
Jelas nggak suka! Namun, senyum dan perubahan ekspresi wajah Yiana mengatakan lain. "Nggak, Ma. Aku senang kok. Kan kalau aku masih kerja, Mama ada teman curhat. Nggak perlu nonton TV berjam-jam tunggu aku pulang."
"Ah, iya juga." Dia tertawa renyah, kembali sibukkan diri dengan makan jeruk dan mengobrol sama Ian. Begitu pula dengan mimik Yiana, balik sekusut baju baru diambil dari jemuran. Bahkan ia berhenti rapikan isi rumah.
Harusnya ia tak mengatakan demikian. Andai urat malunya putus, mungkin jeritan Yiana lebih menggelegar dari sebelumnya. Apalah daya, pekikannya lebih mirip cicitan tikus kejepit jebakan.
"Yiana," Mamanya tengok sang buah hati yang masih melajang, "mau bikinin teh nggak buat Mama sama----"
"Buat Mama aja, aku langsung buat," potong Yiana yang tengah lipat tas kain ukuran besar. "Nggak buat Ian."
"Yiana----"
__ADS_1
"Nggak apa-apa, Tante." Ian segera menengahi perdebatan ibu-anak tersebut. "Saya di sini kan cuma numpang. Mumpung saya belum dijemput."
"Kamu tetap kita suguhkan loh, sebagai tamu," kata Mama tak mau kalah. "Yiana, bikinin teh----"
"Oke-oke, aku bikinin buat Mama sama Ian." Lekas Yiana beranjak menuju dapur, letaknya menyatu dengan ruang keluarga. Hanya beberapa langkah saja. Sambil merebus air untuk teh, otak Yiana berkelana soal Ian.
Kok bisa ya Mama percaya sama orang tak dikenal? Sedangkan Yiana selalu disumpal larangan agar tak terlalu dekat dengan orang asing. Ian jelas termasuk sosok tak dikenal. Kenal pun hanya beberapa hari, apalagi Yiana yang baru bertemu hari ini.
Namun, keputusan Mama ada benarnya sih. Kalau Ian dijemput penculik, pasti Yiana ikut terlibat sebagai saksi. Ia takut dirinya berujung jadi terdakwa. Membayangkannya saja bikin bulu kuduk berdiri.
Bicarakan soal orang yang Mama maksud, dia seperti apa, ya? Sampai kasih kartu nama segala.
__ADS_1
"Buat kamu." Suara berat beserta sensasi hangat di telapak tangan Yiana berhasil rubuhkan angan-angan. Tiada bunyi peluit dari teko. Seecangkir teh hangat tengah ia genggam. Dan Ian ada di sampingnya, berusaha berdiri meski bertumpu pada meja.
"Kamu terlihat capek banget," sambungnya mengerling sendu menuju tangannya berbalut plester. "Jadi, biar aku yang layani kamu hari ini."
Sontak Yiana mendelik, cepat menyerahkan cangkir teh untuk Ian. "Harusnya kamu yang terima ... teh buat Mama?"
"Udah aku kasih."
Mampus, Yiana pasti kena omel sebelum tidur. Tetapi, nyeri tiba-tiba menyerang jantungnya. Sakitnya hngga berikan efek sesak. Apa yang salah dalam diri ini? Sejenak ia raba dada, merasakan jantung berdegup kencang.
Apa ini yang namanya sesal? Jika iyaa, Yiana tak mau lagi mendapatkan rasa menyakitkan tersebut.
__ADS_1
"S-sori." Akhirnya Yiana cakap pakai nada lirih. "Harusnya aku yang layani kamu. Tapi, aku kayak gitu cuma gara-gara kamu baru keluar dari rumah sakit, ya. Bukan karena alasan lain."
Bukannya membalas, Yiana justru melihat Ian tersenyum lembut. Senyum laki-laki yang buat jiwa jomlo Yiana menjerit ingin bebas dari jasad.