
Pagi yang cerah terlihat Arni sudah siap dengan seragamnya dan rambut yang di kuncir kuda lalu dia mengambil tasnya dan turun ke bawah untuk sarapan pagi dia menuruni tangga hingga ke lantai satu saat dia akan melangkahkan kakinya ke arah meja makan dia mendengar suara cewek dari arah dapur lalu Arni ke meja makan untuk melihat siapa cewek itu dan saat Arni sudah dekat meja makan dia melihat ada Tania dan kawan-kawannya disana sedang bercanda bersama kelima abangnya.
"Ck! Dasar j@l@ng pagi-pagi udah ada aja di rumah orang," ucap Arni dengan kesal bang Raffi melihat keberadaan Arni yang hanya berdiri di dekat meja makan namun tidak duduk.
"Duduk dek kok berdiri terus," ucap bang Raffi pada Arni.
"Males duduk sama mereka, udah ahh gue berangkat," ucap Arni dengan tampang kesal dan berlalu pergi dari sana.
"Dia kenapa?" tanya Tania sambil menatap bang Raffi.
"Nggak tau, dia dari kemarin begitu," ucap bang Raffi sambil menghela nafas panjang.
°Hahaha, rasain lo emang enak, gimana rasanya? Pasti sakit ya? Pasti kesel, marah aduh puas banget gue, tapi ini belum apa-apa lo liat aja nanti setelah gue beneran nikah sama abang lo gue bakal usir lo sejauh mungkin biar nggak jadi parasit!° batin Tania sambil tersenyum miring melihat kepergian Arni.
Sedangkan Arni dia keluar dari rumahnya sambil mengomel karena merasa kesal akan kehadiran Tania dan kawan-kawan ke rumahnya.
"Ihh! Kesel banget gue gak bisa apa ya sehari aja jangan buat gue kesel gitu, udah gitu abang juga udah tau gue benci banget sama tuh Tania dan antek-anteknya masih aja di bawa ke rumah gak ngeritiin gue banget," omel Arni tanpa melihat kanan kiri.
"Lo kenapa?" tanya seseorang yang membuat Arni terkejut setengah mati bagaimana tidak dari tadi dia mengira bahwa hanya ada dia seorang lalu siapa yang ngomong?
Arni menengok ke belakangnya di sana ada Karel yang duduk di atas motor sportnya.
"Lo ngapain di depan rumah gue?" tanya Arni tanpa menjawab pertanyaan dari Karel.
"Dateng jemput lo lah," ucap Karel.
"Jemput gue?" tanya Arni sambil menunjuk dirinya sendiri kemudian Karel mengangguk sambil tersenyum.
"Udah ayo jangan kaya orang bego' gitu deh," ucap Karel lalu Arni menaiki motor Karel.
"Pegangan ya gue mau ngebut soalnya hari ini kita masuknya cepet," ucap Karel.
"Serah lo deh yang penting sampai di sekolah tanpa kekurangan sesuatu apapun," ucap Arni.
"Oke," ucap Karel lalu menyalakan mesin motornya dan tak lama mereka pergi dari sana tanpa mereka sadari bang Rendy melihat semua itu.
"Cowok itu kan dia, kenapa dia bisa kenal sama Arni? Berangkat bareng lagi," ucap Rendy sambil bertanya tanya.
Sesampainya di sekolah Arni turun dari motor Karel.
"Thanks ya lo udah jemput gue," ucap Arni.
__ADS_1
"Iya, sama-sama," ucap Karel.
"Rel, gue mau ngomong sama lo," ucap seseorang sambil berdiri di samping Karel.
"Kenapa Dan?" tanya Karel sambil menatap seseorang yang tidak lain adalah Daniel.
"Hay kak Daniel," sapa Arni dengan senyuman termanisnya.
"Udah ikut gue," ucap Daniel sambil menarik Karel yang sudah turun dari motornya.
"Duluan Ni', nanti balik bareng gue ya," ucap Karel sambil mengedipkan matanya yang akan membuat semua cewek terpana akan hal itu namun bagi Arni itu biasa-biasa saja karena hatinya sudah terpatri pada Daniel seorang.
"Ck! Orang-orang pada nyebelin deh, mending cari Ratna sama Putri aja deh," ucap Arni dan berlalu dari parkiran itu menuju kelasnya.
Arni sampai di depan kelasnya dia melihat Ratna dan Putri yang sudah duduk manis menunggunya.
