
Zivana mematikan semua lampu di rumahnya,kecuali lampu dapur dan teras.Sudah pukul sepuluh malam,Mario belum juga kembali.Zivana merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya,Mata lelahnya perlahan dia pejamkan.Zivana mencoba berdamai dengan hatinya,dia tidak ingin terlalu berharap lebih atas perubahan sikap Mario.
Malam terus berlalu dan berganti pagi,Zivana perlahan membuka matanya saat telinganya mendengar suara dengkuran dari arah sampingnya.Zivana membulatkan matanya saat melihat Mario tidur di samping sambil memeluknya.
Dengan sangat hati-hati Zivana melepaskan diri dari pelukan Mario.Tapi sepertinya Mario menyadari pergerakan Zivana.Bukan melepaskan pelukannya,Mario malah semakin mengeratkannya hingga Zivana tidak bisa berkutik.
" Bang udah siang nih,Zi harus bikin sarapan" kata Zivana yang sedikit risih karena belum terbiasa.
Mario menggeliat lalu membuka matanya dan memandang wajah Zivana,"Gak usah masak,nanti beli aja di jalan sekalian pulang."
Zivana menghela nafasnya,"Kalo gitu cepetan bangun,nanti yang punya rumah keburu datang" ujar Zivana.
Mau tidak mau Mario melepaskan pelukannya lalu turun dari kasurnya.
" Hoaaaamm..." Mario meregangkan otot-otot yang kaku sambil menguap.
Zivana merasa kasihan melihat Mario yang terlihat masih sangat mengantuk,tapi mau gimana lagi mereka harus cepat keluar dari rumah ini.
" Pulang jam berapa tadi malam?" tanya Zivana sambil merapikan rambutnya lalu mengikatnya menggunakan karet rambut.
" Jam empat" jawab Mario.
Mario mengambil handuk yang biasa digantung Zivana di belakang pintu kamarnya,lalu melangkahkan kakinya ke kamar mandi.Zivana mengedarkan pandangannya ke seluruh bagian kamar.Rasa sedih menggelayuti hatinya,kamar yang selama ini menjadi tempat ternyamannya kini hanya akan menyisakan kenangan di hatinya.
" Selamat tinggal kamar,selamat tinggal rumah" lirih Zivana saat mereka sudah bersiap untuk pergi.
Mario merangkul pundak Zivana lalu mengajaknya ke mobil.
...****************...
Zivana turun dari mobil dan langsung berjalan masuk ke rumah Mario.Langkah kakinya terlihat gontai,mungkin Zivana masih teringat akan rumah Tante Voni yang terpaksa harus dijual.
" Zi,kamu ngapain masuk ke kamar tamu?" tanya Mario.
Zivana diam saja,tidak menjawab pertanyaan Mario.
" Zi"
" Zi mau mandi Bang,gerah" jawab Zivana.
" Tapi koper kamu Abang tarok di kamar abang" kata Mario.
" Itu koper kosong" ujar Zivana sambil memandang wajah Mario.
" Maksud kamu?" tanya Mario tidak mengerti.
Zivana tersenyum melihat wajah bingung Mario,tapi sedikit pun dia tidak berniat untuk menjawabnya.
" Zi" Mario menarik tangan Zivana,menuntut sebuah jawaban.
Zivana melihat tangan yang dipegang oleh Mario."Tanyakan jawabannya sama Mama" ujar Zivana lalu masuk ke kamar yang biasa dia pake untuk tidur.
Mario terdiam,mencermati setiap kata yang keluar dari mulut Zivana.
" Kenapa harus tanya Mama" gumam Mario.
Tidak lama kemudian Zivana keluar dari kamarnya sudah dalam keadaan rapi.Mario yang sedang duduk di ruang tengah sambil memeriksa beberapa laporan pun mengernyitkan dahinya.
" Mau kemana Zi?" tanya Mario.
__ADS_1
" Mau keluar sebentar" jawab Zivana dingin.
" Abang antar ya" tawar Mario.
" Gak usah Bang,Zivana bisa pergi sendiri" tolak Zivana.
Mario menghela nafasnya,lalu beranjak dari duduknya.
" Zi,bukankah kita sudah baik-baik saja?" tanya Mario.
Zivana menghentikan langkahnya,"Beri Zi waktu Bang" jawab Zivana tanpa menoleh.
Mario hanya bisa terdiam,dia tidak bisa menyalahkan Zivana atas sikapnya kali ini.
" Hati-hati" pesan Mario dan Zivana mengangguk.
Mario kembali duduk di sofa,"Apa aku turuti saja kemauan Papa" monolog Mario.
Di rumah Orang tua Mario,
Zivana memarkirkan motornya,perjalanan dari rumahnya kemari cukup memakan waktu.Mama Mario menyambutnya di teras.
