Yiana: Dan Catatan Tentang Cintamu

Yiana: Dan Catatan Tentang Cintamu
Episode 6.3 - 7.1


__ADS_3

Ian? Mau jadi kakak angkat Yiana? Mendadak tangan Yiana bergetar angkat cangkir teh. "Mama ... bilang apa tadi?"


"Mama mau jadikan Ian anak angkat Ma—"


"Nggak ada anak angkat atau kakak angkat dalam kehidupan ini, Ma." Yiana langsung memotongnya dalam sekali sentakan gelas. Tangannya tak kuat mengangkat cangkir lama-lama. "Nggak ada."


Iya, takkan ada lagi yang namanya kakak. Apalagi spesies model Ian.


"Kenapa? Kan bagus kalau dapat kakak baik kayak Ian."


Ian lebih cocok jadi suami, bukan kakak. Dan lagi-lagi Yiana mikir aneh. "Plis, Ma. Ian bukan siapa-siapanya kita. Kita nggak punya hak buat jadikan dia bagian dari keluarga."


"Tapi kan, Yiana—"


Cukup.

__ADS_1


"Udah ya, Ma." Yiana lekat berdiri bawa teh miliknya. "Tiba-tiba teringat sama janji temen, mau rangkum materi buat besok."


Sedangkan Mama hanya menggumam iya. Tentu dia ingatkan Yiana untuk pikirkan soal tadi, yang ingin Yiana singkirkan dalam ingatannya sekarang juga. Tentang bayangan kakak sepanjang ia hidup, apakah perbuatan itu pantas disebut kakak?


"Aku nggak kenal dia, Mas." Wanita ****** itu....


"Aku beneran nggak kenal kok, Mas." Bisa-bisanya dia bilang begitu tepat di hadapan Yiana dan Mama....


"Heh, situ siapa? Pakai tarik-tarik saya terus. Saya bukan anggota keluarga kalian!"


Wanita biadab! Emosi dalam tubuh Yiana tersalurkan lewat caranya membanting pintu. Ia menutupnya. Ia taruh cangkir teh yang terisi setengah. Dan wanita dengan piyama motif lebah itu berdiri menempel pada daun pintu. Gara-gara perkara mau angkat Ian jadi anaknya, dada Yiana terasa sesak. Melelehnya air mata di pipi pun terasa nyata.


"Maaf, Ma." []


Episode 7

__ADS_1


Kartu nama ini katanya Mama bawa kalau Ian sudah ingat semua kejadiannya. Namun, Mama telah berpikir lain. Dia tak ingat bagaimana kondisi Ian. Lelaki itu amnesia, tak bisa mengingat kejadian di masa lampau. Nasib baik Yiana simpan kartu ini. Setidaknya ia punya senjata untuk taklukkan serangan Mama.


Yiana harus antar Ian pulang. Tanpa berpikir panjang, Yiana menekan nomor telepon yang tertera di kartu. Persetan baterai ponsel tersisa sepuluh persen. Gawainya terbilang rusak kok, suka mati sendiri. Jadi tak masalah ia main hape sambil di-charge.


Tekan tombol hijau, muncul getaran beraturan. Tunggu dan berdoa saja supaya dia mengangkat panggilan dari Yiana.


"Halo?" Seketika badan Yiana sesejuk angin di pegunungan. Luruhlah beban di pundak. Dia terima panggilan masuk.


"Halo?" Dia kembali bersuara. "Siapa ini?"


"A-anu," biarlah Yiana berbasa-basi. "Begini. Saya pak keluarga yang bawa Ian pulang. Em...." Otak dengan egois menghambat pencarian merangkai kata. Ayo, Yiana. Cari kata-kata yang pas. "Pasien yang satu ruangan sama seorang nenek."


Cukup lama dia tak membalas hingga terdengar gumaman panjang. "Yang itu, ya? Kamu siapanya dia?"


"A-anaknya."

__ADS_1


"Ah, saya Key, asisten pribadi Ian. Apa dia masih bersama Anda?" Dia sopan sekali.... Sama macam Ian.


"Iya, tapi sebelumnya boleh kita ketemuan?" Sorot mata Yiana tercipta setitik cahaya putih yang mempertajam aura seriusnya. "Ada hal yang ingin saya bicarakan."


__ADS_2