
"Hanya ini yang bisa saya masak."
Sayangnya, dua pasang mata justru berbinar-binar melihat hasil usaha keras Ian. Duduk lesehan di meja kecil, tersaji banyak lauk pauk yang hampir semuanya kesukaan Yiana. Bakwan jagung, sop brokoli, bahkan telur cepol bumbu balado. Tadi dia bilang hanya ini yang mampu dia masak? Lelaki itu minta dihajar rupanya.
"Kau sangat mengagumkan, Ian." Mama berkata tanpa mengubah raut wajah penuh kagum itu, termasuk saat menatap Ian yang sedang menuang nasi untuk porsi Mama. "Masak telur ceplok seperti itu, Yiana saja harus minta Mama yang masakin."
"M-mama!" Yiana memekik. Merah sudah wajahnya. Panas pula.
"Benarkah?"
"Iya. Itu makanan kesukaan Yiana."
Sialan kamu, ian.... spontan ia memandang tajam. Tatapan untuk Ian seolah punya bahasa. Jangan-senang-dulu. Sayang sekali, Ian tak merasakan hawa menyeramkan dari Yiana.
"Sila dimakan, Yiana." Bisa-bisanya dia pamerkan senyum manis di depan Yiana. Ingin sangat Yiana menolak dan balik urusi pekarangan rumah. Apalah daya. Setiap lihat masakan di meja, perutnya langsung mendemo minta asupan gizi.
Untuk kali ini saja.... Yiana ambil napas terlebih dahulu sebelum mengambil setiap lauk pauk yang dia sediakan----kecuali sup brokoli, ia ingin makan secara terpisah. Ia menatap porsi makan dengan tatapan gengsi. Lain kali, ia akan belajar masak supaya nggak diledek.
__ADS_1
Satu suapan masuk ke dalam mulutnya, sedetik kemudian matanya langsung berkilau. Ia merasa ... wajahnya ikut secerah suasana hati. Rasa yang menakjubkan. Bumbunya meresap, apalagi bersatu dengan nasi yang masih hangat.
Rasanya pingin meninggoy!
Tak butuh waktu lama untuk menikmat sarapan pagi yang telat ini. Bunyi kelontang piring menarik perhatian Mama dan Ian. Mereka kebingungan, terlebih Ian dengan ekspresi polos.
Ini terlalu enak!
"Kalian ... nggak mau nambah?" tanyanya menahan malu yang merebak jadi semburat merah di wajah dan daun telinga.
"Kamu boleh nambah kok."
"SIAPA YANG MAU NAMBAH SIH?" Meledaklah sensasi aneh dalam raga Yiana. Wanita itu mendadak lemas gara-gara satu teriakan pada lelaki modelan Ian. Efek apa ini? Ia jadi termenung sendiri. "A-aku cuma----"
"Tak apa," sela Ian kembali fokus mengisi perut. "Saya bisa sisakan buat kamu."
Bukan itu maksudku.... Atau memang ini maksudku? Yiana mulai bertanya perihal diri sendiri. Seperti inikah memerankan cewek yang jatuh hati pada lawan jenis?
__ADS_1
"Aku mau nambah."
"Nah, makan yang banyak, Sayang."
Dalam kondisi Mama menuangkan nasi ke piring sang buah hati, kesadaran Yiana seakan mengambang. Kapan ya terakhir kali momen ini terwujud? Ketika Mama versi segar bugar menuangkan nasi untuknya, canda tawaselagi masukkan sesuap makanan ke mulut, kemudian melihat betapa tampannya Ian kala tertawwa dan makan begitu lahap. Cowok idamannya Mirip sekali dengan film yang Yiana tonton. Apa lagi dia menoleh dan berkata: "Kenapa kamu lihat aku terus?"
Lah, kok jadi mikirin cowok itu? Yiana langsung melotot, dari kaget menuju dongkol. Wajahnya lekas memanas hingga sekujur badan.
"Bu-bukan apa-apa....," jawab Yiana mencicit. Ia kira Ian bakal hiraukan tingkah aneh Yiana. Siapa sangka, Ian malah meraba kening Yiana.
"Kamu sakit?"
Poof! Tingkat Yiana tersipu malu meledak keluarkan kepulan asap.
"SIAPA YANG SAKIT SIH?" Bukannya jawaban, yang ia dapatkan justru tawa. Mama amat puas menertawakannya Yiana, sedangkan Ian mengernyit bingung.
Huh, semua ini gara-gara Ian!
__ADS_1