
Sebulan berlalu,
Di sekolah sudah ramai,hari ini adalah hari perpisahan murid kelas tiga di SMA Nusa Bangsa.Semua siswa sudah datang bersama orang tua mereka masing-masing.Mario bersama dengan beberapa orang anak buahnya juga sudah berada di sana.
Acara demi acara pun berlangsung,banyak dari para siswa yang menyumbangkan bakat mereka diacara tersebut.Mulai dari dance,nyanyi,opera dan lain-lain.Saat beberapa siswa sedang unjuk kebolehannya,berjoget ala masa kini dengan iringan musik,tiba-tiba musik dimatikan.Vino naik ke atas panggung dan mengambil microphone yang ada di sana.
" Mohon maaf jika saya sudah membuat kalian tidak nyaman dan terganggu,saya minta waktunya sebentar" ucap Vino.
Vino menghela nafasnya,kemudian melanjutkan lagi perkataannya," Disini saya akan menyampaikan berita duka yang datang dari teman kita,saudara kita Zivana Safiya yang baru saja kehilangan orang tercintanya,orang terkasihnya yaitu Tante Voni.Oleh karena itu,marilah kita menundukkan kepala sejenak untuk mendoakan Tante Voni,semoga amal ibadahnya diterima disisi Tuhan dan Zivana diberikan ketabahan" tutur Vino.
" Berdoa,mulai" tuntun Vino.
Dengan serempak semua orang yang hadir pun menundukkan kepala,memanjatkan doa sesuai kepercayaannya masing-masing.
Mario sudah meninggalkan lokasi acara,dia mengemudikan mobilnya menuju ke rumah sakit.Sesampainya di rumah sakit,Mario mencari informasi tentang Tante Voni di meja resepsionis.
Zivana duduk di lantai,bersandar di dinding sambil menundukkan kepalanya.Sungguh tidak pernah dibayangkan sebelumnya,jika Tante akan pergi secepat ini.
Mario jongkok di depan Zivana,lalu menarik tubuh Zivana ke dalam pelukannya.
" Maaf" hanya itu yang mampu Mario ucapkan.
Tubuh Zivana bergetar hebat,tangisannya pecah di pelukan Mario.
" Semalaman Tante gak tidur,dia bercerita tentang masa kecil Zi hingga pagi menjelang" kata Zivana disela-sela tangisnya.
" Tapi,pagi tadi tiba-tiba Tante muntah darah dan pingsan.Saat sampai kesini ternyata Tante udah gak ada" tambahnya.
Mario mengusap punggung Zivana dengan lembut.Sudah hampir tiga minggu dia tidak bertemu atau berkunjung ke rumah Zivana,bahkan pesan dan telpon dari Zivana pun tidak pernah digubris.
Mario disibukan oleh tugas juga rencana pernikahannya.Pak Jamal sudah mendaftarkan pernikahannya dan mau tidak mau Mario harus mematuhi peraturan yang ada.
__ADS_1
" Maaf,Abang terlalu sibuk belakangan ini" ucap Mario lirih.
Pintu ruangan terbuka,beberapa perawat mendorong brankar Tante Voni dan membawanya menuju ambulans.
Mario memapah tubuh Zivana sampai ke mobilnya.Mario mengikuti ambulans yang berada di depannya yang melaju menuju kediaman Zivana.
Banyak orang yang sudah berada disana,menyambut kedatangan jenazah Tante Voni.
...----------------...
Zivana duduk di kasur yang berada di kamar Tante Voni.Sepulang dari makam tadi,Zivana langsung masuk ke kamar itu dan belum keluar hingga malam menjelang.
" Zi,makan dulu yuk.Kata Mario dari tadi kamu belum makan" teriak Mama Mario dari luar kamar sambil mengetuk pintu.
Zivana bergeming,dia tetap duduk di kasur itu sambil memandang foto Tante yang sudah sepuluh tahun ini merawat dan membesarkannya.
Mario membuka pintu yang ternyata tidak dikunci itu,Mario masuk sambil membawa sepiring makanan dan segelas air.Mario menarik kursi lalu duduk di hadapan Zivana.
" Makan dulu,baru setelah itu lanjut lagi sedihnya.Zi tau gak,kalo sedih dan menangis itu butuh tenaga" kata Mario.
" Pantas saja sikapnya manis,ternyata ada Mama" bathin Zivana.
