Yiana: Dan Catatan Tentang Cintamu

Yiana: Dan Catatan Tentang Cintamu
Episode 1.2


__ADS_3

"Kita cuma bercanda kok," timpal Yiana mencubit pipi Namaya.


"Oh...." Perempuan setengah abad itu mengangguk pelan. "Kirain apa."


Lepas beliau lalu, mereka berpisah dengan Yiana yang bersandar tunjukkan muka jutek untuk Namaya.


"Nggak usah cembetut kayak bebek mau bertelur, ente," kata Namaya duduk di meja Yiana.


"Lagian kamu malah bahas itu," sanggah Yiana berpaling malas.


"Heh, justru bagus dong gue bahas begituan, wong lo juga nggak mau jadi perawan tua, kan?"


"Nah!" Seketika perhatian Yiana tertuju lewat sorot naik pitam. "Mulai lagi deh."


Sedang yang Yiana sindir malah tersenyum miring. "Makin kelihatan bosan jomlo tuh. Ntar gue siap jadi mak comblang deh, kalau ada kenalan gue yang butuh jodoh."


"Serahlah." Dari raut wajahnya saja sudah tunjukkan betapa tak minatnya Yiana dengan topik yang Namaya bawa. Pikirnya, baik lanjut menonton film ketimbang dengarkan celotehan dia lebih lama.

__ADS_1


"Lo mau, kan?" Sayang, bukan Namaya bila desakannya membuahkan hasil. Dia condongkan tubuh hingga wajah mereka terpaut beberapa sentimeter. "Mumpung gue punya banyak kenalan cowok, ntar gue kasih tau profil lo."


Dan bukan Yiana namanya jika harus kibarkan bendera putih tanpa alasan. Ia kukuh pada pendiriannya yang mengabdi pada film, lantas berpaling tak menjawab. Desakan Namaya makin menjadi pun, Yiana dengan tenang bilang, "Sana beli makanan."


Yiana yakin, hanya dengan tiga kata itu, hati Namaya akan luluh. Otak dia akan teralihkan untuk jalankan misi beli makanan di sekitar sekolah. Voila! Tak ada Namaya, ia bisa hayati setiap adegan romantis di film penantiannya.


Yah, andai Tuhan mau berikan momen manis asmara di kehidupannya, satu adegan saja sudah cukup untuknya.


××××


"Gimana kondisi Mama di sana?" Yiana duduk meringkuk di atas kasur tanpa ranjang. Kaki jenjangnya berbalut selimut yang hadirkan rasa nyaman ketika bertopang dagu di puncak lutut. Hanya kenakan kaos tipis warna putih yang cukup longgar bagi tubuhnya, Yiana tak rasakan dingin malam yang menyeruak liar masuk kamar. Cukup kehangatan di sekitar kakinya, telah berikan sensasi ternyaman dalam hidup.


"Syukurlah...." Namun, senyum penuh kelegaan itu harus lenyap begitu menerima asumsi negatif dalam otak. "Mama ... nggak bosan di sana?"


Tanpa biarkan Mama menjawab, ia menyela.


"Maaf, aku tak sempat jenguk Mama lagi; tak sempat menemani Mama selama dirawat."

__ADS_1


Hanya sesingkat itu, sepasang mata bulat ciptakan bulir bening yang meleleh di pipi.


"Nggak apa-apa, Ana," katanya tertawa renyah. "Setidaknya, Yiana sibuk cari uang untuk kebutuhan kita bersama. Kita berharap bisa umur panjang----"


"Mama pasti panjang umur!" Yiana melotot gelisah. "Aku yakin Mama panjang umur. Aku yakin...."


Penelepon di seberang mulai bergeming.


"M-mama cuma tunggu tanggal pasti aku menikah," kata Yiana meremas selimut sekuat mungkin. "Aku pasti akan menikah sesuai yang Mama mau, tapi aku tak bisa lalukan itu secepatnya."


Sekarang, yang ia dengar berupa desah panjang khas perempuan setengah abad. "Mama paham, Yiana. Mama paham."


Tiada lagi bahan pembicaraan yang harus Yiana bahas kepada ibunya sebagai dongeng pengantar tidur. Dulu sekali, sebelum Mama sering jatuh sakit, beliau sering mengajaknya bicara banyak menggaet puluhan topik hingga satu sama lain memilih lelap dalam mimpi.


Namun, apakah dengan cara ini masih efektif bagi ia dan sang ibu? Entahlah. Yiana pun ragu.


"Mama cepat tidur, ya," kata Yiana berusaha tersenyum lembut----andai ibu bisa melihatnya. "Telepon aku aja kalau Mama bosan di rumah sakit. Besok sore aku ke sana kok, buat temani Mama."

__ADS_1


"Iya deh, bawelnya Mama." Sambungan panggilan ia putuskan usai ucapkan salam.


__ADS_2