5 ABANG TAMPANKU

5 ABANG TAMPANKU
PART 5 [MATA YANG INDAH]


__ADS_3

Sedangkan dipertengahan jalan pulang Arni sedang berjalan kaki dengan air mata yang selalu menemaninya di perjalanan pulang.


"Abang jahat, segitu nggak berartinya gue sampai-sampai mereka lupa kalau ada gue yang mesti mereka jaga juga, semuanya gara-gara mak lampir itu awas aja kalau sampai abang gue bener-bener ngelupain gue bakal gue kasih pelajaran mereka, hiks abang sungguh jahat," oceh Arni di sepanjang jalan tanpa dia sadari saat dia menyebrang ada sebuah truk yang melaju dari arah kanan.


*TIN.. TIN..*


Klakson mobil itu terdengar hingga ke telinga Arni hingga membuatnya tersadar dan langsung menutup wajahnya.


"Aaaaa," teriak Arni saat menyadari bahwa mobil itu sudah dekat dengannya namun entah mengapa kakinya terasa sangat kaku hingga dia tidak bisa bergerak dari tempatnya.


"Arni awass," teriak Ratna dari kejauhan yang melihat Arni akan tertabrak mobil lalu dia berlari ke arah Arni yang lumayan jauh.


*BRUK*


"Aww," ringis Arni yang terjatuh di trotoar karena ada seseorang yang menariknya, saat Arni membuka mata ada sepasang mata indah yang menatapnya dengan tatapan teduh dan orang itu tepat di atasnya.


°Damai banget ngeliat tatapan nih orang,° batin Arni sambil terus menatap mata indah berwarna coklat terang tersebut.


°Mata yang indah,° batin seseorang yang menolong Arni itu.


"Arni," ucap Ratna yang sudah sampai di tempat Arni dengan ngos-ngosan, Arni dan seseorang itu langsung tersadar dan berdiri.


"Thanks," ucap Arni sambil menatap seseorang itu.


"Sama-sama, lain kali kalau mau nyebrang liat kanan kiri," ucap seseorang itu.


"Iya, lain kali gue hati-hati," ucap Arni.


"Oiya, nama gue Karel," ucap seseorang itu yang bernama Karel.


"Arni," ucap Arni.


"Kalau gitu gue duluan ya," ucap Karel dan diangguki oleh Arni lalu Karelpun pergi dari hadapan mereka.


"Lo gapapa kan?" tanya Ratna yang terlihat sangat khawatir.


"Gue gapapa kok Rat, untung tadi tuh cowok nolongin gue kalau nggak mungkin tinggal nama gue," ucap Arni sambil membersihkan roknya yang kotor.


"Lagian lo sih ceroboh banget, mikirin apaan sih?" tanya Ratna sambil menatap Arni.

__ADS_1


"Nggak ada, biasalah tingkat halu gue kumat makanya begitu," alibi Arni.


"Yaudah ayo balik gue anterin nanti lo kenapa-kenapa lagi kalau jalan sendiri," ucap Ratna.


"Lo nggak sekolah?" tanya Arni yang melihat Ratna masih menggunakan seragamnya namun sudah berada di jalan pulang.


"Males gue, nggak ada lo nggak ada Putri juga," ucap Ratna lalu mereka bercerita sambil berjalan pulang.


Sesampainya di rumah Arni masuk ke dalam dan mendapati bang Rendy, bang Raffi, dan bang Revan yang sedang duduk santai di sofa ruang tamu, saat Arni membuka pintu mata ketiga abangnya menatapnya namun dia acuh-acuh saja dan langsung duduk di sofa bersama ketiga abangnya.


"Kenapa lo nggak masuk sekolah hari ini?" tanya bang Rendy sambil menatap Arni dengan tatapan yang sulit di artikan, entah mengapa abangnya yang satu ini selalu saja sensi terhadap dirinya.


"Ck! Siapa yang ngadu?" tanya Arni tanpa menatap abangnya itu.


"Tinggal jawab aja sih dek," ucap bang Revan.


"Dari guru di sekolah lo, jawab kenapa lo nggak masuk sekolah," ucap bang Rendy sedikit membentak, bang Raffi yang tadinya sedang sibuk dengan laptopnya langsung menatap Rendy tajam.


"Kalau lo mau nanya bang tanya sama bang Reyhan dan bang Risky, kenapa mereka nggak ngasih tau gue kalau hari ini satu sekolah belajar di luar lingkungan sekolah, asal lo tau bang gue di sekolah kaya orang bego' tau gak," ucap Arni dengan kesal sambil menatap sengit Rendy.


"Emang mereka nggak bilang sama lo?" tanya bang Raffi yang akhirnya angkat bicara.


"Mana ada mereka inget gue lagi kalau udah sama mak lampir itu, yang ada di fikiran mereka itu ya cuman kak Agnes sama kak Sinta," ucap Arni.


"Sesuatu apaan?" tanya bang Revan penasaran.


"Ada deh, kepo aja lo bang," ucapnya dan beranjak ke arah kamarnya, karena dia tau pasti abangnya akan mengintrogasi dirinya.


"Sesuatu apaan? Makanan? Minuman? Tempat? Temen?" tanya bang Rendy sambil menatap kedua abangnya itu.