" Abang makan aja duluan,Zi gak laper" tolak Zivana.
Mario menyendok nasi dan lauknya,lalu mengarahkannya ke mulut Zivana," Makan lah,kalo Zi sakit nanti siapa yang masakin Abang.Zi tau gak,kalo masakan Zi makanan terenak selain Mama" tutur Mario.
Zivana akhirnya membuka mulutnya dan menerima suapan dari Mario.Zivana melirik kearah pintu,ternyata Mama Mario sudah tidak ada disana.
" Besok Zi mau ambil pakaian Zi yang ada di rumah Abang" kata Zivana sambil memandang wajah Mario yang terkejut mendengar perkataannya.
" Apa maksud dari perkataan Zi barusan?" tanya Mario.
__ADS_1
Zivana membuang wajahnya kearah lain,lalu menarik nafasnya dalam-dalam dari mulut dan mengeluarkannya secara perlahan dari mulutnya.
" Orang tua yang menginginkan Zi agar menikah dengan Abang sudah gak ada,Tante juga sudah pergi.Jadi,tidak ada alasan Zi lagi untuk mempertahankan pernikahan ini Bang.Sekuat apapun Zi berusaha bertahan,pada akhirnya akan hancur juga" jawab Zivana.
Mario kembali menyuapi Zivana," Kita bahas masalah ini besok saja" kata Mario.
Zivana tidak banyak membantah," Baiklah." sahutnya.
Mario membawa piring kosong itu keluar,setelah itu Mario duduk di kursi yang ada di ruang tamu.
" Apa Zivana menghabiskan makanannya?" tanya Mama dan dijawab anggukan kepala oleh Mario.
Mama melihat wajah Mario yang lesu dan tidak bersemangat," Ada apa?" tanya Mama.Tidak biasanya Mario murung.
" Tidak ada apa-apa Ma,Mario hanya lelah saja" jawab Mario berbohong,dia tidak mungkin menceritakan tentang pernikahannya.
" Kan sudah Papa bilang,berhenti dari pekerjaanmu yang sekarang,urus usaha milik Papa.Kalo bukan kamu,siapa lagi Mario.Papa hanya punya kamu" oceh Papa.
" Pa,sudah berulang kali Mario katakan,Mario gak mau.Mario suka dengan pekerjaan Mario yang sekarang.Lagipula Mario sudah besar,sudah dewasa.Mario berhak menentukan apa yang Mario mau"
" Lalu,bagaimana dengan Zivana.Apa dia bersedia kamu tinggal tugas keluar kota berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan?" tanya Papa.
Mario bungkam,dia tidak bisa menjawab pertanyaan Papanya.
" Kenapa diam?" tanya Papa lagi.Kali ini nada bicaranya terdengar sinis."Kamu pikir Papa tidak tahu perlakuanmu terhadap Zivana selama ini bagaimana?" Kamu pikir,Papa tidak tahu kalo kamu bersikap acuh,cuek dan kasar pada Zivana?" Papa tau semuanya,Mario.Apa yang tidak aku tau,bahkan kalian tidur secara terpisah pun Papa tau" cecar Papa.
" Apa benar yang dikatakan Papamu,Mario?" bentak Mama.
" Tapi Ma..."
Zivana memotong perkataan Mario," Semua itu Mario lakukan karena permintaan Zivana Pa,Ma.Zivana yang meminta pada Mario agar kami tidur terpisah" ujar Zivana.
__ADS_1
" Sudahlah nak,kamu tidak perlu membela orang seperti Mario" ujar Papa.
" Papa bingung sama kamu Mario, bagaimana bisa Zivana masih bisa membelamu sedangkan kamu sudah menyakitinya.Orang lain yang sama sekali tidak kamu kenal,kamu tolong,kamu lindungi.Tapi,Zivana istrimu sendiri,kamu tidak becus menjaganya.Kamu biarkan dia menderita,sendiri dalam kesedihan.Apa karena orang-orang itu memberimu pujian dan sanjungan pada setiap prestasi yang kamu raih,makanya kamu lebih mementingkan mereka daripada Zivana.Papa ingatkan sama kamu Mario,jangan sampai kamu menyesal dikemudian hari.Sesuatu yang sudah pergi dan hilang,biasanya sulit untuk didapatkan kembali" kata Papa sambil beranjak dari duduknya lalu mengajak Mama untuk pulang.