Yiana: Dan Catatan Tentang Cintamu

Yiana: Dan Catatan Tentang Cintamu
Episode 2.2


__ADS_3

Sebentar lagi, Yiana.... Hanya itu satu-satunya cara untuk tetap bersabar. Selama periksa hasil kerja siswa dan menandatanganinya, entah alasan apa Yiana salahkan segalanya selain karena kemauan berjumpa sang ibu. Ia salahkan jam yang seakan berjalan lambat. Ia berprasangka buruk pada bel yang seakan mau menjatuhkannya sedalam mungkin menuju keterpurukan. Bahkan ia mendumel kalau semua guru enggan bilang Yiana harus pulang cepat. Mereka jahat.


"Bu Yiana robek bukuku." Lamunan Yiana hancur karena tangisan. Anak laki-laki bertubuh kecil itu meraung-raung dengan bentangan buku menghadap pintu kelas, seperti mau mengadu mama pasal kertas sobek.


"Cup cup." Yiana dekati dia dengan tergesa-gesa. Tangan rampingnya menghapus air mata di pipinya yang merah merona, kemudian mendekap tubuh mungil penuh erat. "Jangan nangis. Nanti Ibu belikan buku baru. Atau kamu mau----"


Bel sekolah berdentang kuat. Semua anak keluar! Harusnya Yiana yang keluar duluan! Nasib buruk deh. Ia masih harus redakan tangis anak orang. Yiana dilanda cemas. Berpikir cepat. Ayo! Ia paksa otak untuk jalankan tugasnya. Apalagi ada ibu anak ini. Sialan!


"S-sudah waktunya istirahat, Sayang." Lekas ia melepas pelukan, balik usap air mata dia. "N-nanti Ibu datang ke rumah kamu. Mau Ibu belikan apa? Buku baru atau apa? Hm?"


"Mainan...," jawabnya lirih.


"Oke." Yiana tersenyum lebar. "Ibu belikan nanti. Udah, istirahat dulu. Mama kamu nunggu tuh."


Tanpa pedulikan anak yang berjalan pelan sambil seka sisa air di mata, Yiana buru-buru kemas barang. Ia harus dapatkan izin sebelum kepala sekolah berubah pikiran!

__ADS_1


****


Istirahat masih berjaya. Begitupun semangat Yiana yang kembali membara ketika keluar dari ruang kepala sekolah. Tangannya mengapit kertas: surat izin. Wanita itu lari secepat kikat menuju ruang guru. Bahkan sepertinya pelari marathon kalah tanding.


"Namaya!" Baru tiba di sana, Yiana langsung kerahkan sebagian tenaga untuk menjerit di hadapan Namaya yang mau buang sampah. Yang dipanggil sampai tutup mata kuat-kuat.


"Eh, geblek. Nggak usah teriak-teriak," tegurnya menatap garang. "Udah dapat izin?"


Yiana mengangguk mantap. "Kamu gantiin aku nanti, ya."


"Sip ah." Senyum mereka makin lebar. Tanpa buang waktu, Yiana gaet tas yang sebelumnya dikemas sebelum masuk. Laptop, ponsel beserta charger dan airpods KW, semua keperluan Yiana sudah masuk kantong selempang.


"Bentar, Na." Namaya menghampiri Yiana yang siap berangkat. Dia serahkan kantong plastik buram. Pasti isinya jeruk. "Gue cuma bisa kasih ini."


"Ih, padahal aku mau beli jeruk," kata Yiana setelah periksa isinya.

__ADS_1


"Gue nggak percaya lo bakal bawa oleh-oleh buat orang sakit."


"Kata siapa----"


"Udah, sana pergi." Dia langsung dorong Yiana secara paksa keluar ruangan. Kala berjalan pelan ke parkiran motor, ia baru ingat.


Waktu jenguk Namaya saja Yiana memang tak bawa apa-apa.


...****************...


"Mama!" Kepala Yiana muncul di balik tirai, bertepatan dengan perawat yang mencabut jarum infus dari tangan keriput seorang wanita. Tak terlalu tua bila lihat rambutnya masih menghitam kilat.


"Yiana." Dia terkekeh renyah, sedikit meringis ketika mencabut sisa plester dengan cepat. "Syukurlah kamu datang. Tadinya Mama mau minta pamanmu saja buat jemput. Ternyata kamu yang kemari."


"Aku ajak paman kok. Mana mungkin aku lebih peduli kerjaan ketimbang Mama yang terus dirawat," kata Yiana tergelak samar. "Lihat, aku bawa apa? Tadi ada teman kasih ini buat Mama."

__ADS_1


"Jeruk?" Sang Ibu kembali terkekeh renyah menerima kudapan segar dari Yiana, bahkan memeluk anak semata wayang dengan sebelah tangan. "Sampaikan terima kasih Mama buat teman kamu."


__ADS_2