
" Sudah tidak ada harapan lagi Zi,kankernya sudah menyebar dan semakin mengganas.Kita hanya bisa pasrah dan berdoa pada Tuhan,semoga ada keajaiban" kata-kata Dokter terus terngiang-ngiang di telinga Zivana.
Sampai tengah malam,Tante Voni belum sadarkan diri.Zivana tidak berniat untuk memejamkan matanya sedikit pun.
Tok tok tok
Pintu ruangan tempat Tante dirawat ada yang mengetuk.
" Masuk" kata Zivana lirih.
Pintu terbuka,Arka masuk ke dalam ruangan itu sambil membawa bungkusan.
" Makanlah dulu Bu,sedari tadi Ibu belum makan sedikit pun" kata Arka.
" Darimana Bapak bisa tahu,saya ada disini?" tanya Zivana.
" Komandan...eh maksud saya Pak Mario yang memerintahkan saya untuk menjaga anda" jawab Arka sopan.
" Mario?" tanya Zivana tidak percaya.
" Pak Mario bertugas ke daerah pedalaman,mungkin di sana tidak ada sinyal.Sedari tadi saya sudah mencoba menghubungi ponsel beliau tapi ponselnya tidak aktif" tutur Arka.
" Permisi pak,Komandan sudah bisa dihubungi,sekarang sedang meluncur kemari" lapor salah satu orang yang dibawa oleh Arka.
" Kalian mengganggu pekerjaannya" kata Zivana.
" Maaf buk,kami hanya menjalankan tugas" ujar Arka sambil membungkuk.
" Ibu makanlah dulu,setelah itu Ibu istirahat.Kalo ibu tidak makan,ibu bisa sakit.Lalu,nanti siapa yang akan menjaga orang tua ibu" tutur Arka lagi.
" Baiklah,terima kasih" ucap Zivana.
Arka mengajak temannya untuk keluar dan berjaga di depan pintu.
" Sebenarnya,mereka itu siapa?" Kenapa komandan meminta kita untuk berjaga-jaga disini?" tanya Reno,teman Arka tadi.
" Saudaranya" jawab Arka singkat.
Sampai pagi menjelang,Tante belum sadarkan diri,makanan tak tersentuh dan Zivana pun tidak tidur.Dia terus menggenggam tangan Tantenya,matanya terus memandang kearah Tante Voni yang terpejam dan terlihat semakin kurus.
" Tante bangun,jangan tinggalin Zi Tante.Kalo Tante pergi,Zi sama siapa" kata Zivana lirih.
Tangan Tante bergerak,merespon setiap perkataan yang keluar dari bibir Zivana.Perlahan Tante membuka matanya dan tersenyum kearah Zivana.
" Tante....Tante sudah sadar.Tunggu sebentar,Zi panggil Dokter" seru Zivana lalu berlari tunggang langgang dan menuju ruang Dokter yang sudah beberapa tahun ini menangani penyakit Tantenya.
Tidak lama Zivana kembali ke kamar itu bersama Dokter dan dua orang perawat.Arka yang melihat Zivana berlari pun berinisiatif masuk ke dalam kamar untuk melihat apa yang terjadi.
" Apa Tante baik-baik saja,Dokter?" tanya Zivana sesaat setelah Dokter selesai memeriksanya.
Dokter memandang wajah Zivana,lalu mengajak Zivana untuk keluar.Dokter dan Zivana duduk di kursi yang ada di depan kamar rawat Tante Voni.
" Tidak ada pasien penderita kanker stadium akhir yang baik-baik saja.Zi,teruslah beri Tante semangat.Karena dukungan dari orang-orang di dekatnya lah yang bisa membuatnya untuk bertahan" tutur Dokter.
" Zi harus gimana Dok,Zi tidak tau harus berbuat apa?" tanya Zivana.
" Tetaplah di sampingnya,sebisa mungkin untuk tidak menambah beban pikirannya" jawab Dokter sambil merangkul pundak Zivana dan menepuk-nepuknya dengan lembut.
Hiks....Zivana tidak sanggup lagi membendung kesedihannya,air matanya tumpah dipelukan Dokter.
" Ehemmm..." Mario mendehem.
" Selamat Pagi!" sapanya.
Dokter yang sedang mencoba menenangkan Zivana pun mendongakkan kepalanya.
" Selamat Pagi Pak Mario" balas Dokter setelah tau siapa yang menyapanya.
Mario masuk ke kamar tempat Tante Voni di rawat.
" Selamat Pagi,Tante" sapa Mario lalu duduk di kursi yang ada di samping brankar Tante Voni.
" Pagi juga" balas Tante dengan suara lirih.
" Apa yang Tante rasakan?" tanya Mario.
" Yang Tante rasakan saat ini adalah bahagia,Mario.Karena sekarang sudah ada kamu yang menggantikan Tante untuk menjaga Zivana" jawab Tante lalu tersenyum.
__ADS_1
" Tante..."
Tante Voni memotong perkataan Mario," Jika Tante pergi nanti,apapun keadaannya,tolong jaga Zivana,tolong sayangi dia.Hanya kamu harapan Tante satu-satunya" pinta Tante Voni.
" Baik Tante" ucap Mario.
Zivana masuk ke dalam kamar itu.
