5 ABANG TAMPANKU

5 ABANG TAMPANKU
PART 3 [KEPERCAYAAN YANG MULAI LUNTUR]


__ADS_3

Sepulang sekolah Arni langsung duduk di sofa ruang tamu sambil menghilangkan lelahnya akibat melampiaskan kekesalannya dengan pulang jalan kaki tanpa mau di antar oleh abangnya karena dia tidak mau menunggu pasti abangnya mengantar para pacarnya terlebih dahulu lalu menjemputnya kembali itupun kalau mereka tidak lupa.


"Kesel banget deh gue, tuh cewek bener-bener udah mulai kurang ajar sama gue, dengan seenaknya ngancem-ngancem gue mau hilangin gue dari kehidupan abang gue, aarrgghh kesel kesel kesel," ucap Arni sambil memukul-mukul sofa sangking kesalnya.


"Kesel sama siapa lo?" tanya Reyhan yang tiba-tiba sudah ada di depan pintu dan melihat Arni sedang memukuli sofa.


"Sama cewek lo tuh si mak lampir," ucap Arni dengan ketus tanpa ada niat menatap sang abang.


"Kenapa lagi sih kalian heran deh," tanya Reyhan sambil duduk di samping Arni.


"Tau gak sih cewek lo semua itu ngancem gue buat ngilangin gue dari kehidupan kalian gimana gue gak kesel coba, baru jadi pacar aja udah berani ngancem-ngancem apalagi kalau udah jadi istri mungkin bakal dicincang-cincang gue," ucap Arni dengan nafas memburu sangking kesalnya.


"Gak boleh fitnah dek," ucap Risky yang baru datang dan mendengar obrolan Arni dan Reyhan.


"Fitnah apaan sih bang orang jelas-jelas kenyataannya emang gitu kalau nggak percaya tanya aja sama Ratna dan Putri," ucap Arni sambil menatap tajam Risky.


"Tadi kata Tania dia nganter undangan baik-baik tapi kamu malah ngegas sama mereka bahkan nyuruh mereka putusin kami," ucap Risky yang langsung mendapat tatapan nyalang dari Arni sambil mengangguk.


"Lo percaya aja sama cewek kesayangan lo itu jangan percaya gue lagi, kalau perlu bukan cuman lo tapi lo berlima yang notabenenya pacar mereka jangan ada lagi yang percaya sama gue! Kecewa gue punya abang tapi sama aja kaya gak punya, mereka lebih percaya sama orang lain di banding gue," ucap Arni dan berlenggang pergi ke kamarnya tak lupa dengan menghentakkan kakinya terlebih dahulu.


"Lo sih, gue lagi coba nenangin dia lo malah memperkeruh suasana," ucap Reyhan sambil menatap Risky dengan kesal yang di tatap hanya cengengesan.


"Sorry Rey kan yang gue omongin fakta," ucap Risky.


"Lo liat dengan mata kepala lo sendiri nggak?" tanya Reyhan yang mendapat gelengan dari Risky.


"Lo aja gak liat langsung gimana caranya lo mempunyai kesimpulan kaya gitu?" tanya Reyhan lagi yang membuat Risky diam.

__ADS_1


"Ada apa nih tumben lo berdua aja mana Arni?" tanya Raffi yang baru masuk diikuti oleh Revan dan Rendy di belakangnya.


"Tau, tanya aja tuh sama bang Ris kesel gue," ucap Reyhan dan meninggalkan para abangnya.


"Ada apa sih Ky?" tanya Rendy


"Biasalah masalah Tania lagi," ucap Risky.


"Kenapa sih tuh anak gak bisa banget ngerestuin hubungan kita heran deh," ucap Rendy yang sedikit kesal.


"Tau tuh mana pake fitnah-fitnah Tania sama temen-temennya lagi," ucap Risky yang juga ikut-ikutan.


"Gak lama gue kasih pelajaran nih," ucap Rendy.


