
Seminggu telah berlalu namun tiada yang berubah sikap Arni tetap saja dingin bahkan bukan hanya pada Risky tapi juga pada abang-abangnya yang lain hal itu membuat para abang-abangnya tidak fokus dalam segala hal salah satunya masalah kerjaan dan sekolah, mereka lebih banyak melamun akibat sifat Arni selama seminggu ini.
"Pagi Arni," sapa Ratna yang baru saja memasuki kelas bersama dengan Putri.
"Pagi," ucap Arni.
"Arni," panggil Putri sambil duduk di samping Arni.
"Kenapa lagi lo?" tanya Arni dengan malas sambil menatap Putri.
"Lo nggak capek apa diemin abang lo kaya gini? Lo nggak kasihan sama mereka yang tiap hari dateng ke sekolah cuman buat minta maaf sama lo?" tanya Putri dengan hati-hati takutnya Arni salah mengartikan dan bertambah marah.
"Iya Ni', lo nggak kasihan liat mereka jadi gak fokus buat kerja dan sekolah gara-gara mikirin lo terus?" tanya Ratna mereka berdua juga kasihan terhadap abang-abangnya Arni yang tiap hari datang ke sekolah cuman buat minta maaf dan berharap Arni nggak marah lagi.
"Coba tuh lo liat bang Risky di taman belakang," ucap Putri yang menunjuk Risky di taman belakang sekolah kebetulan kelasnya itu kelas paling pojok jadi langsung terlihat taman belakang sekolah.
Arni melihat disana Risky sendirian duduk sambil termenung entah apa yang dia fikirkan biasanya dia sedang bersama sahabat di kelasnya namun mengapa dia kini sendirian?
Arni tertunduk melihat itu dia merasa bersalah melihat abangnya seperti itu namun mengingat abangnya itu pernah menamparnya bahkan tidak bisa percaya padanya membuatnya berfikir dua kali untuk memaafkan abangnya itu.
"Lo juga harus liat ini," ucap Ratna lalu menarik Arni kearah rooftop disana mereka melihat Revan duduk di sebuah kursi sambil menghisap rokoknya ya sebenarnya Revan tidak pernah menyentuh rokok entah mengapa selama seminggu ini melihat adiknya mendiaminya membuatnya frustasi dan mulai menyentuh rokok, Arni cukup kaget dengan yang dilakukan oleh Revan apalagi kini air mata mulai membasahi pipinya dia mencoba untuk menyekanya tapi tetap saja tidak membuatnya kering kembali.
Arni mulai maju kedepan sedikit demi sedikit hatinya pun teriris melihat abangnya itu selangkah demi selangkah dia mulai menghampiri Revan.
"Abang," panggil Arni yang kini sudah berada di hadapan Revan sambil menangis, Revan dan Raffi adalah abang yang paling dekat dengan Arni sehingga Revan bisa sefrustasi ini saat Arni mendiaminya padahal bukan karena salahnya.
Revan mendongak dan mendapati Arni sedang menangis dihadapannya dia kaget dan langsung berdiri.
"Arni," panggil Revan yang masih tak percaya.
Arni yang masih melihat rokok di sela jari abangnya langsung menghempaskannya dan setelah jatuh dia menginjak rokok itu hingga tak berbentuk.
"Abang mau kalau Arni tambah marah hah, Arni kan udah pernah larang abang buat nggak nyentuh barang itu," omel Arni masih dengan air mata yang terus mengalir, Revan melihat semua itu lalu dia langsung memeluk Arni dengan erat seakan tak ingin Arni pergi dari sisinya.
"Abang kenapa nggak mau dengerin Arni apa abang mau kalau Arni tambah marah sama abang," ucap Arni yang langsung mendapat gelengan dari Revan.
"Nggak dek ini aja udah buat abang tersiksa jangan marah lagi ya sama abang, abang gak bisa liat kamu marah sama abang lama kaya gini," ucap Revan yang enggan melepas pelukannya, di tangga rooftop Ratna dan Putri melihat drama itu yang membuat mereka merasa iri.
__ADS_1
"Gue iri deh sama Arni punya abang yang sayang banget sama dia sedangkan gue? Abang gue sibuk tiap hari sama temen-temennya bahkan gue kaya orang asing buat dia," ucap Putri dengan sedih sambil menatap Arni dan Revan.
"Apa kabar sama gue? Punya abang tapi taunya kasar doang gak bisa lembut kaya abang-abangnya Arni iri banget gue," ucap Ratna sambil menatap sedih Arni dan Revan. Tanpa mereka sadari Adelia ada di belakang mereka sedang mengepalkan tangannya dengan kuat karena rencananya dia dan teman-temannya akan menyingkirkan Arni eh malah mereka yang mulai tersingkirkan.
"Abang janji ya jangan nyentuh rokok lagi," ucap Arni sambil mengacungkan jari kelingkingnya Revan menatap jari kelingking Arni dan tersenyum.
"Janji," ucap Revan sambil mengaitkan jari kelingkingnya yang membuat Arni tersenyum.
"Yaudah abang pulang gih Arni masih ada pelajaran soalnya, nanti ketemu dirumah ya," ucap Arni.
"Abang jemput ya?" tanya Revan.
"Boleh," ucap Arni sambil mengangguk.
"Yaudah abang pulang ya kamu belajar yang rajin," ucap Revan sambil mengacak rambut Arni.
"Abang iihh, yaudah hati-hati," ucap Arni sambil merapikan rambutnya lalu Revanpun pergi, lalu Arni dan kedua sahabatnya berjalan menuju kelas saat akan memasuki kelas Arni berhenti.
"Kenapa?" tanya Ratna.
