Yiana: Dan Catatan Tentang Cintamu

Yiana: Dan Catatan Tentang Cintamu
Episode 3.5


__ADS_3

"A-aduh, Mama lupa taruh kartu nama dia di mana," balas Mama menepuk-nepuk dahinya pelan. Yiana tertawa kecil, lekas bangkit membereskan piring dan gelas kotor bekas Mama. Nanti saja cuci piringnya. Namun, Yiana tak tahu kalau Mama akan terus cari benda tersebut di sekitar kursi singgasana.


"Nanti biar aku yang cari." Ucapan Yiana menghentikan Mama dala mencari kartu nama orang asing. Toh, Yiana balik duduk di samping Mama dengan semangkok kecil pepaya yang dipotong dadu. Ia siapkan sebelum berangkat kerja.


"Jadi, cowok tadi namanya Ian?" Satu suapan masuk ke dalam mulut, disusul Mama yang minta dua potong pepaya dalam sekali tusuk.


"Ya...." Terdengar nada ragu di ballik jawaban Mama. "Kayaknya. Mama juga kurang tau nama aslinya."


Wanita di samping Mama mengangguk paham, tanpa tengok pada lawan bicara.


"Seenggaknya, Mama senang dia banyak ngobrol waktu dirawat," imbuhnya terkekeh renyah. "Banyak yang Mama bahas sama dia. Termasuk cerita soal kamu yang jarang temani Mama."


"Mama!" Dan tawa ringkih Mama semakin meledak.


"Mama paham kok kamu nggak bisa jaga Mama." Salah satu tangan Mama terulur mengelus rambut Yiana. "Kamu kerja buat kita berdua."


"Terus ... Mama nggak jenuh begitu ada Ian?"


"iya, sama seperti Mama ketemu pasien-pasien lama."


Iya.... Itu wajar. Yiana mengangguk samar. Tidak seharusnya ia menyelidiki hal Ian berkedok obrolan santai dengan Mama. Dan nggak semestinya ia hancurkan kebahagiaan Mama.


"Ya sudah, Mama tidur sana."


****


Dua hari kemudian, keadaan Mama jauh lebih baik dari yang Yiana kira. Dia sungguh kuat, sampai Namaya yang baru datang kaget bukan main melihatnya sapu halaman rumah.


"Loh, kok Tante malah bersih-bersih?" Namaya langsung berusaha membantu walau sekadar buang kresek sampah ke bak untuk dibakar.

__ADS_1


"Oh, kamu teman kerjanya Yiana, ya?" tanya Mama usai pakai kacamata----dia selalu bawa supaya gampang kenali wajah di lokasi manapun.


"Iya, Tante." Segera Namaya sungkem sebagai rasa hormat. Namun, Mama justru lirik kanan-kiri.


"Nggak sama Yiana?"


Namaya menggeleng.


"Biasa, lagi bantuin kepala sekolah," jawab Namaya menyerahkan kantong plastik buram pada Mama. "Ini apel buat Tante. Maaf, saya baru bisa jenguk sekarang."


"Nggak apa-apa kok." Mama menerima buah tangan Namaya dengan sopan. Sungguh elegan untuk wanita setengah abad, pikir Namaya. Neneknya saja nggak kayak gini.


"Masuk yuk, Dek Namaya."


"Iya, Tante."


****


Dan tiga pasang mata tertuju pada Yiana.


"Wah, panjang umur, Sayang." Satu orang tengah tersenyum lembut.


"Cieee, baru pulang kerja. Enak kagak jadi babu kepala sekolah?" Satu orang tengah meledek Yiana, lengkap dengan tatapan jahil.


Kemudian satu lagi hanya melempar senyum paling singkat sebelum sibuk seduh teh. Bikin Yiana kesal, tapi ledekan tadi mendominasi egonya untuk membalas.


"Pantesan kamu pulang cepat, ternyata kepo sama tamu kami." Yiana balas dengan seringai miring.


"Heh, nggak usah sangkut pautkan gue sama asmara, ye. Harusnya lo beruntung punya teman kayak gue, masih sempat jenguk emak lo yang tersayang."

__ADS_1


"Oh, jadi kamu nggak ikhlas jenguk Mama aku?" Yiana masih enggan kalah debat, lekas duduk di samping Mama untuk ambil sepotong apel. "Jahat banget jadi orang, May."


"Gue sih ikhlas kalau jenguk----eh, geblek. Itu apel buat emak lo."


"Tapi aku suka apel."


"Bodo amat, Na. Bodo amat. Pokoknya itu apel khusus buat emak lo."


"Udah-udah." Pada akhirnya Mama yang jadi penengah. "Kalian kalau digabungin bawaannya debaaat mulu."


"Habis, Namaya yang ngeledek."


"Heh, situ yang main ungkit ikhlas-nggak ikhlas jenguk orang."


"Haduh...." Pusing sudah Mama tangani mereka. "Ka-kamu nggak mau mandi dulu, Yiana? Atau ... makan dulu?"


"Aku sudah siapkan bakwan jagung buat kamu makan." Yiana nyaris memekik pakai nada anjing ketakutan. Ian ada di sampingnya entah sejak kapan, tengah letakkan dua cangkir.


"Ah, iya. Ian tadi masak," kata Mama segera ambil cangkir berisi teh hitam. "Masakan dia enak loh. Namaya juga makan."


Enak banget ente jadi tamu.


"Kamu mau kubuatin?" Tatapan jutek untuk Namaya tergantikan dalam sekejap demi memandang Ian. Dia masih berjongkok di tempat, masih bertempelkan kain kasa dan plester di jidatnya.


"Barangkali kamu mau rileks sebelum tidur," sambungnya tersenyum lembut.


Ah, tidak. Wajah Yiana memanas. Bagaimana ini? Bahkan ia lupa caranya bernapas. Sialan, semengerikan itukah senyuman seorang lelaki yang tulus?


Tidak, ia belum pernah lihat ketulusan Ian. Wong baru juga kenalan, itupun lewat jalur Mama.

__ADS_1


__ADS_2