Zivana(Cinta Di Ujung Penantian)

Zivana(Cinta Di Ujung Penantian)
Bab 11


__ADS_3

Mario mengemudikan mobilnya menuju ke rumahnya,Zivana duduk di sampingnya.Diam tanpa suara,matanya menatap keluar jendela.Mario hanya menghela nafas melihat sikap Zivana.


" Ayo turun,kita sudah sampai" ajak Mario.


Zivana melangkahkan kakinya menuju kearah pintu rumah Mario,dengan sigap Mario membuka pintu rumahnya.


Zivana masuk ke rumah itu dan langsung menuju ke kamar tidurnya,Mario pun masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian.Setelah selesai,Mario keluar dari kamarnya dan terkejut saat melihat Zivana sudah duduk di ruang tengah dengan koper yang berada di dekatnya.


" Kamu mau kemana Zi?" tanya Mario lalu duduk di samping Zivana.


Air mata pun mengalir,membasahi pipi Zivana.


" Aku sudah cukup sabar dan saat ini aku mulai lelah.Maafkan aku Bang,aku sudah tidak sanggup lagi bertahan.Penantian cintaku sudah sampai ke ujungnya dan ujungnya adalah perpisahan" jawab Zivana.Mungkin sedikit terdengar lebay,diusia pernikahannya yang masih seumur jagung,tapi dia sudah menyerah.


" Tidak!"


" Kamu tidak boleh pergi Zi.Ini rumahmu,rumah kita" cegah Mario.


Zivana beranjak dari duduknya,lalu menarik kopernya dan hendak pergi dari rumah itu.Mario menarik tangannya lalu bersimpuh di depan Zivana.


" Jangan pergi!"


" Aku janji akan berubah,aku mohon sayang jangan pergi,jangan tinggalkan aku.Tetaplah disini,aku rela kamu diamkan,asalkan kamu tetap disini,dengan begitu aku masih bisa melihatmu.Jangan pergi,aku bisa gila" pinta Mario sambil bersimpuh di hadapan Zivana yang sedang memegang koper yang berisi pakaiannya.


Zivana mendongakkan kepalanya,agar air matanya tidak terjatuh."Maaf Bang,Zi gak bisa." ucap Zivana.


Mario berdiri lalu memegang kedua bahu Zivana," Apakah sudah tidak ada lagi kesempatan?" tanya Mario.


Zivana memalingkan wajahnya,sungguh tidak sanggup jika harus membalas tatapan mata Mario.


" Abang melakukan ini karena permintaan Tante kan?" Zivana balik bertanya.


Mario menggelengkan kepalanya," Ini murni dari hati,bukan karena permintaan Tante ataupun kedua orang tua Abang" jawab Mario.


Mario menuntun Zivana ke arah sofa,lalu mendudukan Zivana di sana,sedangkan Mario duduk di bawahnya.

__ADS_1


" Kamu tau,selama tiga minggu terakhir Abang tidak bertemu denganmu,saat Abang pergi dinas keluar kota.Abang rindu sama Zi,rindu suara Zi,ocehan Zi,rindu semua yang ada pada Zi.Ditambah lagi saat Abang mengantarkan teman Abang pulang ke rumahnya,istrinya menyambut dengan senyuman hangat.Abang ingat Zi selalu melakukan itu" tutur Mario.


Setelah menghela nafasnya,Mario kembali melanjutkan perkataannya." Jika Zi pergi,trus nanti yang bersanding di pelaminan sama Abang siapa?" Siapa yang jadi pengantin wanitanya?" tanya Mario sambil tersenyum.


Zi memandang wajah Mario yang masih duduk di bawahnya." Apa maksud Abang?" tanya Zivana.


Mario bangkit lalu duduk di samping Zivana,"Abang sudah mendaftarkan pernikahan kita dan bulan depan kita akan mengadakan acara resepsi pernikahan sesuai peraturan yang ada" jawab Mario.


Zivana menundukkan kepalanya," Beri Zi waktu Bang" pinta Zivana.


" Baiklah kalo begitu"


" Sekarang Zi mau kemana? biar Abang antar"


" Pulang ke rumah Tante" jawab Zivana.


Mario membawakan koper milik Zivana lalu meletakkannya di bangku belakang,Zivana duduk di bangku yang ada di samping kemudi.


Mario mengemudikan mobilnya dengan santai menuju ke rumah peninggalan Tante Voni.Sesampainya di sana,sudah ada dua orang yang sedang duduk di teras.