"Pagi bestot," ucap Arni memasuki kelas lalu menaruh tasnya di bangku miliknya.
"Pagi, eh gimana-gimana?" sapa balik Putri di barengi dengan pertanyaan.
"Sorry guys," ucap Arni dengan raut wajah sedih.
"Gue nggak bisa ngeyakinin abang gue untuk batalin perjodohannya," ucap Arni sambil menatap kedua sahabatnya itu yang terlihat menghela nafas berat.
"Oo tidak bisa, selama Arni ada disini Arni akan terus menjadi penghalang diantara mereka walau titik darah penghabisan gue jabanin," ucap Arni dengan lantang.
"Nggak akan bisa deh kayaknya Ni', ini bukan soal lo doang tapi juga mereka," ucap Putri.
"Jangan panggil gue Arni kalau gue nggak bisa ngacauin ini semua," ucap Arni.
"Serah lo deh gak bisa di kasih tau emang," ucap Ratna sedikit kesal sedangkan Arni dia menyengir tanpa dosa pada kedua sahabatnya itu.
"Eh, btw Rat kemarin gue liat abang lo sama gengnya di perempatan jalan deket rumah Putri," ucap Arni.
"Tongkrongannya," ucap Ratna.
"Kalau orang lain tongkrongannya di rumah atau markas nah ini di jalan gimana sih padahal orang kaya," ucap Arni sambil geleng-geleng kepala.
"Anak jalanan ceritanya," jawab Putri sambil memainkan ponselnya.
"Tapi abang lo juga ada di sana loh Put," ucap Arni.
__ADS_1
"Abang kita berdua itu nggak kaya abang lo Ni', abang lo itu baik abang kita? Ya lo tau sendiri," ucap Ratna.
"Abang gue kan abang kalian juga sih," ucap Arni.
"Tapi-" ucapan Putri belum selesai Arni sudah memotong pembicaraannya.
"Nggak ada tapi-tapian, pokoknya abang gue abang lo berdua," ucap Arni dengan kekeh.
"Serah lo deh," ucap Putri.
Sedangkan di sebuah ruangan yang terlihat remang-remang hanya di terangi satu lampu yang tidak terlalu terang terdapat 2 orang laki-laki yang sedang mengobrol.
"Lo suka sama dia?" tanya seorang cowok.
"Siapa?" tanya cowok yang satunya.
"Cewek yang tadi bareng sama lo," ucap cowok itu.
"Maksud lo Arni?" tanya cowok yang satunya dan kalian pasti udah tau dong siapa mereka yapss mereka adalah Daniel dan Karel.
"Gue gak tau namanya," ucap Daniel.
"Emm, gimana ya dia cewek yang cantik dan menarik bohong sih kalau ada cowok yang bilang nggak suka sama dia," ucap Karel sambil tersenyum menatap Daniel.
"Jadi lo suka sama dia?" tanya Daniel lagi.
"Iya, emang kenapa lo juga suka sama dia?" tanya Karel.
"Udahlah Rel gue tau lo itu deketin dia ada maksud lain kan," ucap Daniel dengan serius.
"Wow ada apa nih sama brother Daniel kok tiba-tiba ngomong begini," ucap Karel sambil tersenyum miring.
"Jangan jadiin dia korban selanjutnya," ucap Daniel.
"Boleh sih, tapi taruhan dulu sama gue kalau lo bisa jadi pacarnya gue gak akan deketin dia lagi tapi kalau gue yang jadi pacarnya lo gak usah sok care sama dia gimana?" tanya Karel sambil tersenyum miring menatap Daniel.
"Gak, gue gak mau mainin perasaan cewek gue nggak pernah di ajarin untuk itu," ucap Daniel sambil menggeleng dengan kuat.
"Oke kalau lo nggak mau jangan harap gue mau dengerin ucapan lo untuk nggak jadiin dia korban," ucap Karel dengan senyum devilnya.
"Terserah lo," ucap Daniel yang akan pergi dari sana.
__ADS_1
"Lo nggak ngerasa kasian gitu sama dia kalau gue ngerusak dia? Paling ujungnya kalau nggak malu, trauma atau bisa jadi bunuh diri seperti yang sebelum-sebelumnya," ucap Karel sambil tersenyum meremehkan, Daniel yang mendengar ucapan Karelpun berhenti dan berfikir.
"Gue terima," ucap Daniel tanpa fikir panjang yang membuat Karel tersenyum senang.