5 ABANG TAMPANKU

5 ABANG TAMPANKU
PART 7 [SIKAP DINGIN + MOODBOOSTER]


__ADS_3

Pagi haripun tiba Arni sudah siap dengan seragamnya lalu dia turun ke meja makan dan makan dalam diam tanpa ada niatan untuk memanggil para abangnya, saat sedang menikmati makanannya para abangnya pun turun untuk sarapan.


"Makan diem-diem aja lo nggak manggil-manggil," ucap bang Reyhan dan duduk di kursi samping Arni namun tak ada jawaban dari Arni sepertinya dia masih marah perihal kemarin, semua abangnya hanya bisa saling pandang.


"Lo kenapa?" tanya bang Rendy sambil menatap Arni namun hasilnya tetap sama Arni tetap sibuk menikmati makanannya seperti tidak ada siapapun di sampingnya.


"Dek," panggil bang Risky namun Arni tetap bungkam.


"Jangan gini dek, kita gak bisa lo diemin kaya gini," ucap bang Revan namun Arni tetap enggan berbicara hingga makanannya habis lalu dia mengambil tasnya hendak berangkat ke sekolah tanpa berkata apapun.


"ARNI!" sentak bang Raffi yang membuat Arni menghentikan langkahnya namun tidak menoleh sedikitpun dan keempat abangnya menatap bang Raffi.


"Lo fikir bagus diemin abang-abang lo kaya gini cuman perihal kemarin," ucap bang Raffi sambil terus menatap Arni yang membelakanginya namun seperti angin lalu Arni langsung saja pergi dari sana.


"Ck!" bang Raffi berdecak kesal karena baru kali ini Arni bersikap begitu biasanya dia marah tidak sampai seharian.


"Lo liat tuh ulah yang lo buat bukan cuman lo yang jadi sasaran tapi kita semua," ucap bang Raffi sambil menatap bang Risky dengan kesal lalu dia sarapan sedangkan bang Risky hanya bisa menunduk.


Sesampainya di sekolah Arni duduk di kursinya dan dia terlihat aneh tidak seperti biasanya, Ratna dan Putri yang merasa heran dengan sikap Arnipun langsung duduk di samping dan di kursi depan Arni.


"Ni' lo kenapa?" tanya Ratna sambil menatap Arni yang terlihat lesu, namun Arni hanya menjawab dengan mengedikkan bahunya dengan malas.


"Ni' pipi lo kenapa kok merah gini? Ada jiplakan tangan lagi," tanya Putri yang sedari tadi memperhatikan Arni yang terlihat aneh.


"Emang keliatan ya? Padahal udah gue tutupin pake make up," ucap Arni sambil bercermin.


"Siapa yang udah berani nampar lo?" tanya Ratna namun Arni hanya mendelik malas.


"Bang Risky," jawab Arni dengan santai.

__ADS_1


"Apa bang Risky?" tanya Ratna dan Putri secara bersamaan.


"Kenapa bisa?" tanya Ratna.


"Dan gara-gara apa?" tanya Putri.


"Gara-gara mak lampir lah siapa lagi coba," ucap Arni.


"Bener-bener kebangetan tuh mak lampir ya, liat aja bakalan gue buat mereka nyesel udah buat lo kaya gini," ucap Ratna dengan berapi-api.


"Udahlah Rat jangan ngebuat semuanya ini jadi tambah rumit," ucap Arni dengan malas.


"Tapi Ni'," ucapan Ratna terpotong.


"Gue tau lo care sama gue tapi pliss banget kali ini jangan buat keadaan makin tambah runyam, sekarang aja gue lagi gak mood buat ngobrol sama abang gue satupun," ucap Arni dengan memohon dan mengatupkan kedua tangannya di depan Ratna.


"Yaudah deh demi lo," ucap Ratna mengalah.


Saat Arni menatap keluar kelas dia melihat seorang cowok sedang berjalan melewati kelasnya entah mau kemana dia dan cowok itu adalah cowok yang kemarin Arni temui di rooftop sekolah yaitu Daniel, Arni yang awalnya seperti tidak bersemangat langsung berdiri dan mengejar cowok itu.


