
"Emang dia nggak punya keluarga?" tanyanya masih kerutkan jidat.
"Waktu itu Mama sempat lihat ada orang jenguk dia," jawabnya menerawang. "Aduh, Mama nggak ingat siapa namanya. Ian juga nggak tau dia."
"Jangan paksa diri mengingat, Ma." Sambil tertawa mengelus pundak mama, Yiana curi peratian pada lelaki yang tertunduk ratapi tangannya. Jadi namanya Ian? Dan dia tak tahu apapun?
"Kamu yang lagi nunduk." Yang dipanggil langsung mendongak cepat. Sialan, dia pakai tatapan dan raut wajah paling polos. "Kamu beneran nggak ingat apa-apa?"
Lelaki itu menggeleng lemah, masih dengan tampang polos.
"Termasuk namamu?"
Dia menggeleng lagi. Sejurus kemudian Ian menjawab, "Aku baru tau namaku saat suster periksa kondisiku."
Ini cowok ... amnesia? Otak Yiana langsung sumpek karena Ian. Bila suster tak segera peringati untuk cepat pulang, mungkin Yiana bakal melamun terus. Namun, sang mama menahan tangan Yiana yang mendorong kursi roda.
__ADS_1
"Kamu setuju atau nggak?" tanya mama dengan senyum lembut. Yiana tak langsung jawab. Mata bulatnya melirik dua orang di hadapannya.
"Kalau ada orang mau bawa dia, gimana? Nanti mereka cari ke mana-mana. Terus kita dikira penculik. Lagian kita baru kenal dia loh, Ma."
"Dia nggak ingat siapa-siapa, Sayang. Ah, kalau nggak salah, Mama sempat simpan kartu nama dia." Wanita setengah abad itu meliuk-liuk raba saku baju dan celana gombrong. "Di mana, ya? Apa Mama simpan di tas? Aduh...."
Kalau Mama sudah keras kepala begini, satu-satunya cara untuk menaklukkannya ialah menyerah. Satu kali embusan napas Yiana menjawab, "Oke-oke. Kita bawa dia pulang. Asal kartu nama yang Mama maksud harus ketemu. Biar aku bantu cari ntar."
Yah, mau bagaimana lagi? Terpaksa ia urungkan mendorong kursi roda Mama, berganti dengan cari kursi lagi untuk Ian. Tak lupa ia urus administrasi soal lelaki itu menggunakan namanya, harap-harap orang yang datang menjemputnya bisa tahu alamat rumah Yiana.
Sepeninggal itu, Yiana lekas berlari menemui pamannya yang sudah berdiri depan pagar yang tertutup rapat. Beliau selalu seperti ini: mengobrol dengan satpam.
"Lah, katanya mau sama kamu aja sampai sini," katanya sesekali meladeni ocehan penjaga.
"Mama mulai minta yang aneh lagi."
__ADS_1
Mendengar celetukan Yiana, dia tertawa puas. "Dia minta apa lagi? Suruh beli serabi pakai gula merah? Atau taburi bedak sebelum pakai popok dewasa?"
"Lebih parah," balas Yiana mendesah gusar. "Dia minta pasien lain pulang."
Seketika tawa pamannya lenyap bersamaan dengan dua pasang mata mengarah pada Yiana. Lamaaa sekali sampai ia menambahkan: "Aku tau kalian terkejut."
"Kayaknya itu permintaan paling aneh yang pernah Om alami." []
Episode 3.1
"Kamu mau jeruk, Ian? Biar saya kupas."
Yiana sibuk masukkan baju kotor Mamanya ke mesin cuci mini dengan muka jutek. Sesekali lihat mereka berdua. Amboi, asyiknya dua pasien yang baru pulang itu. Saling tertawa dan berbagi makanan.
Harusnya aku yang ada di samping Mama! Ia menjerit dalam hati. Raut wajahnya makin kecut, apa lagi ketika Ian menengok padanya. Sekali Yiana pelotot, dia langsung berpaling. Tentu, ada makna di balik sorot mata Yiana: Jangan-pernah-caper-sama-Mama.
__ADS_1
"Yiana." Suara lembut seseorang ia balas dengan nada judes. Tahu-tahu Mama bersama Ian sedang menatapnya.
"Kenapa muka kamu cembetut gitu, Sayang?" tanyanya menunduk lemah. "Kamu nggak suka ya Mama minta Ian di sini?"