Yiana: Dan Catatan Tentang Cintamu

Yiana: Dan Catatan Tentang Cintamu
Episode 6.1


__ADS_3

"Nah, saya harap Yiana mau terbuka sepenuhnya sama kamu."


Mengingat ucapannya saja buat Ian mengembuskan napas panjang. Apakah Ian bisa terbuka pada Yiana? Tidak, Yiana pasti nggak mau bersikap terbuka. Siapa yang bisa akrabkan diri sama orang asing dengan cepat? Ian yakin, Yiana bukan tipikal seperti itu. Wong ibunya sendiri bilang Yiana susah beradaptasi meski bersama kerabatnya.


"Gimana caranya aku bisa akrab sama Yiana, ya?" Sejenak matanya memandang rumput liar yang belum dibabat sebelum lanjutkan memangkas. "Harap-harap cara ini bisa bikin dia senang."


Di lain sisi, Yiana berjalan pulang membawa kresek besar putih. Sambil bersenandung, ia amati isinya. Bahan untuk membuat kukis cokelat. Sengaja Yiana banyakin bubuk kakao. Ia butuh sensasi pahit dan wangi dari kakao. Ia beralih pada isi dompet di tas kecil. Lantas Yiana menggumam panjang. Tiga lembar uang seratus ribu. hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. beli perlengkapan bercocok tanamnya nanti saja deh. Senyum manis pun tersebut di bibir yang lipstick-nya mulai pudar.


Yiana berniat percepat langkah guna sampai rumah, andai tak ada orang yang mencurigakan dekat kediamannya. Cepat-cepat Yiana berhambur ke tempat tersembunyi dan mengamati gerak-gerik dia. Hmmm, seorang wanita. Wajahnya nggak jelas karena tertutup topi. Dia mengamati ... Ian yang sedang memangkas rumput? Dahi Yiana mengerut. Buat apa? Baik samperi dia. Yiana segera keluar dari persembunyiannya, kemudian ambil langkah kecil menuju tempat wanita itu berdiri.

__ADS_1


"Permisi." Baru Yiana sentuh pundaknya, wanita itu malah tersontak kaget lalu membungkuk lari-lari.


"Hei. Hei! Mau ke mana?" Sampai Yiana berteriak dan lambaikan tangannya, orang tadi enggan melirik. Terus berlari hingga lenyap dari pandangan Yiana. Akhirnya, ia hanya bisa mengarah pasrah. "Dia kenapa sih? Aneh banget."


"Kamu udah pulang?" Suara berat di seberang sana menarik perhatian Yiana. Eh, ia kira Ian tak tahu. Rupanya dia kemari. "Manggil siapa?"


"Tadi ada orang...." Mendadak Yiana gantungkan ucapannya. Kalau Ian tak tahu ada orang sedang mengamatinya, berarti orang itu.... Ish, Yiana tak boleh berburuk sangka dulu! "Emm, tadi kamu telepon orang nggak? Atau ... waktu aku nggak ada di rumah, mama sempat telepon seseorang nggak?"


Yiana spontan mengerjap polos. Benar juga yang dibilang Ian. Kalau dia punya ponsel, dari awal mama pulang pun Ian pasti sudah dijemput orang. Aduh, bodohnya ia! Yiana langsung tepuk just berulang kali.

__ADS_1


"Apa itu?" Dengan hati-hati Ian bertanya sambil andai kresek putih di genggaman Yiana.


"Oh, bahan buat kukis." Yiana balas lewat tatapan ingin tahu terhadap halaman rumahnya. Mereka berjalan beriringan setelahnya. "Kamu baru mulai beresin depan rumah?"


"Huum," jawabnya mengangguk mantap. "Anggap aja bentuk terima kasihku, sudah mau beri tumpangan tinggal di sini."


"Tum ... pangan?" Yiana lekas melirik. Dua pasang mata saling bertemu di petang hari penuh semburat jingga. Demi apapun, tatapan mata Ian terasa teduh. Otak Yiana berusaha enyahkan perasaan aneh ini, tapi hatinya tak mau kalah. Yiana ingin seperti ini terus. Mempertahankan spesies langka seperti Ian. Walau nanti Yiana harus siap dengan akhirnya.


"Eh iya, kamu mau lanjut potongin rumput, kan?" Yiana langsung gelagapan ketika akan sadarnya kembali merasuki tubuh.

__ADS_1


"Iya, sekalian mau tanam sesuatu."


"Tunggu, aku mau ikut." Yiana bergegas masuk rumah hingga teringat sesuatu: Dari mana Ian dapat benihnya?


__ADS_2