" Kamu tidak sekolah,Zi?" tanya Tante dan hanya dijawab gelengan kepala oleh Zivana.
" Bukannya kamu sedang mengikuti ujian Nasioal?" tanya Tante lagi.
" Sudah selesai Tante,tinggal menunggu hasilnya saja" jawab Zivana.
Zivana sama sekali tidak memandang wajah Mario,bahkan sekedar menyapa saja tidak dia lakukan.
" Kalian boleh pulang,terima kasih karena sudah menjalankan tugas dengan baik" ujar Mario.
" Baik Pak" sahut Arka dan Reno bersamaan.
" Tante dengar dari Arka katanya semalaman kamu tidak tidur dan juga tidak makan,apa itu benar?" tanya Tante Voni.
" Zi sedang tidak selera makan" jawab Zivana.
Mario menatap wajah Zivana yang tidak kalah pucatnya dengan wajah Tante Voni.
" Kamu harus makan,kalo kamu sakit,siapa yang akan menjaga Tante" kata Mario.
Zivana diam saja,tidak menanggapi perkataan Mario.Zivana merebahkan tubuhnya,lalu mulai memejamkan matanya yang sangat mengantuk.
" Maafkan sikap Zivana" ucap Tante.
" Tidak apa-apa Tante,Mario mengerti.Tidak mudah menerima semua yang terjadi,kami butuh waktu untuk bisa saling menerima satu sama lain" kata Mario.
Perawat datang mengantarkan makanan dan obat untuk Tante Voni.Mario dengan telaten menyuapi Tante Voni makan,lalu setelah itu memberikan obat yang harus diminum oleh Tante.
" Mario pergi sebentar ya Tante,Mario harus lapor ke atasan" pamit Mario dan Tante pun mengangguk.
Mario keluar dari kamar itu,lalu dia pergi ke ruang Dokter yang merawat Tante Voni.
" Baik pak" sahut Dokter.
Setelah itu barulah Mario berangkat ke kantornya.
" Sebenarnya ada hubungan apa antara Tante Voni,Zivana dan Pak Mario?" monolog Dokter.
Mario mengemudikan mobilnya menuju kearah kantor.Sesampainya di kantor Mario langsung menuju ke ruang kerja atasannya.
" Selamat pagi Pak!" Mario mengetuk pintu ruangan itu.
" Silahkan masuk" titah atasannya.
Mario masuk ke ruangan itu lalu berdiri tepat di hadapan atasan dan membungkuk memberi hormat.
" Duduklah" perintah atasannya.
Mario duduk di kursi lalu menyerahkan sebuah map pada atasannya.
Seorang OB masuk ke ruangan itu lalu menyuguhkan segelas kopi untuk atasan.
__ADS_1
" Tolong tutup pintunya,saat kamu keluar" pinta atasan Mario pada OB itu.
" Baik pak" sahut OB.
Setelah OB keluar dan menutup pintunya,Atasan Mario pun mulai berbicara.
" Mari kita bicara dari hati ke hati sebagai anak dan bapaknya,bukan antara atasan dan bawahan" kata Atasan Mario yang bernama Jamal itu.
" Maksud Bapak?" tanya Mario.
" Saya sudah mendengar tentang pernikahan diam-diam yang kamu lakukan Mario,kenapa kamu lakukan itu.Apa karena istrimu masih duduk di bangku sekolah atau karena kamu punya wanita simpanan dan tidak berniat melegalkan pernikahanmu dengan istrimu?" tanya Pak Jamal.
" Bukan maksud Mario seperti itu Pak,Mario hanya tidak suka pesta yang wajib dilakukan oleh setiap anggota polri jika menikah" jawab Mario.
Pak Jamal menghela nafasnya," Tapi,itu sudah peraturan yang harus kita patuhi,Mario" kata Pak Jamal.
" Itulah yang membuat Mario belum mendaftarkan pernikahan Mario,selain istri yang masih sekolah juga karena serentetan peraturan dan banyaknya syarat yang harus dipenuhi" tutur Mario.
" Mana buku nikahmu,masalah ini biar Bapak yang urus" pinta Pak Jamal.
Mario membuka tasnya,lalu mengeluarkan buku nikah dari dalamnya dan menyerahkan buku itu pada Pak Jamal.
" Ini Pak" kata Mario.
Pak Jamal mengambil buku nikah itu lalu membacanya,selesai membaca dan mengecek keaslian buku nikah itu,Pak Jamal menyimpan buku nikah itu di dalam laci mejanya.
" Berapa bulan lagi istrimu lulus sekolah?" tanya Pak Jamal.
" Satu bulan lagi" jawab Mario.
Pak Jamal manggut-manggut sambil mengusap-usap dagunya.
" Persiapkan dirimu,jika aku gagal merayu kapolda maka pesta tetap harus diadakan" ujar Pak Jamal.
" Baik Pak" sahut Mario.
Mario mengundurkan diri,karena masih ada pekerjaan yang harus dia kerjakan.
" Dia pikir semudah itu seorang polisi dengan pangkat tinggi bisa menikah,tidak semudah itu Mario.Kamu tetap harus mengikuti serangkaian peraturan yang ada.Status istrimu harus diakui dan disahkan" monolog Pak Jamal lalu menyeringai.
__ADS_1