
Zivana bangun kesiangan,dia tidak sempat membuat sarapan.Selesai mandi dan berpakaian Zivana langsung pergi ke sekolah.Bel berbunyi,tanda pelajaran segera dimulai.Dengan gontai Zivana masuk ke kelasnya.Pak Guru datang dan langsung membagikan lembaran kertas yang berisi soal-soal ujian.
" Apa dia sakit,kenapa wajahnya pucat sekali?" tanya Mario dalam hati.
Mario terus memandangi wajah Zivana yang sedang serius mengerjakan soal-soal ujiannya.Hingga tidak lama kemudian bel tanda waktu telah habis pun berbunyi.
" Cha,tolong dong.Kepala aku pusing benget nih" ujar Zivana sambil menyerahkan lembar jawaban pada Cacha.
Zivana berdiri sambil memegangi meja,pandangannya berubah menjadi gelap.Berulang kali dia mengerjapkan matanya,baru kemudian dia berjalan keluar dari kelasnya.
" Kamu sakit?" tanya Mario saat Zivana lewat di depannya.
Zivana berhenti sejenak,lalu memandang wajah Mario.
" Saya baik-baik saja,Pak" jawab Zivana.
" Zi,aku anterin kamu pulang ya" tawar Cacha dan Zivana pun mengangguk.
Zivana membiarkan Cacha mengantarkannya pulang ke rumah Tante Voni,Zivana butuh waktu untuk sendiri.Pernikahannya dengan Mario baru berjalan beberapa minggu,tapi rasanya sudah seperti bertahun-tahun.
" Makasih ya Cha" ucap Zivana.
" Sama-sama,kalo besok masih pusing jangan lupa chat aku ya,biar aku jemput.Jangan sampai kamu tidak ikut ujian" kata Chaca dan Zivana pun mengangguk.
Cacha berpamitan untuk pulang,setelah Cacha pulang barulah Zivana masuk ke dalam rumah Tantenya.
" Zi,kata Mario kamu sakit.Apa itu benar?" tanya Tante dengan cemas.
" Kapan Mario bilang sama Tante?" Zivana balik bertanya.
" Tadi Mario telpon Tante dan mengatakan kalo kamu sakit,dia minta maaf sama Tante karena belum bisa menjemput kamu.Karena ada kasus yang harus dia tangani" tutur Tante.
" Oh" Zivana ber'oh saja.
Tante mengajak Zivana masuk ke dalam rumah,Tante menyiapkan makan siang untuk Zivana.
" Ini obatnya,diminum" kata Tante Voni.
Zivana memandang wajah Tantenya,ingin rasanya Zivana meluahkan isi hatinya.Tapi,itu tidak mungkin Zivana lakukan,mengingat sakit yang diderita oleh Tantenya.
" Ada apa,hemm?" Ada yang ingin kamu bicarakan sama Tante?" tanya Tante seolah tahu apa yang ada dalam benak keponakannya.
" Gak ada kok Tante" jawab Zivana sambil menunduk.
Tante duduk di samping Zivana,lalu mengusap punggungnya.
__ADS_1
" Apa Mario menyakitimu,dia tidak menerimamu?" cecar Tante.
Zivana sudah tidak sanggup lagi membendung beban yang ada di hatinya,Zivana pun menangus dipelukan Tante yang selama ini sudah membesarkannya.
" Apa Zi boleh mengatakan kalo Zi lelah Tante,Zi tidak pernah dihargai di sana,Tante.Mario sama sekali tidak pernah peduli sama Zi,dia gak pernah menganggap Zi ada.Zi sudah melakukan semuanya,Zi belajar untuk menerima Mario.Tapi,semua sia-sia" curhat Zivana disela-sela tangisnya.
Tante Voni mengusap punggung Zivana dengan lembut," Yang namanya pernikahan memang begitu sayang,apalagi kalian baru beberapa minggu menikah.Butuh waktu untuk saling mengenal,butuh waktu untuk saling menerima antara satu sama lain" ujar Tante.
Zivana masuk ke kamarnya,dia butuh waktu untuk beristirahat.Saat Zivana sedang tidur,Tante masuk ke kamar keponakannya itu.Tante membelai rambut Zi dengan penuh kasih sayang.
" Tuhan,izinkan aku hidup lebih lama lagi.Aku ingin melihat keponakanku bahagia,aku ingin jika aku mati nanti,Zi sudah menemukan kebahagiaannya bersama orang yang menyayanginya" ucap Tante lirih.
Tante keluar dari kamar Zi saat mendengarkan sesorang mengucapkan salam dari arah depan rumahnya.
