Yiana: Dan Catatan Tentang Cintamu

Yiana: Dan Catatan Tentang Cintamu
Episode 4.4


__ADS_3

"Makasih buat apa?" Ian dekatkan diri tanpa sepengetahuan Yiana. Ada senyum paling langka di bibir Yiana. Bagi Ian, senyum Yiana yang tipis itu mampu perintahkan bulan untuk menambah cahayanya. Begitu pula sorot matanya yang kian sendu.


"Ini pertama kalinya aku diperhatikan oleh seseorang selain keluarga dan sahabatku," katanya mempererat pelukannya. "Kau orang asing, Ian. Kamu bukan siapa-siapanya keluargaku."


"Kok bisa ya orang nggak dikenal kayak kamu bisa bikin aku nyaman?" Satu pertanyaan Satu lirikan. Dan satu harapan akan reaksi Ian.


"Soal itu...." Ian berpaling menonton film yang seharusnya ditonton Yiana saat sendirian. "Aku cuma melakukan hal umum. Sudah sewajarnya kita saling peduli, bukan?"


"Bagiku, itu hal tabu," kata Yiana yang berpaling juga. "Yang kamu lakukan tadi, mengubah pendirianku untuk terus melajang."


"What?" Ian terbelalak kaget mendengarnya. "Jangan bercanda ah."


"Aku serius." Usaha Ian tertawa paksa sia-sia.


"Kenapa kamu bisa kepikiran pengen melajang?" tanya Ian sambil curi pandang lagi ke arah Yiana.

__ADS_1


"Entahlah." Yiana mendengus enteng. "Tba-tiba aja ada pikiran kayak gitu."


Hening menguasai kamar, kemudian perlahan terdengar musik dari film. Soundtrack jenis musik akustik. Sangat damai.


"Setiap orang pasti punya jodoh kok." Celetukan Ian menyita perhatian Yiana. Tampak Ian sedang duduk selunjuran. Kedua tangannya ke belakang sebagai penumpu.


"Sekalipun buat orang yang punya pikiran kayak gituu," sambungnya merunduk lepaskan penat menahan kantuk. "Jodoh ... pasti datang."


Yiana tertegun. Otaknya yang membeku seolah mulai meleleh gara-gara ucapan Ian. Lelaki dengan rambut gondrong yang berantakan. Plester masih menempel di keningnya. Sedang terkekeh pelan. Ah, betapa tampannya dia. Mungkin ucapan Ian ada benarnya deh.


Atau mungkin tidak.


"Kamu lucu banget sih, Ian," ucapnya di sela ketawa sebengek-bengeknya.


"Se-serius?" Padahal dalam hati Ian bertanya-tanya: apa yang lucu? Perasaan ia tak melawak atau memasang muka badut untuk Yiana. "Syukur banget kalau kamu terhibur, Yiana."

__ADS_1


Namun, Yiana tetap mengulangi kalimat barusan, melawak sama-sama hingga film yang mereka anggurin menampilkan tayangan credit. Tentu Ian cuma menambah lelucon yang ia ingat sesekali.


Yiana dan Ian telah selesai kemas-kemas ritual menonton film. Snack yang Yiana kumpulkan di ranjang pun sama sekali tak tersentuh.


"Nih, buat kamu ngemil." Yiana sodorkan snack keripik kentang ukuran besar pada Ian, kala itu dia habis menaruh proyektor mini beserta kabel kepunyaan Yiana. "Mana tau kan selagi aku kerja dan mama lagi sibuk, kamu jadi kurang kerjaan."


Dalam hati Yiana mengharapkan reaksi merajuk ala Ian. Ketika matanya melotot tak senang tapi tangannya menyabet bingkisan dengan cepat, kemudian bilang terima kasih dengan nada jutek. Betapa menggemaakannya Ian. Yiana jadi senyam-senyum sendiri.


Lah, kok Yiana bayangin itu lagi?


"Makasih." Seketika angan-angan Yiana runtuh karena reaksi Ian yang biasa saja menerima kudapan. "Lain kali, kita nonton film sama-sama lagi."


Tidak dengan senyuman manis itu lagi, Ian! Yiana menjerit dalam hati. "Ke-keluar kamu!"


Ia langsung mendorong tubuh Ian dengan sisa tenaga. Tak sudi harus dorong Ian sampai kamar. Cukup di depan pintu kamar Yiana.

__ADS_1


"Kamu masih mau jawab keinginan aku?" Ian bertanya penuh senyum manis.


"Nggak!" Dan jawabannya berupa bantingan pintu. []


__ADS_2