Yiana: Dan Catatan Tentang Cintamu

Yiana: Dan Catatan Tentang Cintamu
Episode 3.3


__ADS_3

"Apa-apaan soal senyum itu?" tanya Yiana buang muka, sekadar menetralkan hawa panas di wajah. "Aku nggak kepincut."


"Aku ... cuma pengen bilang makasih, sudah kasih aku izin buat menginap di sini."


"Menginap? Berapa hari?" Yiana spontan lirik cowok itu dengan tatapan selidik. "Memangnya kamu bisa ingat dalam waktu cepat?"


"Nggak sih," jawabnya di sela menerawang, entah apa yang dia pikirkan. "Rasanya nggak enak kalau aku menginap di sini sampai berminggu-minggu."


Entah kenapa muka Yiana semakin memanas. Demi redakan keanehan dalam tubuh, Yiana gaet tangan Ian ke suatu ruangan kecil. Sudah ada kasur single tipis beserta bantal dan guling, bahkan ada meja kecil. Selebihnya yang buat kamar tersebut sumpek adalah tumpukan baju tak terpakai dan boneka yang berbalut debu.


"Kamu bisa pakai kamar ini selama kamu mengingat semua tentang kamu," ucap Yiana tanpa menoleh sedikitpun. Malahan, dia sendiri yang membersihkan kasur dari debu. Partikelnya datangkan batuk-batuk tak karuan. "K-kasurnya memang tipis, soalnya bekas aku remaja. Setidaknya terakhir kali aku pakai pas kepengen tidur di sini, kasurnya masih nyaman buat tidur."


Tak ada jawaban dari Ian. Diam-diam melihatnya, lelaki itu mematung di ambang pintu. Hah, persetan. Tenaga Yiana masih banyak untuk menyulap gudang jadi kamar layak buat Ian.


"Kamarmu berhadapan sama kamarku." Yiana kembali menjelaskan ketika menepuk-nepuk bantal dan dimasukkan ke sarung. "Kalau terjadi apa-apa, panggill aku. aku masih bisa dengar----"

__ADS_1


"Boneka yang bagus."


"EH BUSET, LETAKIN NGGAK?"


Tak butuh waktu lama untuk bersihkan dan bereskan ruang tak terpakai, andai saja Ian tak banyak iseng ambil sembarang benda. Usai operasikan mesin cuci, Yiana lihat cowok itu tertidur pulas di atas kasur tipis bekas ia waktu remaja.


Pulasnya.... Yiana tersenyum lembut dengan tangan mengangkut kardus sampah. Dalam benaknya, pasti dia lelah dengar ocehan sang ibu dan tegurannya.


"Biarin lah." Lekas ia niat pergi keluar untuk buang sampah. Namun, langkahnya terhenti menangkap sorot mata wanita tua itu begitu kosong.


Kenapa? Yiana sambung perjalanan membuang sampahnya.


Dan bagaimana beliau bisa kenal dengan cowok asing itu? Pikiran tersebut terlintas tepat ia menutup pintu. Diam sesaat. Lirik sang bunda lama-lama dengan sorot mata sukar diartikan.


"Mama udah minum obat?" Yiana kembali bersuara setelah tenggelam dalam jutaan firasat.

__ADS_1


"Udah, tadi bareng minum teh," jawabnya melirik anaknya yang duduk bersandar di sampingnya. Dua puan itu menyaksikan acara malam di TV.


"Ian tidur, Sayang?"


"Udah."


"Di mana?"


"Tempat bekas kamar aku."


Gumaman menjadi balasan dari mama. Sejenak tak ada pembicaraan selain tertawa bersama karena isi acara TV.


"Ma." Yiana tengok Mama dengan sorot mata serius. "Kok Mama bisa akrab sama Ian?"


Bukannya balasan berupa kata-kata, Mama hanya meliriknya tanpa ekspresi apa-apa selain garis lembut di wajah tuanya.

__ADS_1


"Maksud aku, kapan Mama ketemu sama Ian? Sampai akrab gitu," koreksinya mengerucutkan bibir. "Padahal anak Mama yang cantik ini belum tentu seakrab Ian kalau ngobrol sama Mama."


"Aduh, kasihan anak Mama." Lekas ia mendekap Yiana erat, pun mengelus rambutnya. "Mama hanya penasaran sama pasien yang katanya korban penculikan."


__ADS_2