" Saya pemilik rumah yang baru" jawab salah satu dari mereka.


" Maksudnya apa ya?" tanya Mario.


" Maaf pak,Bu Voni sudah menjual rumah ini dua bulan yang lalu saat dia butuh uang untuk pengobatan.Kami bisa mengambil alih rumah ini jika beliau sudah meninggal.Ini tanda bukti pembayarannya" terang orang itu.


Mario mengambil kertas itu lalu membacanya dan meneliti keasliannya.


" Baiklah kalo begitu.Apa boleh saya dan istri saya mengambil barang-barang yang tersisa? Itu sangat berharga bagi istri saya" kata Mario.


" Silahkan Pak" ucap Orang itu.


Mario mengelus punggung Zivana lalu mengajaknya masuk ke rumah itu,Zivana hanya bisa diam.


" Ambil barang yang kamu anggap penting,setelah itu kita kembali pulang ke rumah kita" kata Mario dengan perlahan.

__ADS_1


Zivana menatap wajah Mario,tiba-tiba Zivana memeluk Mario dengan erat lalu menangis.Mario mengusap punggung Zivana,mencoba menenangkan dan memberi kenyamanan untuknya.


Zivana melonggarkan pelukannya lalu kembali memandang wajah Mario."Apa malam ini Zi masih boleh menginap di sini?" tanya Zivana.


" Satu malam saja" pintanya.


Mario tersenyum lalu mengangguk," Zi tunggu di sini ya,Abang mau minta izin dulu sama yang punya rumah" ujar Mario.


Zivana mengangguk," Iya." sahutnya.


Mario melangkahkan kakinya menuju teras dan menemui pemilik rumah yang baru.Setelah berbincang-bincang sebentar dan orang itupun pergi,Mario kembali masuk ke dalam rumah.Zivana sudah tidak ada di tempatnya tadi,Mario masuk ke kamar Tante dan ternyata Zivana sedang mengemasi beberapa barang yang bisa dia jadikan kenangan.


Menyadari Mario ada di belakangnya,Zivana pun menoleh," Bagaimana Bang?" tanya Zivana.


Mario berjongkok di samping Zivana lalu membelai rambut Zivana," Boleh,tapi cuma malam ini saja.Besok kita sudah harus pergi,karena rumah ini akan direnovasi sama pemilik yang baru" jawab Mario.


Zivana menyandarkan tubuhnya di tempat tidur," Akhirnya tidak ada satu pun kenangan yang tersisa dari rumah ini" ucap Zivana lirih.


" Kenangan akan selalu ada...Di hati" kata Mario.


Setelah selesai mengemasi barang-barangnya,Zivana pun mendudukan tubuhnya di kasur.


" Abang keluar dulu ya,mau cari makanan.Sedari tadi kita belum makan" kata Mario sambil beranjak lalu melangkah keluar kamar.


Zivana tersenyum simpul melihat perubahan Mario," Semoga perubahan sikapmu tulus dari hati Bang" monolog Zivana.


Zivana memasukkan barang-barangnya ke dalam sebuah kotak berukuran sedang,setelah itu dia menaruhnya di kursi yang ada di ruang tamu.Tidak lama kemudian Mario datang membawa bungkusan berisi makanan.


" Selesai makan Abang ke kantor bentar ya" kata Mario dan Zivana hanya mengangguk.


Zivana mulai menyantap makananya,jam makan siang yang sebenarnya sudah terlewat.Lebih tepatnya bisa dibilang makan sore.


" Abang akan cepat pulang" kata Mario lalu mengecup kening Zivana.


Tubuh Zivana tiba-tiba terasa tegang dan kaku,bibirnya terasa kelu dan tidak sanggup lagi untuk berkata-kata.Mobil Mario sudah tidak terlihat lagi,tapi Zivana masih berdiri di teras sambil menatap lurus ke depan.Senyum tipis pun tersirat di bibirnya,wajahnya merona merah saat membayangkan apa yang sudah terjadi barusan.Semua terasa bagai mimpi bagi Zivana.Sungguh sangat berlebihan jika dia mengatakan selama tiga bulan ini adalah sebuah perjuangan,tapi itulah kenyataannya.Mario mulai berubah,entah itu nyata atau hanya sekedar menghibur Zivana yang tengah berduka.Yang penting bagi Zivana,Mario sudah mau dia ajak bicara,kedepannya biar Tuhan yang mengatur jalan hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2