Yiana: Dan Catatan Tentang Cintamu

Yiana: Dan Catatan Tentang Cintamu
Episode 7.2


__ADS_3

"Tentu." Maka siang itu juga, Yiana datang di lokasi yang mereka sepakati. Kafe yang menyediakan tempat duduk di luar. Angin cukup lembut dan hangat, cocok menjadi teman minum latte. Ia sengaja pesankan minuman serupa untuk orang yang segera ditemui, barangkali dia tak kuat minum kopi.


Nada dering mengusik ketenangan Yiana dalam menyesap latte. Oh, dari Key. Ia segera mengangkat panggilan masuk sembari matanya menangkap sosok lelaki berkemeja hitam sedang mondar-mandir dan tengok kiri-kanan. Lengan bajunya digulung sampai siku. Dan bagaimana bisa sebuah kacamata malah menambah ketampanannya? Yiana pakai kacamata bingkai bulat—kacamata tercantik menurutnya—saja justru bikin wajah makin jelek.


"Kamu di mana?" tanya Key—tunggu. Barusan lelaki yang Yiana pandang sedang berbicara? Sangat pas dengan ucapan di seberang telepon.


"Bentar." Mata Yiana menyipit selidik. "Kamu yang pakai kemeja hitam? Pakai kacamata bulat?"


"Loh? Kok kamu tau?" Dengar pertanyaan Key buat Yiana tertawa.


"Soalnya saya lagi perhatiin kamu di kursi luar," ucap Yiana yakin. Toh, yang duduk minum kopi di luar hanya dirinya. Spontan Key menengok kemudian tersenyum manis. Ah, rasanya Key jauh lebih tampan ketimbang Ian. Serempak mereka putuskan panggilan.


"Udah lama di sini?" Key lekas duduk, sejenak amati latte yang masih penuh. "Ini buat saya?"


"I-iya,"jawab Yiana tersenyum kikuk. "Saya takut kamu kurang suka kopi, jadi...."


Key lantas terkekeh renyah. "Tak apa. Saya memang tak bisa minum kopi lagi."

__ADS_1


Alhasil tawa Key menular pada Yiana. Gelak yang terlalu nyaman bagi dua orang baru saling kenal. Lalu, hening menguasai tempat mereka.


"Saya baru sampai, buktinya kopi masih panas." Yiana pun membuka pembicaraan.


"Bagaimana ... kondisi dia?" Tangan besar Key tampak memutar cangkirnya. "Ingatannya ... masih hilang, kah?"


Mula-mula Yiana tatap lawan bicaranya dengan serius, kemudian menunduk sambil jawab, "Ian baik-baik saja. Tapi ingatannya masih belum pulih."


"Sayang sekali," kata Key tersenyum kecut.


"Kenapa Ian bisa amnesia?"


"B-begini." Yiana menggumam lembut. "Saya mau ... balikan ingatan Ian, apapun caranya."


"Kita tak bisa paksakan Ian buat mengingat kejadian sebelumnya, kan?"


"Memang." Yiana mengerling sedih. "Tapi, aku harus cepat membuat Ian ingat seluruhnya. Aku mau Ian segera pulang."

__ADS_1


"Kamu nggak harus secepat itu antarkan Ian pulang, em...." Tampaknya Key tak tahu namanya.


"Panggil aja Yiana," katanya tersenyum ramah. "Aku tahu kamu mengkhawatirkan kesehatan Ian. Masalahnya, ibuku akan jadikan Ian anaknya kalau amnesianya nggak hilang-hilang."


"Apa?" Mata Key langsung membulat. Bahkan ia batal minum latte.


"Makanya, aku butuh bantuan kamu supaya Ian ingat semua lalu mengantarnya pulang," ucap Yiana panik. Lagi, keheningan menyelimuti mereka.


"Apa yang bisa saya lakukan untukmu, ya?" Terdengar gumaman panjang. Key yang menelengkan kepala terlihat serius berpikir. Apa yang sedang dia pikirkan? Kesampingkan hal itu, mending Yiana ikut andil memecahkan masalah Ian. Mereka saling diam sampai tak menyentuh minumannya.


"Kau bilang Ian dapat luka lebam di tengkuknya, kan?" Sejurus kemudian, Key menggumam mengiyakan. "Kalau gitu, ada orang yang berbuat jahat sama dia. Seperti menjebaknya gitu? Lalu mukul bagian leher Ian dengan benda tumpul."


"Bisa jadi." Namun dalam hati Key melanjutkan: Sayangnya aku tak tahu agenda terakhir beliau. "Satu-satunya cara supaya ingatan Ian pulih hanyalah mengingat kejadian terakhir sebelum tak sadarkan diri."


"Kau sendiri yang bilang nggak boleh sakiti Ian," bantahnya menatap sebal. "Kenapa kasih saran begituan sih?"


"Tidak ada cara lain, Na." Konsentrasi Key benar-benar pecah sekarang, makanya berpaling ke arah jalan besar yang sepi kendaraan berlalu-lalang. "Selagi buat dia mengingat, saya akan berusaha cari informasi tentang agenda Ian."

__ADS_1


Agenda Ian? Key bilang demikian. Alangkah terkejutnya Yiana walau tiada reaksi di wajahnya. Itu berarti ... Ian seseorang yang disegani? Atau dihormati? Masa sih? Jika sampai dugaannya nyata, Yiana takkan bisa berkata apa pun.


__ADS_2