
Hari itu, Mama sedang makan buah hasil kupasan perawat saat jalani pemeriksaan rutin. Apel yang dipotong dadu, tapi anehnya masih putih seperti baru diiris. Secangkir teh hangat pun tersaji di meja makan khusus pasien lansia macam ia. Mama duduk bersila, melahap makanan sehat sambil amati pemandangan di luar.
Hmm, tak sebagus di sinetron favoritnya.
Sorot mata kecewa itu tergantikan dengan tatapan penuh penasaran. Suara roda berputar dari brankar menarik perhatiannya. Pasti pasien baru. Namun, kenapa dia tak merintih kesakitan?
"Segera lakukan pemeriksaan rutin," ucap seorang pria, nampaknya dia dokter yang tangani pasien baru di ruang rawat ini.
Mama penasaran sekali. Siapa dia? Apa dia baru selesai operasi, makanya bisa pindah kemari? Tetapi, Mama rasa bukan. Sejak ada pasien pulang kemarin, tinggal ia di sini. Tak ada siapapun. Tak ada orang yang mereka pindah untuk jalani operasi atau masuk ruang khusus.
Tunggu masanya para perawat pergi dengan menghabiskan buah dan teh hangat. Cukup lama, tapi rasa ingin tahu Mama mengalahkan segalanya.
Pemeriksaan selesai ketika matahari berada di atas kita----Mama makan buah menjelang siang. Saatnya mengetahui sosok pasien baru.
"Permisi." Begitu ia sibak tirainya, salah satu dari dua lelaki melirik heran Pasien itu belum siuman, dengan kepala dibalut perban dan leher di-gips.
__ADS_1
"Ada perlu bantuan apa?" Pria yang Mama duga adalah penunggu pasien baru bangkit dengan senyum ramah. "Bisa saya bantu bila tak ada orang----"
"Ah, nggak." Ia menepis uluran tangan anak muda dengan halus. "Saya hanya ingin jenguk orang baru di sini."
Lelaki itu mengangguk paham, lekas tawarkan Mama untuk duduk di kursi tempat dia mengawasi pasien. Tanpa ada pembicaraan intens. Mama baru sadar, mungkin dia tak tega mengganggunya. Makanya dia diam.
"Kasihan sekali anak ini." Akhirnya Mama bicara.
"Iya." Lelaki di samping Mama mengangguk lemah. "Saya senang bila dia bisa akrab dengan Anda, andai sekarang juga dia siuman."
"Sudah makannya, Nak?" Mama sering datang menemaninya jika penjaga Ian sedang ada urursan----begitulah yang ia ingat saat bertanya kenapa Ian jarang ditemani.
"S-sudah," jawabnya mengangguk hampir tak terlihat gerakannya.
"Orang sakit kayak kita terkadang harus mandiri berada di sini," katanya menyibak tirai yang menghalangi ranjang mereka. Cahaya matahari pagi menerangi sebagian tubuh Ian.
__ADS_1
"'Ibu juga jarang ada yang menemani?" Itu pertanyaan pertama kali yang Ian ucapkan, membuat hati Mama adem ayem.
"Begitulah."
Dari pagi sampai petang, mereka saling lempar kisah demi kisah-----kebanyakan dari Mama. Ian tak ingat apapun sejauh ini, jadi Mama lebih memilih diam.
Dan malamnya, orang yang hari itu menjaga Ian tiba-tiba berikan kartu nama. Katanya: "Hubungi saya bila ada informasi terbaru mengenai tuan Ian."
"Bahkan ketika Ian kenapa-kenapa?"
"Betul, Bu." Lelaki itu tersenyum. "Tolong jaga beliau ya, Bu."
****
"Jadi itu sebabnya Mama bawa dia pulang?" tanya Yiana pada akhirnya, tepat ketika acara TV kegemaran mereka selesai. Mama mengangguk lembut, setidaknya Yiana bisa bernapas lega. Mungkin ia sempatkan diri mencari kartu nama yang Mama maksud.
__ADS_1
"Mama tau kartu namanya di mana?" tanya Yiana menghadap pada Mama sambil tersenyum lembut.