
Yiana hanya mengangguk pelan, sebentar ucapkan terima kasih pada perawat yang berlalu berikan pesan untuk segera ke meja administrasi. Mereka melerai pelukan. Yiana duduk di tepi ranjang, di samping ibunda yang masih lemah. Lama sekali ia mengelus tangan beliau dengan lembut dan menghayati. Keriput, tapi asyik untuk merasakan tekstur unik khas lansia.
"Rumah sepi kalau Mama nggak ada." Yiana memulai percakapan sembari pandang tangan lewat tatapan sendu. "Setiap pulang kerja, hidup aku kembali hampa. Karena Mama nggak ada, dirawat di rumah sakit."
"Oh, maafin Mama udah tinggalin kamu sendiri," ucap sang ibu menangkup wajah mungil Yiana. "Setiap Mama mau tidur, Mama sering bayangkan kamu lakukan ini itu sendirian. Cuci baju sendiri; bersih-bersih rumah sendiri; nonton TV sendiri."
"Aku nggak masalah lakuin semuanya sendiri, Ma," sela Yiana meninggikan suaranya. "Aku cuma ... nggak punya teman curhat aja. Biasanya ketika berangkat sama pulang kerja, aku langsung curhat sama Mama."
"Iya juga sih...." Ibunya mengangguk lamban. "Hari ini Mama janji: Mama bakal jaga kesehatan supaya Yiana tetap punya teman curhat."
"Soal kesehatan jangan main janji, Ma. Nanti jadi dosa." Yiana mengulum senyum. Sontak mereka tertawa dengan tangan menutup mulut.
"Mama nggak bosan di sini?" tanya Yiana coba edarkan pandangan ke sekitar ruangan. Hanya tirai krem yang tersibak berikan jalan dekat jendela. "Mana kali pas aku nggak bisa temani Mama, Mama jenuh."
__ADS_1
"Nggak kok," jawabnya menggeleng lemah. "Justru di sini Mama banyak hiburan."
"Hiburan?" Sejenak dahi Yiana berkerut, kemudian buang napas satu kali hentak. "Mama bohong nih pasti."
"Mama serius, Sayang. Banyak yang ajak Mama ngobrol."
"Iyain aja deh." Yiana malah tergelak samar di sela beranjak dari tepi brankar pasien, niat mau makan sebentar di kantin rumah sakit. Namun, seruan petugas mengurungkan keinginannya. "Aku mau urus administrasi dulu."
"Iya, Sayang."
Selesai urus administrasi pakai pergi ke sana kemari dan menunggu, Yiana yang tengah teleponan dengan pamannya kembali menuju ruang rawat sang ibu. Setiap ia melangkah, sensasi dingin dari keramik merasuk ke kaki telanjangnya. Momen yang paling Yiana sukai seandainya hanya jadi anak dari pengunjung, bukan penunggu pasien.
"Iya, sebentar lagi aku ke sana sama mama." Sejenak kemudian, Yiana menggumam mengiyakan. "Nggak usah. Om jagain mama aja. Aku masih kuat bawa barang. Yep. Tunggu aja di depan pagar buat pengunjung."
__ADS_1
Ia tekan tombol merah. Seketika tampilan berganti dengan rentetan chat dari teman dan grup. Tak penting, maka Yiana abaikan. Mendekati ruang rawat sang mama, sayup-sayup terdengar percakapan.
Langkah Yiana berhenti tepat di ambang pintu. Dahinya mengerut. Apa Mama sedang pamitan pada pasien lain yanng masih dirawat? Tiba-tiba otak Yiana sesak akan hawa positif. Ah, mungkin itulah yang bkin mama betah menjalani pemulhan di sini. Senyum pun terbit di bibir Yiana.
"Jangan sedih," kata mama----sejauh yang Yiana dengar. "Nanti sesekali saya jenguk kamu bareng anak saya."
"S-saya juga katanya diperbolehkan pulang." Pasien itu bersuara.
Tunggu, mengapa ia diam di sini? Sengaja dengarkan pembicaraan mereka? Yiana langsung menggeleng cepat, segera kembali di samping mama.
"Mama," Yiana memanggilnya sambil sibak tirai yang tutupi brankar, "ayo pulang. Om kayaknya udah nungguin kita."
"Sayang." Beruntung Yiana belum bergerak ambil barang, jadi cepat membalas. "Kamu setuju nggak bawa dia pulang?"
__ADS_1
Tanpa ditunjuk siapa orangnya, pandangan Yiana beralih pada sosok lelaki dengan kapas bertempelkan plester di dahinya. Leher dan tangan kanan dia di-gips. Sungguh kasihan. Namun, Yiana justru menatap dia penuh selidik.