Zivana(Cinta Di Ujung Penantian)

Zivana(Cinta Di Ujung Penantian)
Bab 06


__ADS_3

Mario duduk termenung di kursinya,bayangan seorang gadis berlumuran darah dan tulang yang patah dibeberapa bagian tubuhnya terus menghantui pikirannya.Masih terlintas diingatannya,bagaimana Cacha menawarkan diri untuk mengantarkan Zivana pulang ke rumahnya.Cacha yang selalu berjalan berdua bersama Zivana,saat jam sekolah telah usai.


" Aku tidak menyangka,di balik senyum dan tawanya,dia menyimpan masalah yang begitu besar" gumam Mario.


" Bapak tidak pulang?" tanya anak buah Mario.


Mario melihat arloji yang melingkar di tangannya,sudah pukul satu dini hari.Mario menyambar kunci mobil dan jaketnya,lalu keluar dari ruang kerjanya.


" Bagaimana?" Apa kekasih gadis itu sudah kalian temukan?" tanya Mario.


" Belum pak.Oya pak,coba Bapak tanya ke istri Bapak,mungkin saja istri Bapak kenal dengan gadis itu.Bukankah bapak bilang,kalo istri bapak sekolah di Nusa Bangsa" tutur anak buah Mario.


Mario berhenti sejenak," Aku tidak mau istriku terbawa dalam kasus ini" ujar Mario.


" Baik,Pak"


Mario masuk ke mobilnya lalu pulang ke rumahnya.Sebelum sampai ke rumahnya,Mario terlebih dulu mampir ke warung pinggir jalan yang menjajakan beraneka ragam makanan.Mario ingat kalo dia belum makan sedari tadi,terakhir dia makan pas jam makan siang.


...----------------...


Semua siswa menghadiri pemakaman Cacha,tangis pilu mengiringi kepergiannya.Ibu Cacha jatuh pingsan saat peti mulai diturunkan ke dalam liang lahad.Setelah proses pemakaman selesai,satu persatu mulai meninggalkan pemakaman.


Zivana berjalan menuju motornya dengan langkah gontai.Tiba-tiba sesorang menghentikan langkahnya.


" Maaf Nona,bisa minta waktunya sebentar" kata orang yang berseragam lengkap.


" Ada apa?" tanya Zivana.


Zivana mengedarkan pandangannya,tapi dia tidak melihat Mario ada di sana.


" Bisa ikut kami ke kantor,kami butuh beberapa keterangan tentang korban.Salah satu dari kami,melihat korban bersama anda sebelum terjadi tragedi bunuh diri yang dilakukan korban" jawab Polisi itu dan Zivana pun mengangguk.


Zivana digiring masuk ke dalam mobil polisi,lalu polisi itu membawanya ke kantor.Sesampainya di kantor polisi,Zivana dibawa ke ruang introgasi.Zivana membungkuk saat dia melihat orang yang hadir di hari pernikahannya sedang berjalan menuju kearah luar.


" Tunggu" seru orang itu pada orang yang membawa Zivana.


" Apa kalian sudah mendapat izin dari komandan untuk melibatkan gadis ini dalam kasus bunuh diri saudara Cacha?" tanya Orang itu.


" Belum,tapi kami akan meminta komandan untuk mengintrogasi gadis ini.Gadis ini adalah orang terakhir yang bersama dengan korban" jawabnya.


" Terserahlah" ucap anak buah Mario lalu pergi.


Zivana dibawa masuk ke dalam ruangan yang berdinding kaca,ruangan yang cukup sempit.Hanya ada dua kursi dan satu meja saja.


" Silahkan duduk" titah polisi itu.


Zivana pun duduk di kursi seperti yang diperintahkan oleh polisi itu.


" Selamat siang,komandan" ucap polisi yang membawa Zivana tadi pada orang yang baru masuk ke ruangan itu.

__ADS_1


Zivana diam saja saat melihat Mario yang datang.


" Kalian keluarlah" perintah Mario pada kedua anak buahnya.


Mario menghela nafasnya lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan Zivana.


" Apa kamu baik-baik saja?" tanya Mario dan Zivana mengangguk.


" Tidak seharusnya kamu berada di sini Zi,tapi mau bagaimana lagi kamu sudah terlanjur dibawa kesini oleh anak buahku" tutur Mario.


Mario membuka lembaran kertas yang dibawanya,lalu mulai mengintrogasi Zivana.Zivana hanya mengangguk atau menggeleng untuk menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh Mario padanya.Setelah selesai,Zivana pun keluar dari ruangan itu.Dua jam berada di dalam satu ruangan dengan Mario,tidak sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.


" Tunggu di depan,aku akan mengantarkanmu pulang" kata Mario.


