
Arni turun dari rooftop dengan santainya namun saat sudah dekat dengan kelasnya tanpa sengaja Adelia yang sedang kejar-kejaran dengan teman-temannya menabrak Arni hingga membuat keduanya terjatuh ke lantai, tanpa sengaja juga ada seorang cowok yang melihat itu niatnya dia ingin membantu Arni dan Adelia namun entah mengapa dia urungkan dan lebih memilih untuk menguping dari balik tembok.
"Aww, kalau jalan pake mata bego'," ucap Adelia dengan kesal sambil berdiri sedangkan Arni dia sudah berdiri duluan.
"Eh, mak lampir dimana-mana jalan itu pake kaki ngeliat baru pake mata gimana sih lo," ucap Arni lalu mendelik sebal.
"Ihh! Lo ya," ucap Adelia yang kesal.
"Apa?" tanya Arni sambil menatap nyalang pada Adelia namun tiba-tiba Agnes mendorong Arni dengan kuat sehingga Arni terjatuh dan terbentur ke tembok yang ada di sampingnya.
"Itu hukuman buat lo yang udah sok di depan kita," ucap Agnes sambil menunjuk Arni.
"Sialan lo," ucap Arni yang langsung berdiri dan mendorong Agnes hingga Agnespun terjatuh dengan keras ke lantai.
"Emang cuman lo yang bisa hah! Gue juga bisa," ucap Arni namun dia lupa bahwa di sana bukan hanya Adelia dan Agnes saja tapi ada Tania, Alira dan juga Sinta yang tanpa aba-aba langsung menjambak rambut Arni dengan kuat.
"Arrgghh," erang Arni yang kesakitan.
"Lepasin sialan," ucap Arni.
"Lo berani sama gue dan temen-temen gue hah! Lo gak inget kami siapa! Apalagi gue, lo lupa hah? Gue bisa aja buat abang lo benci sama lo hanya dengan jentikan jari gue ngerti lo!" ucap Tania sambil menyiram Arni menggunakan jus yang dia pegang begitu juga dengan keempat temannya hingga membuat Arni basah kuyup.
"Lo apa gak takut sama kami? Soalnya abang-abang lo lebih dengerin kami loh daripada adeknya sendiri," ucap Sinta dengan senyum miringnya, sedangkan di balik tembok cowok yang tadi menguping itu mengepalkan tangannya dengan kuat.
"Ngapain disini bang?" tanya cowok yang baru datang.
"Ssstt," ucap cowok yang tadi mengisyaratkan agar cowok yang baru datang itu diam dan mendengar semua perbuatan Tania.
"Lo udah tau kan kalau risky abang lo udah gak terlalu percaya sama lo itu tandanya rasa sayang dia ke lo udah berubah dan memudar pindah ke gue ceweknya jadi lo nggak usah macem-macem sama gue," ucap Agnes dengan geram dan menghempaskan rambut Arni yang tadi di jambak dengan kuat hingga terbentur dengan kuat ke lantai, Arni hanya bisa menangis mendengar ucapan Tania dan kawan-kawannya bukannya dia tak bisa melawan hanya saja ucapan Tania dan teman-temannya memanglah benar kepercayaan para abang-abangnya kini sudah memudar sejak mereka berpacaran dengan Tania dan teman-temannya.
"Nangis aja lo gue seneng liat lo kaya gini," ucap Alira sambil menginjak tangan Arni dengan keras hingga terdapat luka yang lumayan besar disana.
__ADS_1
"Makanya lo gak usah macem-macem sama kita, susah sendiri kan lo," ucap Adelia dengan senang.
"Cabut guys," ucap Tania.
"Ayo," ucap teman-temannya, saat pergi Adelia masih sempat-sempatnya menginjak kaki Arni terlebih dahulu dan pergi, Arni hanya bisa duduk bersandar di tembok dengan wajah yang dia telungkup kan di kedua tangannya yang sudah dia lipat di atas lututnya dia menangis sejadi-jadinya hingga sesegukan dia memikirkan para abangnya yang benar memang sudah berubah terlebih Risky seperti sudah tidak menyayanginya karena pacarnya itu.
