Zivana(Cinta Di Ujung Penantian)

Zivana(Cinta Di Ujung Penantian)
Bab 21


__ADS_3

Semenjak hamil, selera makan Zivana semakin menggila. Apa yang terlihat di hadapannya semua menggugah selera.


Alhasil baru hamil beberapa bulan saja tubuhnya mulai nampak gendut.


Sebagai seorang suami, Mario selalu siap siaga. Tidak hanya menyetok banyak makanan, tapi harus rela berkeliling kota untuk mencari makanan yang diinginkan oleh istri kecilnya itu.


Meski lelah karena seharian bekerja, Mario tidak pernah mengeluh. Apa yang diinginkan oleh Zivana, semua dia penuhi.


"Zi, abang pergi ke kantor ya. Bisa ditinggal?" tanya Mario.


"Berasa jadi anak kecil nih ditanyain begitu," jawab Zivana.


"Ya udah, abang pergi saja. Nanti kalo ada apa-apa, Zi telpon abang." Imbuh Zivana.


"Baiklah, hati-hati di rumah. Jangan banyak bergerak," pesan Mario dan Zivana pun mengangguk.


Hari ini ada pertemuan dengan beberapa kolega bisnisnya dan itu tidak bisa diwakilkan. Setelah mempersiapkan semua yang dibutuhkan, Mario pun langsung berangkat.


"Aku harus ngapain ya? Aku suntuk," keluh Zivana.


Selagi termenung memikirkan apa yang hendak dilakukan, ponselnya pun berdering.


"Mama! Mau ngapain ya?" tanya Zivana kemudian menggeser ikon hijau di ponselnya.


"Hallo Ma!" sapa Zivana.


"Zi, mama suntuk nih. Temenin mama belanja yuk!" ajak mama.


"Boleh, mama jemput Zi ya?" pinta Zivana dan mama pun setuju.


Di sebuah pusat perbelanjaan,


Mama menggenggam tangan Zivana ke mana pun melangkah, seolah takut menantu kesayangannya akan melarikan diri.


Mama membeli banyak barang, begitu juga dengan Zivana. Mumpung gratis karena semua barang belanjaan miliknya dibayari oleh sang ibu mertua.


"Zi, bukannya itu Mario ya?" tanya mama sambil menunjuk ke sebuah cafe yang ada di mall tersebut. Terlihat Mario sedang bersama beberapa orang pria, sepertinya mereka sedang serius membahas sesuatu.

__ADS_1


"Iya Ma, sepertinya dia sedang serius." Jawab Zivana.


"Kita pergi ke tempat lain saja yuk!" ajak mama dan Zivana pun setuju.


Belum sempat mereka melangkah jauh, terdengar suara seseorang memanggil Zivana.


"Zi!" panggil Mario. "Sayang!" tambahnya.


Zivana menoleh sambil cengengesan, "Eh abang!" ujarnya.


"Udah selesai belanjanya?" tanya Mario.


"Sudah," jawab Zivana.


"Bagaimana pekerjaanmu nak, apa semua baik-baik saja?" tanya mama.


"Semua beres Ma, Mama tenang saja." Jawab Mario seraya merangkul pundak mama.


"Zi pulang dulu ya bang, abang mau kerja lagi kan?" tanya Zivana.


"Mama ke sini pake sopir atau taksi?" tanya Mario, mengabaikan pertanyaan Zivana.


"Iya ma, biar dia tidak suntuk." Jawab Mario.


Akhirnya mama pulang ke rumah dan Zivana ikut Mario ke kantor.


"Setelah melahirkan nanti, Zi boleh kerja nggak bang? Seperti cewek-cewek di luar tadi," tanya Zivana setelah sampai di kantor.


"Boleh saja," jawab Mario sambil tersenyum.


Zivana melihat-lihat isi ruang kerja Mario, semua tertata dengan rapi.


"Aku tidak akan membiarkan anak-anakku besar di tangan orang lain. Aku tidak ingin mereka kekurangan kasih sayang," ucap Zivana, dia berdiri di dekat jendela dan menatap jauh ke depan.


Mario mendekati istrinya lalu memeluknya dari belakang, "Anak-anak kita tidak akan pernah kekurangan kasih sayang. Mereka akan tumbuh bersama kasih sayang yang berlimpah," ucap Mario.


"Aku percaya itu," balas Zivana kemudian bersandar di dada bidang Mario.

__ADS_1


"Apa sudah ada pergerakan?" tanya Mario seraya mengusap lembut perut Zivana.


"Ada, nih tangan abang yang dari tadi gerak-gerak di perut Zi." Jawab Zivana.


Mario mencium puncak kepala Zivana, dia semakin mengeratkan pelukannya. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, jika pernikahannya akan semanis ini.


Sedang asyik menikmati pemandangan luar jendela, terdengar suara ketukan di pintu ruang kerja Mario.


"Masuk!" titah Mario.


"Permisi pak! Ada yang ingin bertemu dengan bapak," lapor sekretaris Mario.


"Siapa? Bukankah aku tidak punya janji?" tanya Mario.


"Seorang petugas pak, namanya pak Arka." Jawab Sekretaris.


"Persilahkan dia masuk!" titah Mario.


Sekretaris itupun ke luar untuk memanggil Arka, tidak lama setelah itu Arka pun masuk ke ruang kerja Mario.


"Selamat siang, bang!" sapa Arka sambil membungkuk.


"Arka, duduklah!" Mario mengajak Arka duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.


"Ada perlu atau sekedar mampir?" tanya Mario.


Arka melihat ke arah Zivana kemudian memandang wajah Mario.


"Bicara saja, kakakmu tidak akan ikut campur atau pun membocorkan apa yang kita bicarakan." Ujar Mario.


"Aku sedang menangani satu kasus, tapi aku mengalami kesulitan. Aku berharap jika abang berkenan untuk membantu," tutur Arka.


"Katakanlah!" titah Mario.


Arka pun menceritakan semua permasalahan yang sedang dia tangani, Mario mendengarkannya secara seksama. Dia mendengar sambil memahami dan mencari jalan keluarnya.


Cukup lama Mario dan Arka terlibat pembicaraan, hingga sore menjelang barulah urusan mereka selesai.

__ADS_1


Mario bersedia membantu Arka untuk menyelesaikan kasus yang sedang ditangani oleh Arka. Setelah terjadi kesepakatan, mereka pun pulang ke rumah masing-masing.


__ADS_2