
Jam setengah dua belas malam. Terakhir Yiana periksa, mama sudah tidur dengan selimut membaluti tubuh kurusnya. Tersisa Ian dan TV yang masih menyala tayangkan film layar lebar dari luar negeri. Entahlah itu film apa, Yiana malas kalau ada Ian.
Tetapi, Yiana mau menyebutnya betuah. Kalau Ian menguasai TV, maka Yiana menguasai laptop! Proyektor mini sudah siap menyorot film daari wishlist. Tak lupa snack di ranjangnya. Yiana sering menabung snack untuk nonton film mingguan. Kopi? Tenang, Yiana menenggak kopi hitam sebelum menyuruh mama tidur. Semoga melek.
Semua bahan ritual telah siap, sekarang-----
"Kamu belum tidur lagi?"
Yiana spontan menoleh, rela layangkan tatapan sehoror kuntilanak. Lelaki kurus itu berdiri di balik pintu, memperlihatkan separuh tubuhnya ke kamar Yiana.
"Bisa nggak sih kamu nggak ganggu aku dulu?" sewot Yiana mempercepat ucapannya. "Sehari saja."
"Aku cuma pegang amanah mama kamu." Ian memasang wajah sedih. Mata sendu. Bibir sedikit mengerucut, juga sedikit menunduk.
__ADS_1
"Amanah apaan?" Nada bicara Yiana masih sama: tinggi dan kecepatannya setara dengan rapper jalanan.
"Me ... ngawasi kamu?" Dan tatapan sayu Ian tunjukkan pada singa yang sedang mengamuk. Bukankah kita sering melihat adegan ini di film? Konon katanya, tatapan sayu seoang lelaki dapat meluluhkan wanita mode singa mengamuk Jadi Ian pikir adegan tersebut terbukti fakta. Yiana dengan mata melotot itu mulai berpaling, melemahkan segala gurat keras di wajahnya. Bahkan semburat merah melingkupinya hingga daun telinga.
"Aku cuma ... turuti kemauan mama," sambungnya mengernyitkan dahi. "Kok wajahmu merah gitu?"
"Apa?" Secepat bintang jatuh Yiana menoleh dengan mata membulat. Kali ini, asap halus keluar dari kulitnya yang memerah.
"Aku nggak apa-apa!" pekik Yiana nyaris hilang suara. "Aku nggak apa-apa, Ian."
"Tapi dari tadi sore, kamu gitu terus loh." Sorot mata Ian kian kuyu. Benar-benar melemakan pendirian Yiana sebagai wanita kuat. "Sebaiknya kamu tidur, dari pada beneran sakit----"
"Aku tetap mau begadang!" potongnya berteriak di depan wajah Ian. "Titik! Nggak pake koma!"
__ADS_1
Sejenak Ian mengerjap polos, masih syok akan tinddakan Yiana dengan semburat merah di mukanya. Apakah itu puncak emosi Yiana ketika sakit? Namn, Yiana bilang tidak sakit.
"Oke." Hanya itu yang dapat Ian ucapkan, tepat dengan tayangnya film di tembok putih lewat proyektor mini. Ah, ada bayangan Ian di sana. Senyum manis terbit di bibir Ian. Mungkin main bayang-----
"Awas, jangan halangi." Tiada cara selain menurut. Mereka berdua duduk di lantai, menonton tayangan film Asia. Ian duduk bersila, pikirannya berkata: ini pasti film romansa. Yiana duduk memeluk kaki, isi otaknya sekosong sorot matanya. Ah, malam penuh estetika.
"Kau suka film romansa?" Diam-diam Ian curi pandang pada perempuan di sampingnya. Yiana masih bergeming. Mata bulatnya tak mau berkedip, sekalipun punya bulu mata teramat lentik.
Lebih baik jangan ganggu, pikir Ian kembali menyaksikan video berdurasi entah berapa menit. Nanti Yiana mengamuk lagi. Ian jadi tertawa lihat wajahnya ketika dongkol. Lucu sekali. Pipinya serasa tembam.
Film semakin intens. Pupil Ian pun kian meluas.
"Makasih." Suara lembut Yiana ciutkan pupil mata Ian. Perlahan ia tengok. Perempuan berambut hitam itu telah ganti posisi: rahang bawahnya menempel pada lutut, tapi mata tak lepas menatap pancaran cahaya dari proyektor.
__ADS_1