"Sialan lo semua, lo liat aja gue bakal bikin perhitungan sama lo semua karena udah nyiksa adek gue kaya gini," ucap cowok tadi dengan marah wajahnya sudah merah padam menahan amarah, ya cowok yang tadi mengintip di tembok adalah Revan tadinya dia berniat untuk menemui Arni namun tanpa sengaja dia melihat kejadian tadi.
"Sabar bang jangan gegabah," ucap cowok yang baru datang tadi lebih tepatnya dia adalah Reyhan.
"Apa dia sering diginiin sama mereka?" tanya Revan sambil menatap Reyhan.
"Gue nggak tau bang ini pertama kalinya gue liat mereka kasar biasanya lemah lembut," ucap Reyhan.
"Lemah lembut dengkulmu, lo liat Arni sekarang, nggak becus emang lo jadi abangnya, lo di sekolah selain belajar ngapain aja sih hah! Ngumpul sama temen-temen gak jelas lo itu sampai-sampai lo gak pernah tau kalau adek lo di siksa kaya gini sama cewek lo hah!" ucap Revan dengan marah sambil menatap Reyhan yang menunduk karena abangnya yang satu ini kalau marah dan terus dijawab maka dia akan lebih murka lagi.
"Gue peringatin ya sama lo kalau sampai gue liat kejadian ini lagi apalagi di sekolah gue bakal bikin perhitungan sama lo dan Risky," ucap Revan dan melangkah akan menghampiri Arni namun langkahnya terhenti karena ada seorang cowok yang datang dan menghampiri Arni.
"Karel," panggil Arni yang menangis semakin kencang sedangkan seorang cowok melihat semua kejadian itu dari tangga rooftop ya siapa lagi kalau bukan Daniel.
"Lo kenapa? Ayo berdiri gue bantu," ucap Karel sambil membantu Arni berdiri dan memapahnya ke UKS.
°Siapa dia? Wajahnya seperti familiar° batin Revan yang melihat adiknya di bawa oleh seorang laki-laki ke UKS.
"Lo tenang ya," ucap Karel sambil mengobati luka Arni, Arni memang menangis namun tatapan matanya kosong.
"Siapa yang udah berani giniin lo?" tanya Karel namun Arni tidak menjawabnya.
"Yaudah kalau lo gak mau jawab, tapi lo tenang dong," ucap Karel yang terus membujuk Arni agar kembali tenang.
Sedangkan di kelas sahabat Arni bingung karena bel sudah berbunyi dari 20 menit yang lalu namun Arni tak juga menampakkan dirinya.
__ADS_1
"Arni mana sih?" tanya Putri pada Ratna.
"Mana gue tau," ucap Ratna.
"Apa bolos?" tanya Putri lagi.
"Ya kali Arni bolos lo kan tau sendiri dia bukan tipikal orang yang suka bolos, kalau gini sih jangan-jangan ada apa-apa lagi sama dia gue jadi khawatir," ucap Ratna.
"Bisa jadi sih," ucap Putri.
"Lagi ngomongin Arni ya?" tanya seorang siswi yang duduknya di depan Ratna.
"Iya, emang lo tau Arni kemana?" tanya Ratna sambil menatap siswi itu panggil saja dia Kinara.
"Tadi gue liat sih kayanya dia pulang soalnya habis di bully sama kakak kelas," ucap Kinara sambil berbisik yang membuat Ratna dan Putri yang mendengarnya langsung melotot.
"Di bully?" tanya Putri.
"Sama kakak kelas?" tanya Ratna.
"Iya," jawab Kinara.
"Siapa?" tanya Ratna yang penasaran.
"Biasa queen bully alias Tania dan antek-anteknya" ucap Kinara yang mengetahui itu dari seorang petugas UKS.
"Berani-beraninya tuh mak lampir ngebully Arni," ucap Putri dengan sangat kesal.
"Kayanya kita perlu ngasih mereka pelajaran deh," ucap Ratna sambil menatap keluar jendela sambil berfikir.
"Pelajaran apa?" tanya Putri sambil menatap Ratna dengan bingung namun Ratna hanya diam tidak menanggapi perkataan Putri.
__ADS_1