" Gimana?" Apa dia berubah?" Mama langsung memberondong Zivana dengan pertanyaan.
" Ma,ajak masuk dulu dong.Bukannya ditanya-tanyain gitu" tegur Papa.
Zivana tersenyum," Gak apa-apa kok Pa" kata Zivana.
Mama membawa Zivana masuk ke dalam rumah,Papa membuntutinya dari belakang.Zivana berusaha menahan tawanya agar tidak pecah melihat tingkah kedua mertuanya yang sedang menantikan informasi darinya.
" Mario sedikit berubah,tapi Zivana belum tau itu karena simpati atau memang tulus dari hati" kata Zivana.
" Rencana apa lagi sih Ma?" tanya Papa.Mama pun tersenyum licik lalu mengutarakan rencananya.
" Apa Mama yakin itu akan berhasil?" tanya Papa.
" Udah nurut aja sama Mama" jawab Mama.
" Jika nantinya tidak berhasil,Zi tidak apa-apa kok.Dan jika kami memang harus berpisah,Zi juga tidak masalah" kata Zivana.
" Zi..." Mama mengelus punggung Zivana.
" Maafkan Zi Ma...Pa.Tapi,Zi tidak mau tersiksa begini terus dan Zi juga tidak mau menjadi penghalang kesuksesan Bang Mario" ujar Zivana.
" Lalu,kamu mau kemana?" tanya Papa.
" Untuk sementara Zi mau pergi ke rumah temen,Zi mau nenangin diri dulu" jawab Zivana.
Papa dan Mama Mario hanya bisa menghela nafasnya.
" Baiklah kalo itu sudah menjadi keputusan kamu.Jika rencana kita kali ini gagal,kamu boleh pergi" kata Papa.
" Makasih Pa" ucap Zivana.
" Ya sudah,kamu istirahat gih di kamar.Pasti kamu capek" kata Mama.
Zivana mengangguk lalu menuju kamar tamu yang ditunjukkan oleh Mama.Zivana menghempaskan tubuh lelahnya di kasur.
...****************...
__ADS_1
Mario mondar-mandir di teras rumahnya,sudah pukul sembilan malam tapi Zivana belum juga kembali.
" Ini kenapa aku benci perempuan selain Mama,merepotkan" gerutu Mario.
Sebuah mobil berhenti tepat di depan rumahnya.
" Ada apa Bang?" tanya Arka yang baru turun dari mobilnya.
" Ayo masuk" ajak Mario.
Mario dan Arka duduk di sofa yang ada di ruang tamu.
" Abang berencana mengundurkan diri dari pekerjaan sekarang" kata Mario.
Arka terkejut mendengar perkataan Mario,"Abang gak salah ngomong kan?" tanyanya.
" Bang,tolong Abang pikirkan lagi.Jabatan Abang sudah tinggi Bang.Apa Abang gak nyesel nantinya?" tanya Arka lagi.
Mario menyandarkan tubuhnya di sofa," Aku sudah memikirkannya dan aku juga sudah menyiapkan semua persyaratannya" jawab Mario.
" Bang.."
Mario memotong pembicaraan Arka," Papa sudah tua,cepat atau lambat aku juga yang akan menggantikannya suatu hari nanti" ujarnya.
" Apa ini karena istri Abang?" tanya Arka lagi.
Mario menggeleng," Bukan,ini bukan karena Zivana.Dia tidak tau apa-apa soal ini" jawab Mario.
" Sepertinya Abang mulai jatuh cinta sama istri kecil Abang itu" ujar Arka sembari tersenyum.
" Aku hanya kasian sama dia,dia baru saja ditinggal pergi oleh Tantenya" kata Mario bertepatan dengan Zivana yang masuk ke dalam rumah.
" Selamat malam Buk" sapa Arka sopan.
" Zi" Mario kaget saat tahu Zivana ada di belakangnya.
" Maaf,saya tinggal masuk dulu ya" kata Zivana lalu masuk ke kamarnya.
Arka yang mengerti situasi atasannya langsung berpamitan.Setelah Arka pulang,Mario langsung menuju kamar Zivana.
Tok
Tok
Tok
" Zi,buka pintunya dong.Abang mau ngomong nih" panggil Mario dari luar kamar.
" Mau ngomongin apa Bang?" Zi udah ngantuk" tanya Zivana.
" Maaf soal kata-kata Abang tadi,Abang gak bermaksud bicara seperti itu.Maksud Abang..."
" Gak apa-apa Bang,Zi ngerti kok" ucap Zivana,memotong perkataan Mario.
" Maaf Bang,Zi udah ngantuk" Zivana langsung menutup pintu kamarnya tanpa menunggu Mario pergi terlebih dahulu.
Zivana bersandar di pintu,air matanya mengalir dengan deras membasahi pipinya.
SAKIT...itu yang Zivana rasakan sekarang.
__ADS_1