" Mario,ayo masuk" ajak Tante pada Mario.
Mario masih memakai baju tugasnya dan mobil yang dia pakai pun masih mobil kantor.
" Zi nya mana,Tante?" tanya Mario.
" Dia masih tidur,mungkin efek dari obat yang dia minum tadi" jawab Tante.
Tante menghela nafasnya,lalu memandang wajah Mario.
" Apa Zi yang menginginkannya?" tanya Mario.
Tante Voni menggelengkan kepalanya," Bukan.Ini keinginan Tante sendiri.Hanya dia yang Tante punya,begitu juga sebaliknya.Dari usia delapan tahun,dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi.Orang tuanya meninggal dalam kecelakaan kapal dan hanya dia yang selamat.Dari kecil dia sudah menderita,Tante belum bisa membahagiakannya sampai detik ini" tutur Tante Voni.
Hari mulai malam,Tante Voni pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam.Mario duduk bersandar di kursi sambil memejamkan matanya dengan kedua tangan dilipat di belakang kepala.
Zivana keluar dari kamarnya,rasa pusing di kepala berangsur hilang.Zivana terkejut saat melihat Mario sudah berada di sana.Zivana melangkahkan kakinya menuju dapur,membantu Tante menyiapkan makan malam.Zivana duduk dalam keadaan lesu.
" Tenang saja,Tante sudah minta izin pada Mario,supaya kamu tinggal disini sampai kamu lulus" ujar Tante dengan suara yang sangat pelan.
" Terima kasih Tante" ucap Zivana dan Tante pun mengangguk.
" Panggil Mario,ajak dia makan" perintah Tante.
Zivana menghela nafasnya,lalu berjalan ke ruang tamu.
" Bang,makan malam sudah siap.Ayo makan dulu" ajak Zivana dengan nada datar.
Mario membuka matanya,lalu mengikuti langkah Zivana menuju ruang makan.Tidak ada satu pun yang bersuara,mereka lebih memilih diam sambil menyantap makanannya.
Kriiing...
__ADS_1
Ponsel Mario berdering.Mario mengangkat panggilan di ponselnya.
" Hallo...baiklah.Amankan lokasi kejadian,saya akan segera meluncur kesana" kata Mario pada orang yang menelponnya.
" Maaf Tante,Mario harus pergi" ucap Mario dan Tante mengangguk.
Mario melihat Zivana yang tidak menoleh padanya sedikit pun.
" Abang pergi dulu" pamit Mario.
" Hemmm..." Zivana mendehem saja.
Tante Voni hanya menghela nafasnya melihat sikap Zivana.
Mario langsung keluar dan pergi menggunakan mobilnya,nasi di piringnya baru separohnya dia makan.Tante membereskan meja makan lalu mencuci piring yang kotor.Zivana kembali masuk ke kamarnya lalu belajar.
Tante Voni duduk di ruang tengah sambil menonton berita di TV.Sekilas dia melihat Mario sudah berada di sana.
" Zi,sini deh" teriak Tante Voni.
Zivana keluar dari kamar sambil membawa buku.
" Ada apa Tante?" tanya Zivana.
" Mario sedang menangani kasus bunuh diri tuh" jawab Tante sambil menunjuk TV di depannya.
Wajah Mario terpampang jelas,para wartawan sedang mewawancarainya,meminta penjelasan tentang kasus yang sedang dia tangani.
Zivana kembali masuk ke kamarnya dan melanjutkan kembali belajarnya.Setelah selesai belajar,Zivana mengemasi buku-bukunya dan memasukkannya ke dalam tas.
Tring
Satu pesan singkat masuk ke ponselnya,bukan pesan pribadi,tapi chatingan yang masuk ke grup sekolah.
" Tante" seru Zivana,dia sudah menangis.Tubuhnya bergetar hebat.
Tante Voni langsung masuk ke kamar Zivana," Ada apa?" Kenapa kamu menangis?" tanya Tante.
" Cacha Tante,Cacha.Kasus yang sedang ditangani oleh Mario adalah Cacha.Cacha mati bunuh diri" jawab Zivana disela-sela tangisnya.
Tante mengambil ponsel milik Zivana dan membaca pesan yang masuk di grup sekolahnya.
" Risa Ferdina alias Cacha,mati mengenaskan setelah melompat dari lantai delapan apartemet milik kekasihnya.Cacha diduga hamil dan kekasihnya tidak mau bertanggung jawab"
Tante langsung menutup mulutnya,tidak percaya dengan apa yang baru dibacanya.
__ADS_1