siap.

__ADS_1


Dua keping roti bakar dari pedagang di sekitar sekolah pun ia beli.


Layar laptop siap putar film di aplikasi langganannya.


Dan tak lupa airpods yang senantiasa hinggap di salah satu telinga.


Maka dengan ini, ritual menonton film pun dimulai.


Film romansa Asia adalah kegemarannya. Hanya lewat inilah pikiran wanita itu sumpek kebanyakan fiksi tentang kehidupannya. Semuanya berawal dari kata 'andai'.


Di menit sekian, ia membayangkan dirinya menjadi tokoh utama yang dilindungi seorang pria dari hujan deras menggunakan payung, lari berdampingan tanpa peduli pakaian bawahnya basah kena cipratan genangan air.


Ah, ia jadi ingin....


"Jangan kebanyakan ngayal lo!" Satu usapan kasar mendarat di muka sang penikmat film di laptop. Senyumnya, tatapan bahagianya, semua, lenyap dalam satu usapan di muka berpoles make-up.


"Apaan sih, Namaya?" tanyanya sedikit dongkol. "Ganggu me time aku aja."


Wanita berkulit sawo matang alias Namaya itu tergelak puas. "Nonton film sih nonton, tapi nggak sampai senyam-senyum sendiri begitu lah."

__ADS_1


Ia malah berpaling tanpa kasih jeda pada film.


"Sadar, Yiana," sambung Namaya duduk di meja Yiana sambil melahap roti bakar tanpa izin. "Umur lo udah 30 tahun. Masih aja berkhayal bisa dapat momen kayak gitu, udah macam anak SMA aja."


"Situ nggak mau aku nikah?" tanyanya melotot.


"Lah, kenapa lo jadi ngomong gitu?" Namaya balas dengan melotot. "Untung gue baru bilang lo 'perawan tua' sekarang gara-gara mengabdi sama film."


"Aku nggak bakal jadi perawan tua!"


"Makanya berhenti nonton itu film! Cari pacar sono biar nggak dikira perawan tua!"


"Idih, ogah banget!"


Cukup dalam hitungan detik, dua perempuan berumur 30-an itu saling tampar muka. Adu mulut pun tak kunjung selesai. Namun, pertikaian mereka mengundang gelak tawa yang mengocok perut bagi seisi ruangan.


"Udah-udah...." Salah seorang sepuh sekolah coba lerai mereka seraya redakan tawa. "Katanya bestie, tapi gaduh mulu."


"Siapa yang gaduh, Bu?" Dan entah di detik berapa, mereka sudah rangkul satu sama lain.

__ADS_1


__ADS_2