5 ABANG TAMPANKU

5 ABANG TAMPANKU
PART 15 [FLASHBACK DANIEL]


__ADS_3

Saat ini Daniel sudah berada di dalam kamarnya sambil menatap langit-langit kamarnya sambil mengingat semua yang telah terjadi kepadanya tak lama dia menatap foto keluarganya ada Dion, Lusi, Nira, Daniel, dan Alvian abang dari Daniel dan Nira di dalam sana lalu Daniel mengambilnya dan mengusap foto Alvian.


"Huhh! Abang andai aja abang dulu nggak nekat buat donorin jantung abang buat gue mungkin semuanya akan baik-baik aja bang, ayah mulai berubah sejak lo meninggal bukan cuman ke gue tapi juga sama bunda dan kak Nira," ucap Daniel lalu fikirannya melayang pada kejadian beberapa tahun yang lalu.


-------->


Disebuah rumah yang megah terdapat satu keluarga yang sedang berkumpul disana ada Dion, Lusi, Alvian, Nira dan Daniel.


"Ayah coba liat bagus nggak?" tanya Alvian pada Dion sambil menunjukkan sebuah robot yang dia rakit sendiri.


"Bagus, pinter anak ayah," ucap Dion memuji Alvian yang membuatnya tertawa senang.


"Ayah, ayah coba liat gambaran Daniel bagus nggak?" tanya Daniel yang berharap Dion akan memujinya seperti Dion memuji Alvian.


"Bagus, udah sana," ucap Dion sambil mengusir Daniel, Daniel menjadi murung karena ekspresi ayahnya sangat berbeda jauh saat Dion bersama Alvian dan dirinya bersama Dion.


Alvian yang melihat itu langsung menghampiri Daniel.


"Kamu jangan sedih nih abang kasih robot abang tapi jangan sedih ya," ucap Alvian sambil memberikan robotnya pada sang adik.


----------


Saat ini Lusi, Nira, Alvian dan Dion sedang berada di rumah sakit tepatnya ruang UGD dikarenakan tadi tiba-tiba saja Daniel mengerang kesakitan sambil memegang dadanya.


"Kira-kira Daniel kenapa ya bang?" tanya Nira pada Alvian dengan sedih.


"Udah kita doain aja semoga gak terjadi apa-apa sama Daniel," ucap Alvian sambil memeluk adiknya itu sedangkan Dion hanya menatap interaksi antara kedua anaknya itu dengan malas tiada rasa khawatir yang dia rasakan pada saat melihat keadaan Daniel dia terlihat santai-santai saja seperti tidak terjadi apa-apa.


Lusi melirik Dion Lusi paham betul bahwa Dion tidak merasakan rasa khawatir seperti dirinya namun dia tidak mau ambil pusing karena dia tau bagaimana sikap Dion terhadap Daniel.


Tak lama dokter dan susterpun keluar dari ruangan itu dan menghampiri mereka.


"Dengan keluarga Daniel?" tanya sang dokter sambil menatap mereka satu persatu.


"Iya dok," ucap Alvian dengan cepat.


"Ada apa dengan adik saya dok?" tanya Alvian mereka melihat dokter sempat menghela nafas panjang.


"Begini, saudara Daniel mengalami kerusakan pada jantungnya dan harus segera dicarikan pendonor karena jika tidak maka hal yang tidak kita inginkan bisa saja terjadi," ucap sang dokter dengan serius sedangkan Lusi yang mendengar itu menangis Nira berusaha untuk menenangkannya.


"Kalau begitu saya permisi," pamit sang dokter dan berlalu pergi.


"Sekarang bunda harus gimana nak, dimana bunda bisa dapetin pendonor jantung untuk kamu," ucap Lusi sambil menangis.


"Sabar bun, Pati semuanya ada jalan keluarnya kok," ucap Nira sambil memeluk bundanya itu, Alvian menatap kosong pintu ruangan adiknya itu lalu melihat bundanya.


"Ayah, ijinin Alvi ya buat donorin jantung Alvi buat Daniel," ucap Alvian sedangkan Dion yang mendengar itu jelas saja langsung tidak setuju.


"Nggak-nggak kamu gak boleh berkorban hanya untuk dia, kamu harus tetap hidup dan menjadi kebanggaan ayah," ucap Dion sambil menatap Alvian dengan tajam.

