Yiana: Dan Catatan Tentang Cintamu

Yiana: Dan Catatan Tentang Cintamu
Episode 2.1


__ADS_3

Sudah satu jam Yiana terpaku depan monitor, padahal guru-guru yang baru tiba lemparkan salam. Layar laptop yang tampilkan materi buatannya semalam bukan menjadi titik fokus. Otak Yiana telah minta sel menyegerakan rapat pasal 'sambutan yang cocok untuk sang mama'.


Posisi Yiana yang terlipat di meja bertukar dengan menopang wajah. Kira-kira ... apa sambutan yang buat ibunya senang?


Beri kado berupa topi rajut? Hell no, Yiana tak punya banyak waktu bila Tuhan tak bagi kekuatan flash.


Kue? Yiana ingat ibunya sangat anti dengan krim kue, sedangkan kebanyakan keik di toko menggunakan banyak krim kocok.


Brownis? Jangan dulu, penghasilan Yiana terlalu tipis guna belikan dessert mewah itu.


Jadi, apa?

__ADS_1


"Woi." Satu tepukan keras di meja bikin Yiana tersontak macam sadar ada gempa. Bahkan tumpuan pada wajahnya rubuh seketika. Dan Namaya ada di hadapannya, bersiap duduk berjuntai yang mampu gepengkan buku. "Masih pagi udah melamun."


Yiana sibuk tenangkan diri, mengelus dada sambil embuskan napas sepanjang mungkin.


"Mikirin apa sih?" tanya Namaya tersenyum simpul. "Serius amat."


"Mama bakal pulang," jawabnya usai hela napas sedalam yang ia mampu. "Ya kali aku bawa bakpia lagi buat sambut mama?"


Bel masuk seakan merebut semangat Yiana. Wanita itu mendadak lesu macam telor mentah sebelum bergerak kemasi barang penting mengajar di kelas.


"Ayo dong, Na." Sejenak dia usap-usap pundak Yiana, kemudian beranjak menuju singgasananya. "Semangat dikit kek. Kan mama lo mau pulang dari rumah sakit."

__ADS_1


Tapi, aku masih hilang akal soal buah tangan buat mama, batinnya semalas langkah kaki yang terseok-seok melintasi lorong sekolah. Ketukan sepatu pantofel putih hampir tak bersuara, bahkan kala tiba di kelas. Meski Yiana membalas salam murid-murid kelas 1 yang mirip sorakan ajak perang dunia, nyatanya nada bicaranya yang ceria cuma topeng. Setiap ia menulis materi di papan tulis, pikirannya sungguh penuh muatan soal mamanya. Materi di laptop yang rencananya ia hapalkan pun kini pupus, tergantikan dengan Yiana yang duduk di kelas membacakan sedikit tugas.


"Mama hari itu kasih aku jeruk." Seorang murid yang berbisik menarik perhatian Yiana. Muka kusutnya lenyap. Tatapan pada sumber bisikan pun cerah kembali. Bocah laki-laki. Bisa-bisanya dia bergosip di umur sebiji jagung.


"Rasanya maniiis banget," tambahnya menggumam, seolah rasa manis yang dimaksud tergambar dari sana.


"Serius?" Mata teman sebangkunya kian bulat sempurna. Sangat polos untuk hati Yiana yang rawan gemas oleh anak-anak. "Nanti siang aku pengen main, sekalian minta jeruknya."


Jeruk.... Fokus Yiana balik pada monitor laptop. Ia rasa buah penuh vitamin C itu bukan ide buruk. Berdasarkan arahan dokter, beliau memang wajib makan buah dan sayur. Memberikan sebuah nutrisi adalah ide cemerlang, mungkin.


Senyum Yiana mengembang samar. Baiklah----begitu embusan napas bersabda. Sepulang kerja, Yiana akan mampir beli jeruk.

__ADS_1


"Yang sudah kerjakan tugasnya, kemari." Titahan Yiana mendapat reaksi teramat cepat. Hampir semua siswa berjejer panjang di hadapan meja guru. Semua mendekap buku yang terbentang lebar.


__ADS_2