"Kalian duluan aja gue ada urusan sebentar," ucap Arni dan meninggalkan kedua sahabatnya yang terlihat bingung.
"Abang," panggil Arni saat sudah berada di belakang Risky merasa ada seseorang di belakangnya dan memanggilnya abang diapun menoleh dan mendapati Arni yang sedang menatapnya.
"Ngapain kamu kesini bukannya udah gak mau lagi punya abang kaya gue ini udah omongannya kasar main tangan pula," ucap Risky dengan ketus sambil mengalihkan pandangannya ke depan ketempat semula.
"Abang juga marah sama Arni? Harusnya kan Arni yang marah," ucap Arni sambil duduk di samping Risky dan menyenderkan kepalanya di bahu Risky beginilah cara Arni jika ingin meluluhkan Risky namun kali ini Risky hanya diam tak menanggapi lalu Arni menegakkan kepalanya dan menatap Risky dengan cemberut.
"Harusnya itu Arni yang marah sama abang kenapa jadi abang yang ketus gini sama Arni, Arni udah berbaiki hati mau nyamperin abang biar abang nggak murung sendirian disini malah diketusin," ucap Arni sambil mengerucutkan bibirnya yang membuat siapapun gemas melihatnya tak terkecuali abangnya yang satu ini dia menatap Arni dengan senyum yang sangat tipis di bibirnya tak lama.
*CUP*
Risky mencium pipi Arni yang membuat Arni terkejut bukan main pasalnya ini di sekolah bukan di rumah bisa-bisanya abangnya ini menciumnya kalau siswa siswi di sekolahnya melihat itu bagaimana apalagi jika Agnes yang melihatnya.
"Uuuu so sweet," sorak para siswa-siawi yang melihat itu yang sontak membuat Arni menoleh dan banyak siswi di belakang taman itu di tambah lagi anak-anak di kelasnya yang sedang menyorakinya membuatnya bertambah malu.
"Mau dong Ky lo cium,"
__ADS_1
"Pengen deh jadi lo Ni',"
"Iya so sweet banget anjir,"
"Jadi iri gue," itulah celotehan para siswa-siswi di sana yang membuat Arni malu setengah mati.
"Abangkan jadi gibahan anak-anak lain bikin malu aja deh," ucap Arni sambil mengerucutkan bibirnya kembali yang membuat Risky semakin gemas.
"Bibirnya gak usah dimonyong-monyongin juga kali gue cium loh ntar," ucap Risky bercanda yang langsung mendapatkan toyoran dari Arni.
"Dih bang Risky udah mulai m*s*m ya sekarang," ucap Arni sambil menatap Risky dengan berkacak pinggang, Risky hanya tertawa lalu tak lama Risky langsung memeluk Arni dengan erat yang membuat Arni kembali terkejut dan mengundang celotehan para siswa-siswi kembali namun mereka abaikan.
"Maafin abang dek," ucap Risky sambil menyembunyikan wajahnya di pundak Arni.
"Iya Arni maafin kok bang tapi jangan diulang lagi ya," ucap Arni sambil mengelus punggung abangnya, namun Risky tak kunjung menegakkan tubuhnya membuat Arni menjadi bingung tak lama seragam Arni mulai terasa basah dan Arni mengerti bahwa abangnya ini sedang menangis, Risky memang tipe orang yang keras kepala tetapi dia juga tipe orang yang cengeng apa lagi bersangkutan dengan abang atau adeknya ini.
"Udah abang ihh diliatin sama anak-anak masa seorang Risky siswa famous di sekolah nangis dipundak cewek sih gak malu apa," ucap Arni.
"Biarin, toh mereka nggak tau apa-apa, gue nyaman di pelukan lo jangan marah lagi ya separuh hidup gue rasanya sunyi tanpa ada canda tawa lo," ucap Risky masih setia memeluk Arni.
"Tapikan abang bilang Arni harus dewasa nggak boleh kekanak-kanakan soalnya suatu hari nanti kita pasti bakal ngejalanin hidup masing masing," ucap Arni sambil menatap ke depan.
"Itu nanti untuk sekarang gapapa lo tau bang Raff, bang Rev, bang Ren, abang sama Reyhan udah kayak patung hidup tau gak gara-gara lo," ucap Risky yang kini menegakkan kepalanya dan menyeka air matanya.
"Abang sih nyari gara-gara sama Arni kena sendiri kan, udah gue diemin ditambah lagi bang Raffi sama bang Reyhan diemin abang juga," ucap Arni.
"Iya-iya abang minta maaf ya, abang janji nggak akan kasar lagi sama Arni," ucap Risky lalu tak lama belpun berbunyi.
"Udah bel bang ayo ke kelas," ucap Arni yang diangguki oleh Risky lalu mereka pergi ke kelas masing-masing.
Pulang sekolah Revan sudah menunggu di depan parkiran tak lama Arnipun datang lalu merekapun pulang.
Merekapun sampai di rumah Arni dan Revan keluar dari mobil dengan bercanda lalu masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa.
"Abang ambilin minum dong haus," ucap Arni dengan puppy eyes nyaa.
"Ck! Gini nih yang paling gue nggak suka, mau nolak tapi yaudahlah," ucap Revan lalu pergi ke dapur untuk mengambil minuman.
__ADS_1
"Kasian amat abang gue," ucap Arni sambil terkekeh tak lama datanglah Revan membawa 2 gelas jus mangga.
"Nih minumnya tuan putri," ucap Revan bak pelayan yang melayani tuan putrinya yang membuat Arni tertawa Revanpun ikut tertawa lalu duduk disamping Arni dan menyenderkan kepalanya dibahu Arni sudah seperti sepasang kekasih yaa.