__ADS_1


"Tapi ayah kita mau dapat dimana pendonor jantung secepatnya?" tanya Alvian sambil menatap ayahnya itu.


"Biarin aja, toh ayah nggak terlalu perduli sama dia," ucap Dion dengan santainya.


"Sempat-sempatnya ayah ngomong kaya gitu, di dalam ruangan itu anak kita loh yah kenapa sih ayah selalu membeda-bedakan mereka,"ucap Lusi sambil menatap Dion dengan sengit dia marah, kesal, kecewa bercampur menjadi satu, mendengar ucapan Lusi Dion hanya memutar bola matanya dengan malas.


"Pokoknya Alvi mau donorin jantung Alvi buat adek kalau ayah nggak setuju Alvi akan tetap maksa," ucap Alvian dengan nekatnya yang membuat Dion menjadi naik pitam.


*PLAKK*


Dion menampar Alvian dengan keras.


"Ayah bilang nggak ya nggak kamu ngerti! Nyawa kamu lebih berharga daripada dia nak ayah nggak mau kamu ninggalin ayah pokoknya kamu nggak boleh donorin jantung kamu buat dia," ucap Dion sedangkan Alvian hanya bisa diam dan diam Alvian bukan berarti dia menyerah tetapi dia memikirkan cara agar bisa mendonorkan jantungnya untuk sang adik.


Malam haripun tiba Lusi, Nira dan Alvian masih setia menunggu Daniel di rumah sakit sedangkan ayahnya dia pergi entah kemana.


"Bun," panggil Alvian pada Lusi.


"Apa sayang?" tanya Lusi sambil menatap anak sulungnya itu.


"Alvi mau ngambil baju dulu ya di rumah gerah nih nggak bawa baju ganti," ucap Alvian pada bundanya.


"Yaudah, tapi kamu hati-hati ya ini udah malam," ucap Lusi.


"Oke bunda, Alvi janji bakal balik lagi bawa sesuatu yang berharga," ucap Alvian tak sempat bundanya bertanya Alvian sudah pergi dari sana.


"Sesuatu apa Nir?" tanya Lusi pada Nira.


Sedangkan di tempat Alvian, dia langsung memasuki mobilnya dan pergi dari area rumah sakit dengan kecepatan diatas rata-rata.


"Gue harus bisa donorin jantung gue buat Daniel adek kesayangan gue gimanapun caranya walau harus dengan nyawa gue," ucap Alvian dengan tekad yang sudah bulat saat sudah jauh dari rumah sakit Alvian tidak sedikitpun mengurangi kecepatannya.


"Di depan sana ada pembatas jalan yang tinggi udah di pastiin kalau gue nabrak pembatas jalan itu gue nggak akan selamat tapi semoga jantung gue masih bisa buat Daniel," ucap Alvian dengan mantap lalu menambah kecepatannya hingga kecepatan yang paling maksimal saat sudah mendekati pembatas jalan itu Alvian sempat tersenyum.


"Gue sayang kalian semua," ucapnya dan tak lama.


*BRAKK*


Kecelakaan itupun terjadi bahkan mobil Alvian sempat terguling beberapa kali yang membuat bodi mobil itu seketika remuk tak berbentuk dan jika orang-orang melihat itu mereka yakin bahwa orang yang ada di dalam pasti sudah meninggal.


Sedangkan di rumah sakit Lusi nampak gelisah.


"Bunda kenapa?" tanya Nira yang heran melihat bundanya itu terlihat gusar.


"Nggak tau Nir tiba-tiba bunda ngerasa gak enak tentang abang kamu," ucap Lusi yang masih cemas.


"Kita berdoa aja bun semoga abang nggak kenapa-kenapa," ucap Nira dan Lusi pun mengangguk walau hatinya benar-benar risau.


Tiba-tiba..

__ADS_1


"Permisih-permisih pasien gawat," ucap para suster yang mendorong sebuah brankar dengan terburu-buru orang-orang yang ada disana pun langsung menyingkir tak terkecuali Lusi dan Nira.


Dan betapa terkejutnya mereka saat melihat orang yang ada di atas brankar itu adalah Alvian yang sudah berlumur darah di seluruh tubuhnya bahkan beberapa bagian tubuhnya hancur karena terhimpit mobil.


"Alvian," teriak Lusi dengan histeris.