"Atau jangan-jangan cowok," ucap bang Revan tiba-tiba.


"Huss, apaan sih lo berdua," ucap bang Raffi lalu kembali ke kesibukannya.


Sesampainya di kamar Arni melempar tasnya ke sembarang tempat lalu langsung berbaring di king size nya sambil memeluk guling dan mengingat kejadian bertemu dengan 2 cowok itu yang satu bisa menarik perhatian Arni padahal belum ada 1 cowok pun yang bisa menarik perhatian Arni kecuali Raffa mantannya dulu dan sekarang cowok itu bisa menarik perhatiannya, dan cowok satunya membuat kedamaian di hati Arni melalui tatapan matanya sama seperti tatapan mata Arza yang selalu meneduhkan.


"Aaarrgghh, dua cowok tadi bisa buat gue gila lama-lama, kenapa mereka berdua terus-terusan ada di otak gue kaya kaset rusak," ucap Arni sambil senyum-senyum sendiri dan berguling-guling di atas king sizenya.


"Gue pastiin besok gue bakal ketemu sama cowok yang namanya Daniel itu iya harus," ucap Arni pada dirinya sendiri sambil tertawa.

__ADS_1


"Heh! Lo kenapa ketawa-ketawa sendiri kesambet baru tau lo," ucap bang Revan yang tiba-tiba muncul di depan pintu membuat Arni tersadar dari apa yang dia lakukan.


"Lain kali ketuk dulu kek pintunya bang nyelonong-nyelonong aja lo," protes Arni sambil menatap abangnya itu.


"Lah, ini pintu emang nggak di tutup ya, lagian lo kenapa sih senyum-senyum kaya gitu?" tanya bang Revan sambil menutup pintu kamar Arni dia yakin Arni pasti mau bercerita kepadanya karena hanya dia tempat Arni berkeluh kesah.


"Duduk dulu kali bang," ucap Arni lalu bang Revanpun duduk di samping Arni.


"Buruan cerita," ucap bang Revan.


"Kayanya gue suka deh sama seseorang bang, namanya Daniel dari kelas 11 IPA ³ tadi baru aja gue ketemu sama dia tapi hati gue udah langsung tertarik saat ngeliat dia," ucap Arni sambil tersenyum mengingat kejadian tadi.


°Daniel? Kaya nggak asing gue sama tuh nama,° batin bang Revan sambil mengingat nama itu namun nihil dia tidak mengingat apapun.


"Terus ya bang tadi gue hampir ketabrak mobil," ucap Arni sambil menatap abangnya itu, bang Revan langsung menatapnya.


"Hampir ketabrak mobil? Lo melleng sih, ada yang luka nggak?" tanya Revan menatap adiknya dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Tenang bang, gue di tolongin sama cowok yang namanya Karel, lo tau nggak bang mata dia itu sangat mirip dengan bang Arza mata yang meneduhkan," ucap Arni sambil mengingat saat dia menatap mata teduh itu.


°Jangan-jangan dia..° batin bang Revan sambil menatap Arni dengan intens.


"Ihh, abang kalau di ajakin curhat mah nggak asik bukannya respon kek ini malah diem aja," ucar Arni dengan kesal.


"Ya abang mau bilang apa coba?" tanya bang Revan.


"Tau ah abang nyebelin," ucap Arni sambil melihat arah lain.


"Dek, kamu sangat tau bang Raffi dia nggak akan biarin kamu pacaran sebelum waktunya, jadi abang mohon sama kamu untuk nggak cerita apa-apa ke bang Raffi tentang kamu suka sama cowok atau dekat sama cowok karena abang takut cowok yang kamu maksud bakalan di cari sama abang," ucap bang Revan yang membuat Arni terdiam.


"Untung-untung kalau tuh cowok bukan musuhnya abang tapi kalau iya gimana coba," ucap bang Revan lagi yang membuat Arni mengangguk, memang nggak salah Arni menjadikan bang Revan sebagai tempatnya untuk berkeluh kesah karena bang Revan selalu ada nasehat-nasehat yang bisa diambil.


"Iya juga yah, lo juga jangan bilang-bilang ya bang," ucap Arni.


"Siap bos," ucap bang Revan dan pergi dari kamar Arni.


Setelah bang Revan keluar entah mengapa fikirannya kembali terulang saat dia duduk di bangku SMP kelas 3, dimana dirinya harus kehilangan Raffa karena bang Raffi yang belum mengizinkannya untuk berpacaran..


"Huu," Arni menghembuskan nafasnya dengan lesu.

__ADS_1


"Semua cowok yang mau dekat sama gue semuanya mundur gara-gara kelima abang gue terlebih bang Raffi, bang Revan sama bang Reyhan, tapi lo nggak boleh ngeluh Ni' harusnya lo bersyukur punya abang yang sayang dan selalu ngelindungin lo liat Ratna sama Putri mereka pengen punya abang yang sayang sama mereka tapi nyatanya abangnya malah gak perduli sama mereka malah keseringan main kasar," ucap Arni pada dirinya sendiri.


"Lagian selama lo nggak macem-macem abang nggak akan bertindak yang aneh-aneh kan," ucap Arni lagi.


__ADS_2