
Tak terasa pagi haripun tiba, hari Senin yap hari dimana Arni sangat malas pergi ke sekolah karena harus piket dan upacara bendera yang mengharuskan dia untuk datang lebih awal daripada hari-hari biasanya.
"Arni, udah piket belom?" tanya sahabatnya yang bernama Ratna yang baru saja datang bersama Putri, Ratna adalah sahabat Arni dari SMP hingga SMA sedangkan Putri adalah sahabatnya Arni dari SD sampai SMA jadi udah tau seluk beluknya dari dulu banget.
"Udah dong, anak rajin," ucap Arni sambil memainkan handphonenya.
"Eh, Ni' kenapa sih lo tuh ngizinin abang lo pacaran sama si mak lampir itu sumpah gedek banget gue ngeliat tuh bocah makin bertingkah tau gak sih lo, mentang-mentang gue ini suka sama abang lo," curhat Putri kepada Arni, yap udah dari SMP Putri suka sama abangnya Arni yaitu Reyhan sedangkan Ratna pun menyukai abangnya Arni yaitu Revan Ratna menyukai Revan di karenakan dia sangat suka dengan sifat Revan yang cuek, namun dia tidak pernah memperlihatkan rasa sukanya kepada Revan karena dia tau bahwa Revan pasti lebih memilih Adelia kekasihnya dan juga umur mereka yang lumayan jauh, jadi cukup sahabatnya saja yang mengerti.
"Kenapa lagi lo? Cemburu?" tanya Arni yang tidak beralih dari hpnya.
"Ya menurut lo gimana? Abang lo itu idola gue Ni' gue tuh gak rela kalau sampai dia di sakitin sama si mak lampir itu tau gak," ucap Putri menggebu-gebu
"Ya mau gimana lagi Put abang gue itu udah buta matanya makanya gak bisa liat mana yang playgirls mana yang nggak,, gue udah sering ingetin tapi mereka gak ada satupun yg mau dengerin gue," ucap Arni serius sambil menatap kedua sahabatnya
"Ya mau lo apain juga kalau namanya udah cinta ya bakal tetap teguh sama pendiriannya," ucap Ratna sambil memainkan ponselnya.
"Ya setidaknya kan kita usaha gitu loh, gue kan gak mau kalau ayang beb gue sakit hati," ucap Putri serius
__ADS_1
"Menurut lo kita ini gak usaha, lo kan tau sendiri Put gimana usaha gue buat misahin mereka tapi hasilnya tetap aja nihil, pusing gue," ujar Arni sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Yaudah sih sabar aja, kita usaha juga nggak membuahkan hasilkan jadi ya pasrah aja sihh, kalau emang jodoh ya gak bakal kemanapun kok," ucap Ratna dengan entengnya sambil memainkan handphonenya.
"Lo ngomong enak, nah hati gue gak bisa Ratna," ucap Putri sok melas
"Itu sih lo, biar lo ngemis-ngemis buat dapetin cintanya kalau emang jodohnya bukan sama lo mah sama aja ujungnya," ucap Ratna menatap Putri dengan tatapan malasnya, Arni yang melihat tingkah Putri pun hanya bisa memegang dahinya.
Saat Arni, Putri dan Ratna sedang sibuk mengobrol tak lama Tania bersama dengan gengnya pun menghampiri meja yang di tempati Arni dan sahabat nya.
"Kenapa?" tanya Arni dengan malas sambil menatap Tania dan gengnya dengan malas pula.
"Gue cuma mau ngasih undangan ulang tahun gue, sebenernya sih gue gak sudi ngundang lo bertiga cuma ngotor-ngotorin rumah gue aja tapi berhubung lo itu adeknya cowok gue ya yaudahlah yah sampah dikit ini," ucap Tania dengan angkuhnya sambil menaruh 3 undangan di atas meja yang sudah tertera nama dari Arni, Ratna dan Putri. Arni menatap undangan itu lalu berdiri di hadapan Tania menyamai tinggi Tania.
"Sampah lo bilang? Lo gak merasa gitu kalau lo itu lebih busuk daripada sampah? Buta abang gue milih lo jadi pacarnya!" ucap Arni kesal dengan kata-kata yang di lontarkan oleh Tania, Tania hanya tersenyum sinis.
"Abang lo gak buta dia udah milih orang yang tepat kok tinggal 1 hal aja yaitu nyingkirin lo dari hidup gue sama abang lo!" ucap Tania dengan menekan kata-katanya
__ADS_1
"Nyingkirin gue? Coba aja kalau bisa!" ucap Arni
"Bisa dong apa sih yang gue gak bisa,, bahkan ngebuat abang lo gk percaya lagi sama lo gue bisa kok gampang. Apa lo gak ngerasa sekarang abang lo lagi gak percaya sama lo makanya dia gak mau denger kata-kata yang menjelek-jelekkan gue sama temen-temen gue?" ucap Tania dengan senyuman penuh kemenangan, Arni hanya bisa terdiam sambil menahan kekesalan nya karena apa yang Tania katakan ada benarnya juga bahwa abangnya lebih percaya terhadap orang lain daripada dirinya.
"Cabut guys," ujar Tania memberikan aba-aba kepada teman-temannya untuk pergi dari sana lalu merekapun pergi dengan senyuman meremehkan.
"Sial!" umpat Arni sambil memukul meja kedua temannya hanya bisa terdiam melihat apa yang barusan terjadi.
"Kayanya makin menjadi tuh orang," ucap Putri sambil menatap kepergian Tania dan kawan-kawannya.
"Lo bakal dateng?" tanya Ratna sambil menatap Arni dan Putri secara bergantian.
"Kenapa natap gue? Dateng aja kalau kalian mau dateng gue sih ogah," ucap Arni.
"Gak yakin sih gue kalo lo nggak dateng paling juga abang lo bakal bujuk-bujuk lo supaya mau ikut," ucap Ratna yang memang tau bagaimana sifat para abangnya Arni.
"Aarrgghh, sialan!" umpat Arni sambil mengacak rambutnya sangking kesalnya.
__ADS_1