Yiana: Dan Catatan Tentang Cintamu

Yiana: Dan Catatan Tentang Cintamu
Episode 5.2


__ADS_3

"Masih kuat jalan kan, Ian?" Akhirnya, suara Yiana hadir di indera pendengaran Ian. Fokusnya mulai tajam dan jelas, segera menatap Yiana yang bermuka cemas itu. Dia menunjukkan kresek putih kecil dengan logo rumah sakit.


"Kamu harus minum obat ini," katanya mulai menuntun Ian. "Kemari. Di sini."


Mereka duduk di tempat yang semula dipakai sarapan. Sakit kepala Ian mulai hilang seiring bersama Yiana. Perempuan di sampingnya, yang membuka satu per aatu obat sesuai dosis.


"Cepat minum." Ian menuruti. Menenggak banyak pil tidak terasa macam makan permen. Ini penyiksaan, begitu pula yang ia rasakan kala mendengar titahan Yiana. Namun, justru mimik sedih yang dia tunjukkan untuk Ian.


"S-sudah mau terlambat," bisiknya berdecak kesal. Yiana lekas bangkit dan menunjuk Ian dengan lancang. "Langsung tidur. Jangan bikin mama makin risau sama kamu. Ngerti?"


Dan sepanjang punggung Yiana menjauh dilahap pintu yang tertutup rapat, Ian terdiam saja. Bukan pasal nada bicaranya yang menohok, tapi ekspresinya yang bertolak belakang.


Nadanya marah, tapi wajahnya sedih.


Suaranya pelan, tetapi matanya menatap tajam.

__ADS_1


"Yiana udah berangkat kerja?" Lamunan Ian lebur sudah. Wanita paruh baya keluar dari kamar mandi----selesai mandi kayaknya, pikir Ian.


"Udah, Tante," jawabnya mencoba atur napas guna tak ketahuan Mama. Namun, dari awal Mama keluar pun, Ian telah tunjukkan mukanya yang pucat pasi.


"Eh, kamu sakit lagi?" Ada rasa khawatir dari tatapan Mama. Wanita itu berlari tergopoh-gopoh demi menangkup wajah Ian. "Kamu nggak apa-apa, kan?"


"Iya, ini saya sudah minum obat. Nih." Ia ambil kantong kresek untuk diperlihatkan.


Sang Mama menggumam panjang, segera duduk di samping Ian sambil nyalakan TV. Acara pengajian, kebanyakan yang tayang di pagi hari selain kartun.


"Itu wajar, Tante." Ian tersenyum kecut. "Kan salah saya malah kerja padahal belum pulih banget."


Mama terkekeh renyah, walau tangannya mulai menekan remote TV demi sebuah tontonan bagus. Tidak seperti Ian yang senyumnya meredup. Apanya yang lucu?


"Akhirnya Yiana bisa beradaptasi sama kamu," kata Mama buang napas. "Anak itu paling susah untuk berbaur dengan orang asing. Pernah suatu kali, keluarga kakakku datang kemari. Yiana sama sekali nggak mau muncul."

__ADS_1


"Mungkin jarang bertemu."


"Memang, tapi ada perbedaannya dengan pertemuanmu." Mama pun melirik penuh kelembutan setiap kali Ian amati manik matanya. "Mengetahui Yiana butuh waktu sesingkat itu untuk bergaul sama kamu, itu adalah hal langka yang saya tahu."


"Hal ... langka?" Alis Ian bertaut, tetapi matanya melotot. Dan lagi-lagi Mama tertawa, mungkin gara-gara reaksi Ian.


"Bahkan Yiana sampai kayak gitu waktu kamu ambruk tadi," katanya mulai letakkan remote TV. Upin Ipin. Kartun ini selalu tak lepas dari jadwal wajib anak-anak hingga lansia. "Marah-marah. Padahal kalau Yiana tahu tamunya ada yang sakit, dia nggak sampai segitunya. Cuma kasih obat dan biarkan dia istirahat. Nggak pakai marah."


"Sebenarnya Yiana juga cuma bilang gitu." Namun, logikanya membantah. Mengambil kejadian kemarin malam, masa Ian dan Yiana nonton film, perempuan itu sudah terlihat leluasa bersamanya.


Tidak, bahkan saat makan malam bersama kemarin.


"Nah, saya harap Yiana mau terbuka sepenuhnya sama kamu."


Ya, karena Yiana bagaikan puzzle: harus cari potongan gambar yang sesuai untuk mengetahui sosoknya. []

__ADS_1


__ADS_2