"Heh! Siapa lo mau ngasih pelajaran ke adek gue hah!" ucap Raffi dengan nyalang menatap Rendy dan Risky.


"Awas aja ya kalau sampai gue liat atau dengar kalian main tangan atau maki-maki Arni kalian berurusan sama gue," ucap Raffi lalu meninggalkan mereka bertiga.


"Emang kita salah?" tanya Risky namun Rendy hanya mengedikkan bahunya.


"Kalian ingat pesan abang soalnya abang kalau ngomong gak pernah main-main," ucap Revan lalu meninggalkan Risky dan Rendy.


Sedangkan di kamar Arni dia sedang memukuli bantal gulingnya sangking kesalnya.


"Aaarrgghh, cewek sialan! Sekarang abang gue beneran udah gak percaya sama gue bahkan mereka nyalahin gue, disaat kaya gini gue gak punya siapa-siapa selain diri gue sendiri," ucap Arni sambil menangis.


"Arni pengen sama mamah dan papah aja mereka gak pernah buat Arni nangis bahkan mereka percaya sama Arni gak kaya abang yang selalu nganggep Arni salah hikss.. hikkss," ucapnya sambil menangis dan memeluk gulingnya tanpa dia sadari Reyhan sudah ada di depan pintu dan mendengar adiknya menangis dia menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Dia kenapa?" tanya Revan dengan berbisik agar Arni tidak mendengarnya.


"Nangis," jawabnya singkat dan meninggalkan kamar Arni kini gantian Revan yang menguping.


"Bang Arza liat sekarang, harusnya bang Arza bawa Arni juga saat itu bukannya malah ninggalin Arni sendiri disini, gak ada orang lain yang bisa kaya bang Arza yang percaya Arni sepenuhnya, mereka jahat bang," ucap Arni menangis sambil memeluk fotonya bersama Arza, ya Arza Atala Putra Adijaya kembaran Arni mereka berbeda 10 menit saja namun dia meninggal 2 tahun lalu karena kecelakaan untuk menyelamatkan nyawa Arni, Revan yang mendengar ucapan Arni hanya bisa menghela nafasnya dengan berat.


"Gue percaya sama lo dek, gak ada yang bisa ngilangin kepercayaan gue sama lo biarpun itu pacar gue," ucap Revan dengan suara yang sangat kecil lalu meninggalkan kamar Arni.


Sore haripun tiba Arni sedang bersantai di kolam renang dengan beberapa cemilan dan segelas jus mangga.


"Arni," panggil Raffi dan ikutan duduk di samping Arni.


"Kenapa bang?" tanya Arni sambil menatap abangnya itu.


"Udah gak marah lagi?" tanya Raffi.


"Yaelah bang kapan sih Arni kalau marah lewat dari 1 hari," ucap Arni sambil memakan cemilannya.


"Syukur deh," ucap Raffi, ya begitulah sifat Arni jika dia marah akan sesuatu hal paling nenangin diri 1 atau 2 jam juga udah baik lagi tapi nggak tau kalau kesalahan yang besar.


"Tapi gak berlaku buat cewek-cewek lo ya bang, biar gimanapun gue gak bisa akur sama mak lampir itu," ucap Arni penuh penekanan.


"Iya-iya abang nggak akan maksa kamu untuk berdamai sama mereka yang penting kamu harus janji sama abang jangan pernah main tangan sama mereka atau sama siapapun itu," ucap Raffi sambil menunjukkan jari kelingkingnya.


"Janji abang," ucap Arni sambil mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking abangnya.


"Anak pintar," ucap Raffi sambil mengelus rambut Arni dengan sayang lalu Arni membalasnya dengan pelukan.

__ADS_1


°Lo nggak akan pernah berhasil buat jauhin gue dari abang-abang gue mak lampir, gue gak akan ngebiarin itu terjadi,° batin Arni di dalam pelukan abangnya.


__ADS_2