
Sudah jam empat sore,tapi Mario belum juga memperlihatkan batang hidungnya.Padahal dia sudah berjanji pada Zivana untuk makan siang di rumah.
" Mungkin Bang Mario sibuk mengurus pengunduran dirinya" monolog Zivana.
Langit mendung,awan hitam bergulung tanda sebentar lagi akan turun hujan.Zivana hendak menutup pintu rumah,tapi diurungkannya.Mobil Mario ada di garasi,berarti Mario pergi ke kantornya menggunakan motor.
" Kasihan Bang Mario kalau sampai kehujanan" gumam Zivana.
Rintik hujan mulai turun dengan derasnya,langit seolah menumpahkan semua airnya ke bumi.Zivana berjalan mondar-mandir di depan pintu dengan cemas,sambil sesekali melihat kearah pagar rumahnya.Rasa sakit di bagian intinya tidak dia pedulikan.
Dari kejauhan terlihat Mario mengendarai motornya masuk ke pekarangan rumah,Zivana yang sudah menyediakan handuk pun langsung menghampiri Mario dan memberikan handuk padanya.
" Kenapa berdiri di depan pintu,hujan sangat deras.Nanti kamu bisa kedinginan dan masuk angin" cecar Mario.
" Kenapa Abang telat pulang?" katanya mau makan siang bareng" tanya Zivana.
Mendadak wajah Mario berubah sendu sambil menatap wajah Zivana.
" Ada apa Bang?" Apa ada masalah?" tanya Zivana.
Mario menggandeng tangan Zivana dan membawanya hingga ke kamar.Mario masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi.
" Zi" panggil Mario sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil.
" Iya Bang" sahut Zivana.
" Kamu mau tau gak alasan Abang,kenapa Abang pulang telat?" tanya Mario.
" Abang sudah pulang dengan selamat sampai ke rumah ini,itu sudah cukup" jawab Zivana.
Mario duduk di samping Zivana lalu merangkul pundak istrinya itu."Tapi,kamu harus tau.Karena ini ada hubungannya sama Zi" ujar Mario.
Zivana memiringkan kepalanya agar bisa melihat wajah Mario,"Maksud Abang apa?" tanyanya.
Huft...Mario menghela nafasnya dengan berat.Seolah ada beban yang sedang dipikulnya.
" Sebenarnya abang pulang sebelum jam makan siang,tapi diperjalanan Abang melihat orang berkerumun.Abang berhenti dan menyelidiki apa yang terjadi" tutur Mario.
Setelah mengambil nafas,Mario kembali melanjutkan perkataannya." Ternyata ada kecelakaan dan Abang harus membantu beberapa anggota menertibkan lalu lintas" tambah Mario.
Zivana mengerutkan keningnya,"Lalu apa hubungannya kecelakaan itu sama Zi?" tanya Zivana bingung.Sebab cerita yang disampaikan Mario sama sekali tidak ada hubungannya dengan Zivana.
" Yang kecelakaan tadi adalah Vino,teman sekolahmu" jawab Mario sambil menatap wajah Zivana dengan intens.
Mata Zivana membola saat mendengar jawaban dari Mario.
" Vi...Vino.Abang gak salah orang kan?" tanya Zivana dengan suara bergetar.
" Abang yakin itu Vino,karena sebelum meninggal Vino sempat meminta Abang untuk menjaga dan menyayangi Zi dengan tulus" jawab Mario.
Zivana tidak sanggup lagi membendung kesedihannya.Air matanya pun tumpah membasahi pipi.Mario memeluk Zivana dengan erat.
__ADS_1
" Maafkan Abang,abang terlambat membawa Vino ke rumah sakit.Vino menghembuskan nafas terakhirnya di tempat kejadian dan tepat di pangkuan Abang" tutur Mario.
" Abang gak marah?" tanya Zivana setelah tangisannya reda.
" Vino sudah menjelaskan semuanya pada Abang" jawab Mario.
" Vino tau kalo Zi sudah menikah?" tanya Zivana lagi dan Mario pun mengangguk.
" Dari mana dia tau?" Zivana lagi dan lagi bertanya.
" Abang juga tidak tau,Abang sempat terkejut saat dia mengatakan kalo dia tahu kita sudah menikah" jawab Mario.
" Maafkan Abang,karena sudah salah paham" ucap Mario.
Zivana turun dari kasurnya sambil memasang wajah cemberut." Makanya jadi orang jangan asal ambil kesimpulan,untung Zi gak benar-benar pergi" gerutu Zivana sambil keluar dari kamar.
" Zi mau kemana" teriak Mario sambil menyusul Zivana.
