
Pertama kalinya dalam hidup Yiana, ia dapat pemandangan langka di umurnya yang siap menikah. Awal bangun tidur, Yiana dapat temukan Ian sedang cuci baju dan piring meski bersama Mama. Mereka—khususnya Ian—sempatkan untuk sarapan bersama, pasal Yiana menolak sungkan. Sudahlah, turuti saja.
Setiap kerja, Yiana pasti terbayang Ian dengan senyum yang menambah ketampanannya. Kau tahu? Itu mengganggu kerja Yiana yang mengajar murid kelas satu SD. Waktu istirahat pun sama, hanya lebih parah ketimbang sebelumnya. Namaya ada, semua jadi kacau. Dia terus bahas soal cowok yang berdiam di rumahnya Yiana, bilang bahwa lama-lama Yiana jauh hati sama Ian. Jangan harap, batinnya membuang muka yang memerah. Gara-gara Namaya, fokus Yiana makin tak dapat ditangani. Dasar Namaya ngeselin!
Ketika pulang, Ian masih mau percantik halaman rumahnya. Yiana tidak melarang sih, mengingat dirinya susah cari waktu yang pas untuk tunaikan keinginan. Toh, di pikiran Yiana sejauh ini hanya tidur, tidur, dan nonton film. Tak ada waktu buat halaman rumah.
Menjelang tidur, Tuhan seperti enggan beri Yiana napas. Napas supaya bisa hidup tenang, tanpa dibayangi wajah ganteng Ian. Tentang bagaimana Ian meyambut kedatangannya dengan senyum manis dan tutur kata yang sopan, atau cara Ian memeringatkan ini-itu. Kalau dipikir-pikir, cocok juga dijadiin suami.
Seketika Yiana membelalakkan mata. Yiana, lekaslah tidur! Jangan berharap banyak Ian jadi suami! Maka, Yiana tidur dengan rona merah menyelimuti telinga.
__ADS_1
Dua Minggu pun berlalu. Yiana ingin masa liburnya tidak terbuang sia-sia. Mungkin ... membantu Ian tidak terlalu buruk. Sekalian bikin kukis cokelat yang terus ia lupakan gara-gara fokus kerja. Namun, sosok yang dicari seakan lenyap ditelan bumi. Peliknya.... Baik makan terlebih dahulu. Ada telur dadar, disisakan hanya untuknya. Tak lama kemudian, Mama masuk rumah dengan tubuh banjir keringat. Jangan heran, dia pakai baju training.
"Ian ke mana, Ma?" tanya Yiana usai ambilkan dua gelas air minum. Buat Mama dan dirinya.
"Belanja." Mama segera duduk sekelumit depan TV yang belum menyala. "Entah belanja apa."
"Kok dia nggak bangunin aku?"
Itu sama sekali tidak merepotkan kok, pikir Yiana dalam hati. Ia justru senang kalau diajak belanja bareng, apalagi bersama Ian—barusan ia mikir apa sih? Spontan Yiana tepuk jidat sambil mendesis, berharap bayangan tersebut segera hilang. Baik buat teh. Bagus untuk perbaiki suasana hati.
__ADS_1
"Padahal aku mau nitip." Bohong! Yiana sudah siapkan semuanya untuk ritual menonton film, kecuali peralatan berkebun. Semoga ia tak lupa membelinya saat gajian. Atau mungkin Ian mau beliin kebutuhan halaman rumah?
"Yiana." Mama tengok anak semata wayangnya dengan tatapan sukar diartikan. Antara penuh harap dan ... gelisah. Apa yang dia cemaskan? "Bisa kemari dulu?"
Yiana menurut, lantas ia bawakan teko dan gelas bekas diminum dan duduk bersila di samping Mama. Ia nyalakan TV walau ujungnya TV yang menonton dua wanita ini. Aroma teh hitam menguar nikmat ketika dituang.
"Mama perhatikan kamu akrab sama Ian."
"Perasaan Mama aja kali." Yiana mana ada akrab sama Ian. Ia jadi tertawa kikuk.
__ADS_1
"Mama serius, Yiana. Makanya Mama kepikiran buat jadiin Ian kakakmu aja." Dan seketika tegukan pertama dalam mulut Yiana menyembur kotori meja.