
Pagi haripun menyambut Arni yang biasanya harus dibangunkan dulu oleh abangnya baru bangun kini gantian dia yang membangunkan para abangnya itu dan dia juga sudah menyiapkan sarapan di meja makan.
"Bang Raff, bangun siap-siap buat ke kantor," ucap Arni sambil mengetuk pintu seperti orang yang melihat setan bukan apa-apa tapi para abangnya ini juga sama sepertinya sangat susah untuk di bangunkan.
"Bang Rev, bangun mandi,"
"Bang Ren, bangun kuliah nggak,"
"Bang Ris, bangun sekolah,"
"Bang Rey, bangun mandi buruan," setelah sibuk berteriak-teriak di depan kamar abang-abangnya lalu dia menuju meja makan menunggu abang-abangnya turun untuk sarapan.
10 menit telah berlalu kelima abangnya baru turun dengan wajah yang fress dan sangat cool menurut Arni namun tak bisa dipungkiri para abangnya itu memang sangat tampan.
"Ayo sarapan," ucap Arni dengan senyum manisnya.
"Lo yang masak?" tanya bang Risky mencoba menahan tawanya karena sepengetahuan mereka Arni tak pernah memasak sekalipun padahal kalau abangnya tidak di rumah hanya ada dia sendiri Arni selalu memasak untuk dirinya.
"Bang Risky," ucap bang Reyhan sambil menginjak kaki Risky dengan kesal.
"Aww, sakit Rey," ucap bang Risky sambil menatap Reyhan.
"Orang kalau udah masak itu dihargain bukannya malah diketawain paham!" ucap bang Revan sambil menatap bang Risky sengit.
"Kaya lo bisa masak aja sih," ucap bang Raffi yang membuat bang Risky cemberut.
"Udah ayo duduk," ucap bang Raffi lagi lalu merekapun duduk lalu Arni mengambilkan makanan untuk para abangnya.
"Ini serius bisa di makan?" tanya bang Rendy yang sukses membuat Arni yang awalnya tersenyum berharap abangnya akan memuji masakannya menjadi cemberut dan tertunduk, bang Reyhan yang melihat itu langsung menyendok makanan bang Rendy dan tanpa aba-aba langsung memasukkannya ke dalam mulut bang Rendy.
__ADS_1
"Rey," ucapnya dengan mulut penuh.
"Makan gak usah banyak cincong lo," ucap bang Reyhan dan memakan masakan Arni saat para abangnya sudah merasakan masakan itu ekspresi mereka kaget bukan main pasalnya masakan yang Arni buat mereka kira rasanya akan asin atau hambar tapi nyatanya rasanya sangat enak gak kalah sama masakan-masakan restoran.
"Ini serius lo yang masak?" tanya bang Raffi menatap Arni.
"Iyalah emang ada siapa lagi di rumah ini selain kita sedangkan tadi kalian masih tidur," ucap Arni yang memakan masakannya juga.
"Gak nyangka gue kalau lo bisa masak kaya gini," ucap bang Reyhan
"Tiap hari aja lo masak buat kita," ucap bang Risky yang memakan masakan Arni dengan lahapnya membuat Arni tersenyum senang.
Arni kini telah sampai di sekolah entah dia yang datang kepagian atau sekolah memang libur karena semua kelas dan ruang guru terlihat kosong tiada kehidupan sama sekali hanya dirinya seorang.
"Ck! Ini sekolah apa kuburan sih sepi banget," ucap Arni yang kesal karena dia sudah menunggu dari 20 menit yang lalu namun tiada tanda-tanda jika para murid akan datang, lalu Arni melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 07:50.
"Harusnya sih udah belajar nih atau jangan-jangan libur ya?" tanyanya pada dirinya sendiri, karena dia bosan diapun memilih untuk berjalan-jalan di koridor yang sangat sepi itu.
"Baru kali ini gue kesini sejuk banget," ucapnya sambil menutup matanya.