Zivana menghentikan langkahnya,lalu menoleh ke arah Mario." Tidak perlu,Pak.Saya bisa pulang sendiri" tolak Zivana.


" Permisi" pamit Zivana lalu pergi.


Mario menatap kepergian Zivana dengan pandangan yang sulit di artikan.


Mario kembali ke ruangannya.


" Arka" panggilnya pada anak buah yang mengetahui jika Mario sudah menikah.


" Saya Pak" jawab Arka.


" Siapa yang membawa Zivana kemari?" tanya Mario.


Mario pun duduk bersandar di kursinya,sambil memijat kepalanya yang terasa pusing.


" Apa semua persiapan sudah selesai?" tanya Mario.


" Sudah Pak" jawab Arka.


" Bapak yakin mau ikut mereka?" tanya Arka.


Mario menghela nafasnya," Aku butuh waktu untuk menenangkan diri" jawab Mario.


Arka mendekati Mario,atasan yang sudah dianggapnya sebagai kakak itu.


" Bang,Arka yakin, Zivana gadis yang baik.Apalagi yang Abang pikirkan" ujar Arka.Dia berbicara antara kakak dan adik,bukan antara atasan dengan bawahan.


" Abang juga gak tau,kenapa Abang begitu membenci Zivana.Abang tau dia gak salah dan pernikahan kami terjadi karena perjodohan,bukan keinginan dia" ujar Mario.


" Lagi pula Abang gak suka pesta" tambahnya.


" Abang hanya perlu mendaftarkan pernikahan Abang dan Zivana,Abang kan bisa minta sama atasan untuk tidak melakukan pesta pedang pora atau apalah itu" kata Arka.


" Terima kasih ya,nanti akan Abang bicarakan pada atasan" ucap Mario.

__ADS_1


Mario dan beberapa anak buahnya harus pergi keluar kota untuk membantu kantor pusat dalam menyelesaikan kasus yang ada diluar kota.Mario mengirimkan pesan singkat pada Zivana.Setelah itu dia dan Arka pun menuju ke mobilnya.


" Kalian sudah siap?" tanya Mario.


" Sudah Pak" jawab anak buah Mario.


Mario menepuk pundak Arka," Aku pergi dulu,tolong awasi dan jaga Zivana" bisik Mario.


" Siap Bang" ucap Arka.


Arka tidak ikut ke luar kota,karena harus mengusut tuntas kasus Cacha.


Di rumah Tante Voni,Zivana sedang duduk santai di belakang rumahnya sambil menikmati bakwan dan secangkir teh buatan Tantenya.


Tring


Pesan singkat masuk ke ponsel Zivana.


📥 Mario


" Aku ada tugas beberapa hari di luar kota"


Zivana meletakkan ponselnya sambil menggerutu," Gak di dunia nyata gak di dunia maya,sama aja sikapnya.Gak ada manis-manisnya" gumam Zivana.


Hari beranjak sore,Zivana memutuskan untuk masuk ke dalam rumahnya dan memutuskan untuk mandi.


" Mario gak datang?" tanya Tante Voni pada Zivana yang baru selesai mandi.


" Mario ada tugas keluar kota,Tante" jawab Zivana.


" Tante,kok wajah Tante pucat banget.Tante sakit lagi ya?" tanya Zivana.


" Enggak kok Zi,Tante cuma kecapekan aja" jawab Tante sambil tersenyum.


" Tante gak bohong kan?" tanya Zivana lagi.


Tante menggelengkan kepalanya," Zi,apapun yang terjadi,kamu harus tetap bersama Mario.Dia laki-laki yang baik" ujar Tante dan Zivana pun mengangguk.


" Zi ke kamar dulu ya,Zi mau pake baju" kata Zivana.


Kamar mandi yang ada di rumah Zivana berada di dekat dapur,di kamar tidur tidak ada kamar mandi seperti rumah orang-orang kebanyakan.


Prang


Terdengar bunyi benda jatuh dan pecah dari arah dapur.Zivana yang sudah berpakaian lengkap pun berlari menuju dapur dan melihat Tante Voni tergeletak di lantai dengan hidung yang mengeluarkan darah segar.


" Tante,Tante kenapa.Kita ke rumah sakit ya" kata Zivana yang langsung berlari keluar rumah dan menuju ke rumah tetangganya untuk meminta pertolongan.


Beberapa orang datang lalu menggotong tubuh Tante Voni dan membawanya ke mobil milik salah satu warga.Mereka pun langsung membawa Tante ke rumah sakit terdekat.

__ADS_1


" Tolong selamatkan Tanteku, Tuhan.Hanya dia yang Zi miliki.Hanya Tante orang yang menyayangi Zi" ucap Zivana sambil menggenggam erat tangan Tantenya yang mulai melemah.


__ADS_2