Yiana: Dan Catatan Tentang Cintamu

Yiana: Dan Catatan Tentang Cintamu
Episode 3.6 - 4.1


__ADS_3

"Aku...."


"Aku buatin sekarang juga." Begitu cepat Ian bangkit, genggaman kecil pada bajunya pun sama cepatnya. Yiana menahan lelaki dengan nampan di dekapannya.


Iya, harusnya Yiana tak berpihak pada ego.


"Aku bakal buat sendiri nanti," kata Yiana mulai lepaskan cegatannya. Secara tak langsung, ia menolak tawaran Ian. Akan tetapi, bukan berarti Yiana selalu demikian. Ia punya harapan besar, di mana suatu saat mau terima tawaran Ian yang terlihat tulus itu. Hm, entahlah.


Yiana lah yang harus melayani Ian dan Mama, sama-sama pasien yang baru diperbolehkan pulang dari rumah sakit.


"Aku masih pingin begadang." Yiana akhiri penolakannya dengan tawa seringan kertas, berharap Ian mengerti.


"Oke." Ian melengos dari tiga cewek di ruang tamu sekaligus tempat Mama habiskan waktu dengan bersantai depan TV.


"Aku tak bisa memaksa," sambungnya tanpa sepengetahuan siapapun.

__ADS_1


****


"Moga cepat sembuh, Tante." Namaya kembali sungkem pada Mamanya Yiana. "Biar bisa nyuruh-nyuruh Yiana lagi."


"Dih, Mama jarang kayak gitu, ya," sanggah Yiana mengerling malas. "Emang situ yang masih seenaknya nyuruh mama sendiri."


"Hus, Yiana." Mama langsung kasih tatapan tak suka. "Jangan gitu."


"Nggak apa-apa, Tante." Namaya malah tertawa riang. "Emang fakta kok. By the way, Na." Pandangannya beralih pada wanita berwajah polos itu. "Semangat! Lo pasti bisa!"


"Makasih." Ia balas dengan mimik ramah. Mereka menyaksikan Namaya yang pergi sambil lambaikan tangan. Mama tak segan berteriak supaya mau mampir ke mari lagi, entah dalam rangka jenguk atau sekadar main bareng Yiana di sela kerja di luar sekolah. Begitu batang hidung Namaya tiada, Mama masuk lebih dulu. Yiana berdiri di ambang pintu, menatap langit. Sebentar lagi semburat oranye akan lenyap, tergantikan oleh bulan dan bintang, atau mungkin tiada penghias malam.


Dan ... tak ada yang perlu Yiana kerjakan lagi. Semua bersih, tak memberikan kesempatan. Mungkin Ian terlalu gabut, hanya mengobrol sama Mama dan menonton TV. Satu-satunya bagian yang belum Ian kerjakan ialah tumpukan baju bersih di keranjang. Lantas, Yiana angkut bakul tersebut ke kamar.


Tak butuh waktu lama supaya baju terlipat rapi, andai saja Yiana tak memandang secarik kertas kecil dari saku baju tidur Mama. Ada nama orang, nama perusahaan dia, dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

__ADS_1


Mungkinkah ini kartu nama yang Mama maksud? []


Episode 4


Hari Minggu. Sekolah libur. Biaasanya Yiana akan habiskan waktu libur dengan jalan-jalan bersama Namaya atau sekadar rebahan layaknya beruang. Tetapi, halaman rumahnya sangat kosong. Dan Yiana harus berinvestasi tenaga untuk rumah.


Matahari sudah muncul dengan percaya diri begitu separuh halaman rumahnya yang ditumbuhi tanaman liar raksasa berhasil Yiana bersihkan. Sambil menyeka keringat, ia menerawang.


Banyak yang bilang rumah Yiana sangat angker apabila tumbuhan liar menguasai pekarangan. Namun, tak sedikit orang bilang halaman rumah Yiana sangat tidak meriah kalau tanamannya dibabat.


Hah, serba salah emang. Yiana tersenyum kecut usai bernostagia. Sejenak ia lirik lahan seberang. Entah kenapa semangat Yiana langsung merosot.


Kapan selesainya....?


"Yiana." Seseorang memanggil namanya, lantas wanita yang berjongkok dengan celurit di genggamannya segera banngkit. Ian ada di ambang pintu, hanya menampakkan sebagian tubuhnya. "Sarapan dulu. Sekalian istirahat."

__ADS_1


Ya kali sarapan di jam sepuluh? Batinnya menjerit seperti mimik masam di wajah Yiana. Persetan dia mengerti bahasa tubuh. Toh, Ian malah masuk lagi dengan cuek.


Harusnya aku sarapan habis jogging!


__ADS_2