*BRAK*
Arni yang sedang menikmati angin sepoi-sepoi itu kaget mendengar sesuatu yang jatuh lalu dia mencari asal suara itu dan dia melihat seorang cowok yang memakai seragam sepertinya sedang mengambil hpnya yang terjatuh, Arni terus saja memperhatikan cowok itu entah mengapa hatinya merasa tertarik pada cowok itu senyum di bibir Arni mulai mengembang lalu dia menghampiri cowok itu.
"Hai," sapa Arni namun cowok itu tak menggubrisnya.
"Emm, kenalin nama gue Arni anak 11 IPA¹, nama lo siapa?" tanya Arni namun cowok itu hanya diam dan sibuk dengan ponselnya sepertinya dia telah membanting ponselnya itu terlihat dari ponselnya yang sudah tidak beraturan dan kaca anti goresnya mengenai beberapa jari-jarinya.
"Tangan lo luka," ucap Arni tanpa fikir panjang Arni langsung menarik tangan cowok itu lalu membersihkannya lalu dia mengeluarkan kotak P3K berukuran kecil dari tasnya lalu mengambil betadin dan menaruhnya di luka cowok itu lalu menutupnya dengan kapas dan plester dengan gambar Doraemon yang sedang tersenyum dengan manis cowok itu hanya terdiam melihat kegiatan Arni itu.
__ADS_1
"Nah udah deh," ucap Arni setelah mengobati cowok itu.
"Lain kali hati-hati," ucap Arni sambil tersenyum dan melihat name tag cowok itu yang bernama DANIEL ATALASKA DIRGANTARA dan dia berada di kelas 11 IPA³ itu terlihat dari lambang yang ada di pundaknya.
"Arni," panggil seseorang dari belakang dan Arnipun melihat orang itu yang ternyata adalah bang Reyhan yang sedang berdiri di dekat tangga.
"Iya bang," ucap Arni dan berlari menghampiri bang Reyhan sedangkan cowok itu hanya menatap kepergian Arni dari sana hingga Arni tak terlihat lagi.
"Sok care," ucap cowok yang bernama Daniel itu lalu melepas plester dari tangannya dan berlalu pergi dari sana.
"Kalian kemana aja sih bang? Dari tadi loh gue nyariin bahkan satu sekolah aja kaya kuburan sepi banget," ucap Arni dengan kesal.
"Sorry, gue lupa bilang sama lo kalau hari ini satu sekolah belajar di luar lingkungan sekolah makanya sekolahan sepi," jawab bang Reyhan dengan cengengesan sedangkan Arni menatap sengit abangnya itu.
"Jangan bilang lo lupa bilang sama gue gara-gara mak lampir itu," ucap Arni yang membuat bang Reyhan hanya terdiam sambil menatap Arni.
"Ck! Kenapa sih kalian semua itu jahat banget sama gue, apa gue udah gak ada artinya lagi ya sampai-sampai kalian selalu aja lupain gue kaya gini," ucap Arni dengan mata yang berkaca-kaca.
"Eh, bukannya gitu Ni' kita gak bermaksud buat lupain lo, ya lo kan tau sendiri gak ada manusia yang nggak punya salah dek," ucap bang Reyhan sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal dia bingung harus ngomong apa karena kejadian ini juga salahnya harusnya dia bilang pada Arni lebih awal.
"Udah ah, kalian semua itu sama. Sama-sama gak pernah inget sama gue apalagi kalau udah sama si mak lampir mana inget lagi kalian kalau punya adek," ucap Arni dengan kesal.
"Yaudah abang minta maaf ya," ucap bang Reyhan mencoba membujuk Arni.
"Udah ah, gue mau pulang," ucap Arni akan meninggalkan bang Reyhan.
"Tapikan pelajaran masih ada Ni' ini baru jam istirahat," ucap bang Reyhan.
"Bodo', biar aja gue alpa hari ini," ucap Arni dan benar-benar meninggalkan bang Reyhan sendiri.
__ADS_1
"Ck! Kenapa gue bisa lupa sih ngasih tau dia," ucap bang Reyhan menyesal lalu meninggalkan lingkungan sekolah.