"Arni lo mau kemana?" tanya Putri yang melihat Arni beranjak dari tempatnya dengan terburu-buru.


"Mau kemana tuh anak?" tanya Ratna.


"Tau deh," ucap Putri.


Saat ini Arni sedang mengikuti Daniel yang menuju ke arah rooftop, dia melihat Daniel duduk di tempat pertama kali Arni melihatnya.


"Nih bocah kaya banyak beban aja ke rooftop mulu, tapi gak gue pungkiri sih berada di rooftop itu nyaman," ucap Arni pada dirinya sendiri ketika melihat Daniel yang agak jauh darinya lalu dia menghampiri Daniel dan duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Hay ketemu lagi kita," ucap Arni sambil menatap langit namun Daniel tidak menjawab sama sekali.


"Kenapa sih lo suka kesini?" tanya Arni sambil menatap Daniel namun yang di tatap hanya diam seperti tiada orang lain disana selain dirinya sendiri.


"Wajar sih disini suasananya nyaman banget gue aja sampai ketagihan kesini," ucap Arni sambil menatap Daniel dan tersenyum entah mengapa hanya melihat wajah tampan dengan mata sipit itu membuatnya sangat bersemangat.


°Entah mengapa lo bisa merubah perasaan gue yang awalnya murung menjadi semangat apa gue udah mulai suka sama lo?° batin Arni sambil tersenyum dan terus menatap Daniel, namun saat sedang asik menatap Daniel tanpa sengaja Arni melihat luka lebam yang berwarna keunguan di lengan dan pipi cowok itu.


"Eh, tangan sama pipi lo kenapa?" tanya Arni sambil memegang tangan dan mengelus pipi Daniel yang membuat Daniel merasa terganggu.


"Ck! Lepasin tangan lo dari gue," ucap Daniel dengan dingin yang membuat Arni mau tidak mau harus melepaskan tangannya dari Daniel.


"Sorry, tapi itu kenapa kok bisa sampai lebam-lebam gitu?" tanya Arni berharap Daniel mau menjawabnya.


"Bukan urusan lo," ucap Daniel dingin tanpa menatap Arni sedikitpun.


"Ck! Padahalkan gue cuma nanya, lagian kalau lo jawab nggak akan ngerugiin lo kok," ucap Arni dengan mengerucutkan bibirnya, namun itu tidak membuat Daniel menatapnya cowok itu tetap setia menatap langit dan Arnipun memilih diam sambil menikmati angin sepoi-sepoi di sana.


"Nih plester buat lo," ucap Arni dan memberikan dua buah plester Doraemon kepada Daniel namun cowok itu hanya menatap plester tersebut dengan tatapan aneh.


"Ck! Ini buat luka lo, lagian jadi cowok hobi banget punya luka," ucap Arni dan mengambil tangan Daniel lalu menaruh plester itu di telapak tangan Daniel dan menutupnya.


"Itu plester buat luka di tubuh lo," ucap Arni lalu menatap Daniel.


"Gue pengen deh jadi plester buat lo supaya lo nggak merasakan yang namanya kesedihan," ucap Arni sambil terus menatap Daniel omongannya terlihat serius.


"Lo tau nggak gue pengen banget jadi plester di kehidupan orang lain, menjadi penutup luka dan kesedihan semua orang," ucap Arni mengalihkan pandangannya ke arah langit.


°Tuhan, Arni berharap banget agar Arni benar-benar bisa menjadi plester untuk semua orang termasuk abang-abang Arni, orang tua, sahabat dan juga laki-laki yang ada di samping Arni saat ini entah mengapa Arni ingin sekali mengetahui seperti apa kehidupannya,° batin Arni sambil terus menatap langit tak lama kemudian Arni berdiri.

__ADS_1


"Gue duluan ya jangan lupa di pake plesternya," ucap Arni dan beranjak dari sana dan Danielpun menatap kepergian Arni hingga gadis itu sudah tidak terlihat lagi entah apa yang ada di otak Daniel saat ini lalu Danielpun mengantongi plester itu.


__ADS_2