Yiana: Dan Catatan Tentang Cintamu

Yiana: Dan Catatan Tentang Cintamu
Episode 1.3


__ADS_3

Sekarang, apa yang mesti ia lakukan? Pikirannya berkelana minta buatkan materi pembelajaran saja. Akan tetapi, hati mendesak pingin nonton film sampai pagi. Sebuah panggilan masuk dari Namaya ia terima.


"Kenapa, May?" tanya Yiana bersandar di dinding sembari luruskan kaki.


"Mau bikin materi bareng kagak? Gue sendirian nih."


Pikiran Yiana yang menang. "Mau lah! Untung kamu ngajak!" Lekas dengan semangat kemerdekaan, Yiana kembali ke ranjang membawa peralatan tulis dan laptop. Jemarinya bergerak lincah di atas papan ketik, bahkan ketika menyibak tiap halaman yang mau ia buatkan materinya untuk besok. Panggilan Namaya pun masih tersambung dengan mode speaker. Mereka saling lempar candaan dan diskusi sepanjang waktu berjalan menuju subuh. Puluhan lembar halaman di buku tak memadamkan semangat mereka.


Ah, Yiana teringat suatu hal ketika materi selesai ditulis. Lantas ia bertanya pada Namaya, tentu setelah dapat izin.


"Kalau kamu jadi istri nanti, apa pelayanan terbaik yang kamu kasih buat suami kamu?" Pertanyaan tersebut terucap tanpa Yiana sadar, begitu pula Namaya yang terdiam cukup lama hingga Yiana coba panggil namanya untuk pastikan masih terjaga.


"Entahlah," jawabnya dengan suara rendah. "Mungkin ... menyiapkan sarapan dan makan malam buat dia? Buatkan kopi biar suami semangat kerja?"

__ADS_1


Yiana hanya membisu dalam usaha mencerna setiap ucapan rekannya.


"Tumben lo nanya gitu?" Baru juga Yiana buka mulut, dia langsung menambahkan. "Ah, gue tau. Lo udah kebelet punya anak, kan? Makanya kepingin bikah terus konsultasi sama gue gimana caranya manjakan suami."


Yiana jadi kepingin disumpal banyak oksigen. "Kayaknya aku salah konsultasi deh."


Dan Namaya tergelak puas, bikin senyum Yiana makin masam; bikin tatapannya kian sepat.


"Tidak ramah, bintang 1."


Yiana langsung putuskan sambungan telepon tanpa dengar penjelasan Namaya. Biar begitu, Yiana tetap ucapkan terima kasih kala amati foto mereka saat wisuda. Namaya. Dari berteman dengannya di masa kuliah sampai sekarang, Yiana masih merasa nyaman bila bersamanya.


Hanya makan waktu sebentar untuk kemasi barang sebelum rebahan main ponsel. Tiba masanya scroll sosial media, Yiana dilanda bosan. Dengan posisi telentang, ia berpikir. Apa seharusnya Yiana cari itu?

__ADS_1


Ya, sepertinya bagus. Lekas ia ganti posisi tidur paling nyaman menurutnya, kemudian mengetik kata kunci yang pasti terkandung 'istri'.


Cara menjadi istri yang baik untuk suami.


Tipe istri ideal menurut kebanyakan suami.


Apa saja kerjaan istri yang buat suami bahagia menjalin rumah tangga?


Dan topik tentang istri lainnya yang akan penuhi sejarah daftar pencarian. Entah kenapa Yiana cukup menyukai baca beginian. Membaca artikel modelan demikian ibarat sebuah dongeng pengantar tidur. Perlahan, matanya mulai terasa berat untuk sekadar bertahan lewatkan satu malam tak berguna ini.


Yiana ingin begadang, tapi mata dan kenikmatan dunia yang kini susah didapat sangat menggoda.


Jangan! Yiana benar-benar mau begadang, maka itulah matanya melotot lihat layar ponsel. Kantuk pun tak ingin kalah. Justru semakin lama scrolling artikel yang dibaca, Yiana jadi ketiduran dengan gawai masih di tangan.

__ADS_1


Detik sebelum tidur, ia berdoa: semoga asmaranya bisa semanis film-film romansa yang ia tonton. Ah, membayangkannya saja bikin jantung berdebar-debar, apa lagi sampai terbawa mimpi.


Ya, sekadar ada di alam mimpi pun Yiana tak apa. Dan gemerincing bel menjawab keinginannya, tepat ketika wanita itu benar-benar terlelap. []


__ADS_2