" Zivana laper,gara-gara nungguin Abang tadi Zi belum makan" jawab Zivana sambil terus berjalan kearah dapur.
Mario duduk di kursi,menunggu Zivana menghidangkan makanan.
" Orang sekarat masih sempet ngobrol ya Bang" oceh Zivana sambil menyendokkan nasi ke piring milik Mario.
" Bukan ngobrol sayang,hanya saja Vino meluruskan kesalah pahaman yang terjadi" kata Mario.
" Emangnya Vino ngomong apa aja Bang?" tanya Zivana penasaran.
" Vino bilang,Abang jangan marah sama Zi.Vino memang menyukai Zi,tapi Zi tidak pernah membalasnya.Zi hanya menganggap Vino sebatas teman" jawab Mario.
" Dari tetangga lama Zi yang tinggal di sekitaran rumah Tante.Vino pernah datang kesana untuk mencari Zi dan tetangga yang bilang ke Vino kalo kita sudah menikah" jawab Mario.
" Lah itu Abang tau,kenapa Abang tadi bilang gak tau" protes Zivana.
Hehehe...Mario nyengir kuda mendengar Zivana protes.
" Kasihan,dia harus meninggal diusia muda" gumam Zivana.
" Kita tidak pernah tau,kapan,dimana dan dengan cara apa kita mati.Semua itu rahasia Tuhan" kata Mario yang mendengar gumaman Zivana.
Zivana menghela nafasnya dan kembali melanjutkan makan siang yang tertunda.
" Besok besok,kalo Abang telat pulang.Zi makan aja ya,jangan nungguin Abang" kata Mario.
" Iya Bang" sahut Zivana.
Zivana mengemasi piring kotor dan membawanya ke tempat cuci piring,sedangkan Mario membersihkan meja makan.
" Udah gak sakit lagi ya Zi?" tanya Mario.
Zivana yang sedang menyusun piring ke rak pun mengerutkan keningnya."Apanya yang gak sakit lagi Bang?" Zivana balik bertanya.
__ADS_1
" Itunya" jawab Mario sambil menunjuk yang dia maksud memakai dagunya.
Reflek Zivana menutupi bagian yang ditunjuk oleh Mario menggunakan telapak tangannya.
" Abang,sempet-sempetnya nanyain itu" seru Zivana.
" Sempet dong,kan Abang lagi gak sibuk" sahut Mario sambil berjalan menghampiri Zivana.
" Eits,Abang mau ngapain tu cengengesan?" tanya Zivana siaga satu sambil mengacungkan spatula pada Mario.
" Dih curigaan amat,Abang mau taruh lap kotor ini kok" jawab Mario.
Zivana pun buru-buru berjalan meninggalkan Mario,wajahnya sudah merona malu.
" Zi,itu spatula mau dibawa kemana.Mau masak di kamar?" tanya Mario sambil menahan tawanya melihat tingkah lucu istri kecilnya itu.
Zivana terus berlari kecil menuju kamarnya.
Brakk!!!
Suara pintu terbanting cukup keras.Mendengar itu,tawa Mario pun lepas.Mario tertawa sambil memegangi perutnya.
" Zi" panggil Mario sambil masuk ke dalam kamar.
Zivana berbaring di kasur dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.Mario naik ke kasur lalu menarik selimut itu.
" Hujan-hujan gini enaknya ngapain ya?" tanya Mario pada Zivana yang pura-pura tidur.
" Makan bakso enak nih kayaknya" tambah Mario.
" Mau bakso" kata Zivana sambil berbalik.
" Serius nih,Zi mau bakso?" tanya Mario dan Zivana pun mengangguk dengan penuh semangat.
" Abang punya dua bakso plus satu sosis,mau?" goda Mario.
" Abaaaang" teriak Zivana.
" Kenapa mesum banget sih?" tanya Zivana sambil memukul Mario memakai bantal guling.
" Nanti malam kita makan bakso ya,sekarang abang mau tidur dulu bentar.Abang ngantuk banget nih" kata Mario.
" Janji ya" kata Zivana.
" Iya,Abang janji" balas Mario.
" Janji cuma tidur ya,gak macam-macam" kata Zivana lagi.
" Iya,tapi boleh peluk ya.Peluk aja,janji" ujar Mario sambil mengangkat jari telunjuk dan hari tengahnya,membentuk huruf V.
" Oke" kata Zivana.
__ADS_1
Zivana pun membiarkan Mario memeluknya.Tidak butuh waktu lama Mario sudah mendengkur.Zivana memandangi wajah damai Mario yang terlelap.
" Aku harap semua ini bukan mimpi,dan jika ini adalah mimpi, aku tidak ingin terbangun lagi untuk selamanya" gumam Zivana sambil membelai pipi Mario.