"Abang," ucap Nira juga lalu mereka mengikuti brankar yang ditempati oleh Alvian terlihat Alvian masih sadar buktinya Alvian masih sempat memberikan senyumannya..


Saat Alvian sudah di tangani oleh dokter mereka di ijinkan untuk menengok Alvian lalu Lusi, Dion dan Nira masuk ke ruangan Alvian.


"Nak, kenapa kamu bisa seperti ini," ucap Lusi yang sudah berderai air mata.


"Iya nak, kamu kenapa sampai bisa nabrak pembatas jalan?" tanya Dion dengan lembut.


"Ayah, bunda, Nira kalian nggak usah khawatir sama Alvi, yang sekarang harus kalian pikirkan adalah Daniel," ucap Alvian dengan parau sambil tersenyum kearah ayah, bunda dan adiknya.


"Bang, cepet sembuh abang gak kasian liat Daniel nanti kalau sadar nggak ngeliat abang di sampingnya," ucap Nira yang juga menangis lalu Alvian mengelus rambut Nira dengan sayang.


"Hidup abang udah gak lama lagi kamu jaga diri ya baik-baik jaga ayah, bunda dan Daniel kamu nggak boleh sedih karena abang, harus tetap jadi Nira yang cerewet," ucap Alvian.


"Nggak bang," ucap Nira sambil menggeleng beberapa kali.


"Alvi udah putusin buat donorin jantung Alvi buat Daniel," ucap Alvian sambil menatap kedua orang tuanya.


"Nggak, ayah nggak akan ngijinin kamu buat donorin jantung kamu," ucap Dion dengan tegas.


"Maaf ayah kalau Alvi ngelawan ayah tapi ini satu-satunya jalan untuk kesembuhan Daniel dan juga waktu aku udah nggak lama lagi," ucap Alvian dengan air mata yang menetes di sudut matanya, dia sedih melihat ayah, bunda dan adiknya ini sedih tapi dia akan merasa lebih sedih lagi jika Daniel yang meninggalkannya padahal dia belum tau saja bagaimana kehidupan Daniel setelah semua ini.


Pukul 05.30 operasi pendonoran jantung Alvian untuk Danielpun telah dimulai semua yang menunggu di luar pun menjadi khawatir apakah akan berhasil atau tidak namun itu tidak berlaku untuk Dion dia tidak merasa cemas akan operasi itu namun dia merasa sedih karena sebentar lagi Alvian benar-benar akan meninggalkannya untuk selama-lamanya.


Dionpun menatap Lusi dengan perasaan yang kesal lalu dia menghampiri Lusi.


"Ini semua gara-gara anak kamu si pembawa si@l itu, Alvian gak mungkin kaya gini kalau bukan karena dia!!" bentak Dion pada Lusi namun Lusi hanya bisa menangis.


"Ayah udah, kita semua lagi khawatir loh kok ayah malah kaya gini," ucap Nira.


"Saya nggak perduli sama anak pembawa si@l itu kalau perlu operasinya gagal aja biar m@tinya cepat!" ucap Dion dengan tegas sambil menatap Nira dengan serius.


"Anak saya di dalam sana cuman buat donorin jantungnya yang nggak seharusnya dia lakuin ohh atau mungkin ini semua gara-gara hasutan kalian hah!" bentak Dion pada Lusi dan Nira.


"Mohon maaf pak dilarang ribut soalnya mengganggu pasien yang lain," ucap perawat yang lewat lalu Dion lebih memilih untuk pergi dari sana.


"Bunda yang sabar yaa," ucap Nira sambil memeluk bundanya itu karena Niralah satu-satunya yang mensuport Lusi untuk saat ini.


Sedangkan di tempat lain Dion duduk di sebuah kursi yang jarang orang-orang lewati {tapi bukan kursi dekat kamar jenazah lohh yaa.}


"Mulai sekarang saya tidak akan pernah mau menerima kamu apalagi jantung anak saya ada di dalam tubuh kamu!" ucap Dion dengan mengepalkan tangannya dengan kuat dia merasa marah namun kecewa pada dirinya karena tidak bisa menjaga Alvian dengan baik.


----->

__ADS_1


Sejak kejadian itu Dion tidak pernah menganggap keberadaan Daniel bahkan jika Daniel mencoba mendekati ayahnya itu yang dia dapat adalah sebuah pukulan bahkan tamparan.


__ADS_2