
Ian sudah pergi. Semua telah tidur. Namun, Yiana mengabiskan banyak waktu dengan duduk di ranjang. Proyektor dinyalakan kembali, menampilkan beranda aplikasi film. Lalu, kenapa Yiana malah mematung? Pikirannya masih terngiang soal kejadian beberapa menit lalu.
"Lain kali, kita nonton film sama-sama lagi."
"Kamu masih mau jawab keinginan aku?"
Muncul garis melengkung ke atas di bibir merahnya. Sorot matanya yang sorot mulai memancarkan kehidupan. Lembut. Kemudian, tawa kecil menyembur tipis.
"Entahlah." Mungkin ... iya, sambungnya dalam hati.
****
Pagi-pagi begini, Ian dan Mama sudah dengar Yiana merengek dan terduduk lesu macam gudetama di meja makan. Kedua tangan yang pegang ponsel diselonjorkan, jadi Ian menaruh lauk pauknya di meja dapur.
__ADS_1
"Kok bisa-bisanya aku lupa checkout barang?" Nada parau keluar di sela rengekannya. "Padahal niatnya mau percantik halaman depan rumah...."
"Masih bisa checkout lain kali, Sayang." Mama datang membawa peralatan makan, sekalian menyingkirkan tangan Yiana dengan lembut. "Wajar kalau kamu lupa. Atau sekarang juga kamu checkout er ...tanaman hias yang kamu bilang."
"Variannya banyak, Ma," keluhnya mendesah berat Barulah Yiana duduk tegak menaruh ponsel kesayangannya. "Aku bingung mau pilih yang mana"
Serah kamu aja deh. Entah kebetulan atau tidak. Mama dan Ian kompak membatin demikian.
Dari jam setengah enam menuju pukul setenga tujuh. Kelas baru dimulai jam ssetenga delapan. hany aYiana yang makan selamban siput. Ian dan Mama suda habisan sarapan, nasi di piring Yiana baru terkuras sepertiga. Ian slesai cuci piring, Yiana baru selesai sarapan.
"Kamu nggak mau coba cari bibit tunas di pasar?" Seketika, Yiana berhenti melangka dan melirik Ian.
"Pasar mana?" tanyanya masih memajukan bibir bawahnya.
__ADS_1
"Pasar...." Mendadak pandangan Ian mengabur seiring timbul nyeri hebat di kepala. Ian langsung memegang kepalanya sambil mendesis dan mengaduh samar. Pikirnya, kok ia bisa sakit kepala begini?
"Ian, kamu kenapa?" Yiana menatap panik. Sekujur tubuhnya gemetar. Celingak-celinguk, entah apa yang Yiana cari. Pikirannya benar-benar kosong sekarang. "J-jangan bergerak dulu!"
Tadi itu ... suara siapa? Tahu-tahu dalam sekalikedip, yang Ian lihat bukan postur tubuh Yiana yang mendekatinya.
Seorang wanita bergaun cokelat susu. Ian tak dapat melihat dia. Bagaimana wajahnya yang panik; atau tubuhnya. Sedikit mirip dengan Yiana. Bukan. Dia pasti bukan Yiana.
"Sayang, kamu kenapa?" Kali ini, suara wanita itu terdengar asing. Suara siapa? "Kasih tau aku kalau kamu kurang suka sama bunga yang kubeli."
"Aku...." Sekadar ambil napas pun terasa susah. Bumi enggan memberikan oksigen untuk mantan pasien macam Ian. Ia hanya mampu sebut 'aku' sambil tangannya menggapai sesuatu, bahkan angin tak mau bergandengan. Dia juga masih berlari dengan tempo selambat-lambatnya. Ian berharap Yiana yang kemari, bukan wanita asing yang melintasi memorinya.
"Rian...."
__ADS_1
Rian? Siapa Rian? Alisnya bertaut mengerutkan dahi. Ia bernama Ian, bukan Rian. Apa-apaan wanita itu mendekatinya dengan nama lain? Namun kedipan berikutnya, Ian merasakan tangan dan bahunya hangat, seperti digenggam seseorang.